Putu Wijaya: Kisah-Kisah Petualangan yang Menipu

Diposting: Senin, 04 Januari 2010 / 18:13:53 | Oleh: annida | Kategori: Inspirasi

Halaman ini diakses sebanyak: 386 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Siapa tak mengenal sosok sastrawan, budayawan, dan dramawan yang satu ini? Topi pet yang selalu bertengger di kepalanya menjadi salah satu ciri penampilan pria kelahiran Tabanan, Bali, 11 April 1944 ini. I Gusti Ngurah Putu Wijaya alias Putu Wijaya-sapaan akrabnya, memang selalu khas, sehingga secara penampilan dan karya ia selalu mudah untuk dikenali oleh jagat seni, sastra, dan budaya Indonesia.

Sebagai contoh, Putu Wijaya dikenal dengan cerpen-cerpen dan novel-novelnya yang bersifat absurd dan penuh filosofi hidup yang dapat menjadi perenungan. Dalam berteater, ia mengaku menggunakan konsep yang disebutnya teror mental: karya yang harus terus menghantui dan dibayangkan oleh para penontonnya seolah-olah pertunjukan tersebut adalah pertunjukan yang paling berkesan. Perawan Desa, Kembang Kertas, serta Ramadhan dan Ramio yang ditulisnya yang Berjaya di Festival Film Indonesia.

Dari banyak karyanya tersebut, Putu Wijaya mengaku bahwa karya-karya yang dihasilkannya tak lepas dari pengalaman kepembacaannya; membaca kehidupan, membaca fenomena, dan membaca karya-karya besar terdahulu. Mau tahu buku apa saja dan siapa tokoh sastrawan yang pernah sangat menginspirasi peraih piala Citra Festival Film Indonesia tahun 1980 dan 1985 ini dalam berkarya? Berikut Annida sajikan bocoran bacaan yang pernah membuat Putu Wijaya terkesan.

 

Saya ini predator buku sejak lama, bahkan sejak saya belum bisa membaca, saya menyukai buku-buku. Ayah saya; I Gusti Ngurah Raka, yang mengenalkan pada saya sebuah bacaan. Beliau banyak memberikan buku-buku bermutu bagi perkembangan otak saya. Kegiatan membaca di rumah saya sudah menjadi kegiatan yang amat biasa.

Kalau ditanya buku-buku apa yang paling membuat saya terkesan, tertawa, sedih, bahkan jengkel, sesungguhnya banyak. Saya bingung menyebutkannya, saking banyak buku yang rasanya ingin saya sebutkan. Ingat, saya predator buku sejak kecil. Sudah ribuan buku yang saya baca. Saya juga bukan pemilah-milah bacaan, semua bacaan saya baca, saya lahap sampai tuntas. Ibaratnya, buku-buku yang kata orang "berbahaya", "nakal", dan "tak pantas" untuk dibaca, tak luput dari perhatian saya. Dan, saya baca!     

 

Tapi kalau boleh saya sebutkan salah satunya, bolehlah buku-buku karya Karl Friedrich May saya sertakan. Hampir semua buku karya Karl May sudah saya baca. Mulai dari karyanya yang paling fenomenal seperti Winnetou sampai Kara Ben Nemsi, saya suka. Dari buku-buku Karl May lah sejak kecil saya bermimpi untuk menjadi petualang sepertinya. Setelah membaca buku-bukunya-lah saya terus bermimpi untuk bisa menjelajah banyak tempat di dunia ini. Dan, saya bersyukur karena impian masa kecil saya di kemudian hari menjadi kenyataan.

Menurut saya, karya-karya May bukan saja mengajak pembacanya untuk mengembara jauh di tempat-tempat asing di dunia ini. May juga piawai dalam memotret kehidupan dan budaya masyarakat yang menjadi objek tulisannya, sehingga pembaca mendapatkan informasi yang utuh tentang kondisi sebuah masyarakat yang pernah dikunjunginya.

Tapi sungguh, saya pernah sangat kesal dengan May. Waktu kecil, saya membayangkan bahwa sosok May ini sudah mengunjungi bagian Barat Buffalo, New York, yang menjadi setting Winnetou. Tapi setelah besar sedikit saya baru tahu bahwa saya tertipu! Saya baru tahu bahwa saat menulis kisah petualangan Old Shatterhand tersebut, dia belum pernah bertemu dengan orang Indian bahkan belum pernah mengunjungi daratan Amerika. Alamak, telak saya ditipu oleh si May!

Itulah mengapa saya anggap May sebagai salah satu penulis cerdas yang pernah dimiliki dunia karena ia telah berhasil membodohi-bila tak ingin disebut membohongi-umat manusia di dunia ini. Saya yakin, orang yang pertama kali membaca Winnetou menganggap May ketika itu sudah sangat menguasai rimba Amerika Utara. Kecerdasan dan kecermatannya dipadu dengan imajinasi liarnya berhasil mengantarkan pembaca pada penggambaran utuh tentang bangsa Apache.    

Saya juga menyukai karya-karya William Saroyan. Bukan saja karya-karya sastranya yang saya pelajari darinya, tapi beberapa naskah drama yang pernah ditulis oleh penulis berkebangsaan Amerika-Armenia ini, pernah saya baca juga. Mungkin orang lebih banyak tahu saya hanya menyukai The Human Comedy dari karya-karya William Saroyan. Padahal, saya juga penikmat trilogy Armenia yang dibuat olehnya. Sekali lagi, karena saya menyukai kisah-kisah petualangan. Bahkan petualangan yang "menipu" seperti cerita Karl May yang saya paparkan tadi.

Yang terpenting, seorang penulis seharusnya tak membatasi diri pada bacaan tertentu. Untuk bisa menghasilkan tulisan yang dalam, ia bukan saja harus menggunakan kekuatan intuisinya, namun juga pada kekuatan membaca. Kalau imajinasi adalah amunisi penulis dalam membangun tulisan-tulisan, maka membaca merupakan modal penulis sebagai penunjang dalam menghidupkan cerita-ceritanya. [nyimas]

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :