JEJAK SASTRA MELAYU DI KOTA TIMAH
Diposting: Selasa, 30 Juni 2009 / 17:41:13 | Oleh: annida | Kategori: Jejak Pustaka
Halaman ini diakses sebanyak: 466 kali
Rating: 0
Nydact Siti Sobiroh, Mahasiswi OLYMPIA COLLEGE Jurusan ESOL (English Language as second language)
Sambil
menikmati suasana studi di kota Kuala Lumpur ini, rasanya saya nggak
mau terlepas apalagi tertinggal peluang untuk menyusuri tempat-tempat
yang menjadi peninggalan sejarah kota bekas jajahan Inggris yang indah
ini. Ternyata, meski saat ini Malaysia, tepatnya Kuala Lumpur—sebagai
ibukota negara—banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur modern yang datang
dari budaya luar, eksotisme bangunan klasik juga masih asyik untuk
dinikmati. Mari ikuti perjalanan saya jalan-jalan di Kuala Lumpur, yang
biasa disebut KL, yang juga banyak menyimpan sejarah kebudayaan Melayu,
seperti yang ada di Indonesia.
Dari sungai dan tambang timah
Sebelum menyusuri indahnya kota Kuala Lumpur, mari kita bahas sedikit mengenai sejarah kota ini. Nama kota yang diambil dari gabungan dua kata yang berlainan, yaitu Kuala dan Lumpur, punya arti tersendiri, loh. Daerah ini konon berasal dari dua sungai berlainan arah, Gombak dan Klang, yang kemudian bertemu pada satu sumber. Gabungan dua sungai ini disebut dengan Kuala, dan kondisi sungainya berlumpur. Jadilah orang-orang biasa menyebut daerah ini dengan sebutan Kuala Lumpur.
Bisa
dibilang Kuala Lumpur adalah tempat berkumpulnya banyak etnis dari
beragam bangsa. Cukup wajar, karena Kuala Lumpur pernah dipimpin oleh
raja-raja dari etnis yang berbeda. Bahkan ketika awalnya, raja Abdullah
yang dahulu memerintah Klang memulai usaha eksplorasi untuk mencari
tambang timah di Kuala Lumpur papa tahun 1857, ia dibantu oleh raja
Jumaat dari Luhut dan 87 pekerja keturunan Cina. Inilah awal dari
sejarah Kuala Lumpur yang kemudian berkembang menjadi kota yang maju
dan dinobatkan sebagai ibukota Malaysia atas kesepakatan dari
kesultanan-kesultanan Malaka di semenanjung Malaka sejak tahun 1896.
Oya,
Kuala Lumpur dan sekitarnya juga pernah mengalami banjir besar di tahun
1881, yang mengakibatkan banyak bangunan yang rusak berat. Namun
pembangunan kembali segera dilakukan oleh Frank Swettenham. Sayangnya,
proses penataan kota kembali inipun tak lepas dari pertumpahan darah
karena ada banyak bangunan yang dianggap bersejarah oleh bangsa
Malaysia yang harus dihancurkan karena kerusakan yang berat tersebut.
Gurindam Dua Belas di Muzium Negara
Bicara
masalah karya sastra, bisa dibilang Malaysia punya sejarah kesusatraan
yang sama dengan sejarah kesusatraan Indonesia. Nggak heran kalau ada
beberapa karya sastra Indonesia yang juga terdapat di Malaysia. Seperti
halnya yang terjadi pada naskah kuno Gurindam Dua Belas karya Raja Ali
Haji. Kalau teman-teman berkunjung ke Kuala Lumpur, teman-teman pasti
akan menemui naskah ini di Muzium Negara (Museum Negara) Kuala Lumpur.
Eits,
jangan dulu berburuk sangka kalau Malaysia mengambil warisan karya
sastra Indonesia, ya! Penulis dari Gurindam Dua Belas yaitu Raja Ali
Haji, memang dikenal sebagai Bapak Sastra Melayu. Karyanya ini berisi
pesan moral yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits ketika itu. Ketika
karya itu hadir pada abad ke-18, ajaran Islam memang tengah
giat-giatnya dipelajari oleh para elit kerajaan Melayu yang tersebar
mulai dari wilayah Aceh, Riau, Palembang, Kalimantan, Kuala Lumpur,
Selangor, sampai Singapura. So, nggak usah heran bila Gurindam Dua
Belas ini dikenal di negara Malaysia, Singapura, bahkan Brunei
Darussalam. Pun kalau naskah dari karya sastra ini juga ada di beberapa
negara di Asia Tenggara. Hayoh, Sobat Nida kenal nggak dengan karya
sastra ini?
Nah, di
Muzium Negara kita nggak cuma bisa menemukan Gurindam Dua Belas.
Bangunan yang khas istana Melayu tradisional ini juga menyimpan banyak
informasi yang sayang untuk dilewatkan, khususnya mengenai sejarah
kehidupan dan kebudayaan bangsa Malaysia yang berasal dari etnis Cina,
India dan Melayu. Di depan pintu masuk museum ini, kita akan disambut
oleh dua lukisan dinding besar. Lukisan-lukisan ini punya makna
sendiri, yaitu menggambarkan sejarah kehidupan bangsa Malaysia di masa
lalu dan kesenian kerajinan tangan orang Malaysia.
Muzium Negara
didirikan pada tahun 1888 sebagai Museum Selangor. Namun pada Perang
Dunia II, bangunan ini hampir musnah akibat gempuran bom. Tak lama
setelah Malaysia merdeka, bangunan yang hampir hancur ini kembali
dibangun dan pada tahun 1963, museum ini menjadi Museum Nasional atau
Muzium Negara. Oya, kalo Sobat Nida ingin mengambil gambar di dalam
museum, lapor dulu ke petugas ya!
500 Naskah Asal Cirebon
Setelah
ke Muzium Negara, ada baiknya kita ke Islamic Art Museum Malaysia
(IAMM) alias Musem Kesenian Islam Malaysia. Loh, kok museum lagi? Eits,
museum ini nggak kalah indah dan menarik untuk dikunjungi kok. Nggak
percaya?
Masih
dengan bangunan yang berciri khas Melayu, tapi agak lebih modern,
dengan taman yang indah nan luas, bangunan ini sering dikunjungi oleh
mahasiswa Muslim yang tengah belajar di Malaysia. Bisa dibilang Islamic
Art Museum memang telah menjadi pusat studi Islam. Nah, daya tarik
museum ini adalah dari fungsinya itu sendiri. Di tempat ini, kita bisa
belajar sejarah kebudayaan Islam dan perkembangannya. Bukan hanya Islam
di Malaysia yang dibahas, tapi kebudayaan Islam dan kemajuannya di
negara-negara lain, termasuk Islam di Indonesia.
Informasi
tentang sejarah kebudayaan Islam di Indonesia ini mudah sekali ditemui.
Nggak heran, karena museum ini menyimpan sekitar 500 naskah dan
benda-benda kuno asal Cirebon! Wow!!! Ketika saya juga mencoba
menanyakan pada petugas mengenai naskah-naskah tersebut. Menurut
petugas, 500 naskah yang menerangkan Islam di kota wali tersebut memang
sudah dibeli oleh pemerintah Malaysia dan disimpan di IAMM. Kali ini
sobat Nida boleh marah atas kenyataan di atas. Namun perlu diingat
bahwa kesadaran masyarakat dan pemerintah Indonesia dalam menjaga benda
peninggalan sejarah masih sangat rendah. Saatnyalah kita para generasi
muda Indonesia untuk bumbata (buka mata buka telinga) pada benda-benda
sejarah yang menjadi warisan kekayaan budaya bangsa tercinta agar
kelak, kita juga dapat melestarikan peninggalan leluhur kita. Setuju,
kan?
Bangunan tua di tengah kota
Setelah jalan-jalan ke berbagai Museum yang sarat dengan peninggalan naskah kuno yang menjadi bukti sejarah perjalanan literasi Malaysia di Kuala Lumpur, tempat-tempat asyik lainnya juga bisa sobat Nida kunjungi. Karena Kuala Lumpur adalah ibukota negara, sebenarnya nggak sulit menemukan tempat wisata yang menarik di sini. Sebut saja ada Petronas Twin Tower alias Menara Kembar Petronas. Bangunan setinggi 425 meter ini memang menjadi ikon baru Malaysia, khususnya kota Kuala Lumpur. Keberadaan menara pencakar langit ini menunjukkan kemajuan ekonomi yang tengah dicapai malaysia saat ini.
Namun, selain bangunan modern seperti Petronas dan sejenisnya, Kuala Lumpur juga punya kawasan kota tua seperti di Jakarta loh. Ini terlihat dari struktur bangunannya yang nggak berubah sampai saat ini. Coba tengok Bangunan Sultan Abdul Samad, bangunan yang dibangun oleh Inggris (tepatnya oleh Charles Alfred Norman, salah seorang arsitektur Inggris) nuansa klasik khas British (karena ini peninggalan Inggris memang) masih terasa. Saat ini, bangunan Sultan Abdul Samad digunakan sebagai Mahkamah Tinggi Wilayah Persekutuan (Pengadilan Tinggi). Bangunan ini juga menjadi saksi sejarah kemerdekaan rakyat Malaysia dari belenggu penjajajahn Inggris. Sekali waktu kita bisa bebas mengunjungi tempat ini sekadar untuk berpose dengan latar kubah besar ini kok!
Tak jauh dari bangunan Sultan Abdul Samad, nuansa klasik juga akan kita temui di Masjid Jamek juga Stasiun Lama di Kuala Lumpur. Berada di Stasiun Lama Kuala Lumpur akan mengingatkan kita pada Stasiun Kota di Jakarta. Hm, pokoknya meski bangunannya tua, tapi tetap memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Jadi sangat sayang bila melewatkan kesempatan untuk bertandang ke tempat ini!
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




