Sketsa Bidadari
Diposting: Senin, 21 Desember 2009 / 16:15:30 | Oleh: annida | Kategori: Info Buku
Halaman ini diakses sebanyak: 402 kali
Rating: 0
Judul : Sketsa Bidadari
Penulis : S. Tary
Peneerbit : Lingkar Pena Publishing House
Tahun terbit : November 2009
Bagaimana rasanya jika seumur hidup tidak pernah mengenal atau menatap wajah ibu kandung sendiri?
Itulah nelangsa yang dirasakan Nawang. Sejak kecil ia hanya tahu sosok yang kerap dipanggilnya “nenek”, tanpa tahu ibu atau ayah. Sang nenek senantiasa berkata bahwa ibu Nawang adalah seorang bidadari, ia selalu menengok Nawang di rumah tepi telaga itu kala bulan purnama tiba.
Dulu Nawang percaya, sangat percaya, hingga ia menjadi bahan ejekan seluruh temannya, kecuali Nuni. Akan tetapi setelah ia tumbuh remaja, dongengan bahwa ibunya adalah bidadari makin terasa seperti isapan jempol belaka. Namun demikian, ada satu hal yang mengganjal di hati Nawang, mengapa setiap kali ia menyapukan kuas di atas kanvas, selalu raut wajah wanita itu yang terlukis. Wajah yang asing, tapi terasa sangat akrab. Siapa wanita itu?
Kebingungan Nawang makin membuncah, ketika suatu hari ia menemukan selembar foto yang ditaruh di tempat tersembunyi oleh sang nenek, foto seorang wanita yang biasa muncul dalam tiap lukisannya! Apakah wanita itu ibunya?
Di tempat lain, seorang wanita bernama Wulan tengah dirundung nestapa. Sebagai wanita simpanan, ia tidak memiliki kekuatan untuk menuntut Prambudi agar lebih perhatian padanya, tidak sekedar memberinya “sangkar emas” dan kemewahan hidup. Wulan terluka karena ditelantarkan, terlebih ketika belasan tahun yang lalu Prambudi menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan. Wulan menolak! Ia diam-diam melahirkan putrinya, dan menitipkan pada Bi Patmi untuk membesarkan anak itu di villa tepi telaga. Wulan berniat untuk membocorkan hubungan gelapnya bertahun-tahun dengan Prambudi itu kepada Ratih, istri sahnya.
Lalu bagaimana ketika Nawang kemudian berkenalan dan akrab dengan Melati, putri dari Prambudi dan Ratih yang juga sama-sama mewarisi bakat melukis dari ayah mereka!
Dapatkah Nawang menerima kenyataan bahwa ia bukanlah anak dari seorang bidadari? Bisakah Nawang memaafkan masa lalu ibunya? Bagaimana kemudian hubungan antara Nawang dengan Melati?
Novel ini digarap dengan cukup unik karena menggunakan dua sudut penceritaan secara berselang-seling, ada bab yang menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu sebagai Nawang, dan bab selanjutnya menggunakan sudut pandang malaikat, khususnya ketika menceritakan mengenai Wulan dan emosi hatinya.
Ketika membaca novel ini, pembaca yang sudah banyak melahap kisah-kisah dalam novel lainnya mungkin akan mudah menebak kemana alur ceritanya akan mengalir, tapi dengan pemakaian gaya bertutur yang berbeda di tiap babnya, novel ini jadi punya perbedaan. Apalagi ada kejutan yang dilakukan oleh tokoh Ratih dalam kisah ini, yang dapat membalik paradigma berpikir kita, tentang betapa mulianya kasih seorang wanita, seorang istri, juga seorang ibu.
Baca sendiri deh, semoga bisa ngebikin tambah sayang sama sosok ibu, dan semakin paham dengan makna memaafkan! [Syamsa]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




