Kaca Untuk Matamu
24 Jan 2012 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 4059 kali
Januari 2010.
Sore itu kau begitu semangat keluar dari toko berdinding kaca. Tangan kecilmu tak lepas dari kacamata berbingkai emas. Engkau berlenggak-lenggok penuh gaya memamerkan kaca mata barumu. Aku tahu engkau senang sekali. Aku juga senang meski aku tahu, bingkai itu bukan emas. Sudah berkali-kali aku katakan itu bukan emas asli, emas warna yang tidak cocok untuk anak-anak. Akan lebih baik kau pilih biru, kuning, pink atau warna lain yang lebih imut. Engkau telah menolak saranku dari jauh hari, engkau ingin warna emas. Terserah.
* * *
September 2009.
Aku menuntun motorku hati-hati memasuki rumah. Mengambil lap dan memasukkan mantel ke bawah jok. Kulihat gadis kecil itu masih sibuk mengancingkan baju seragam putihnya. Hari ini hari Senin, ada upacara bendera di sekolahnya. Nama panjangnya Melani, bukan Meilani atau Meylani, ia bukan lahir bulan Mei tapi bulan Juni, panggilannya Mela. Kulihat ia begitu kesulitan memasangkan kaitan dasi yang sudah rusak, intinya dasi yang setiap kali ia gunakan pasti akan tersangkut lama di leher, karena kaitan plastiknya sudah rusak. Aku tidak bisa menjahit, jadi kuberikan saja peniti kecil padanya untuk mengganti kaitan plastik yang rusak. Sayangnya itu bukan solusi yang baik. Hampir setiap hari ia pasti mengalami tragedi, kaitan dasi dari peniti itu sungguh sulit dipasangkan dan juga sulit dilepaskan. Pengait besi nan tipis itu berhasil mengerjai Mela setiap pagi, kasihan sekali gadis kecil itu. Ckckck.
Siapa peduli bajunya jadi jelek karena goresan peniti, bodoh sekali mengulang tragedi peniti setiap pagi. Aku sudah hilang kesabaran untuk memarahi, aku sudah muak dan bosan. Kini aku sudah terbiasa menyaksikannya sibuk dengan lilitan dasi menyebalkan itu. Kubiarkan saja.
“Cepat!” kataku tegas.
“Iya,” dasi itu berhasil terpasang, kurang rapi karena sedikit tergesa. Bergegas ia mengambil posisi di jok belakang, kubonceng untuk berangkat sekolah.
Ia anakku, baru kelas 5 SD. Ia anak yang tidak pintar tapi rajin, jujur rajin sekali. Aku sedikit heran, aku tahu IQ-ku sekitar 120. Tapi entahlah, menyebalkan sekali rasanya memiliki anak rata-rata seperti Mela, kadang tidak nyambung diajak ngomong. Tapi tak apalah, toh ia anak yang rajin dan tidak nakal.
Sepuluh tahun ini aku benar-benar berusaha sekuat tenaga menahan segala jerih hidup yang tiada terperi. Betapa teganya cintaku, Maya, meninggalkan aku dengan seorang bayi merah yang aku sangat jijik melihatnya. Kau tahu? Ia seperti anak tikus, merah, pipih dan ringkih. Aku bahkan tidak berani menyentuhnya selama beberapa minggu.
Aku frustasi, Maya mati ketika melahirkan bayi yang sama sekali tidak pernah kami harapkan kehadirannya. Sudah kukatakan aku akan menikahinya, aku bersumpah! Aku bilang padanya untuk menggugurkannya saja. Ia setuju. Namun memasuki minggu ke dua ,Maya berubah, ia jadi pendiam. Ia tidak bicara padaku, kerjanya hanya menangis saja. Kemudian ia memutuskan untuk membatalkan pengguguran bayinya. Murka ayahnya tak digubrisnya, ia memilih pergi dan tinggal bersamaku dan memaksa akan melahirkan.
Kau tahu, Maya adalah cintaku, cahayaku, jantungku, darahku, nafasku dan hidupku. Ia gadis yang menyenangkan, pintar dan sangat mengerti aku. Kami memang salah, kedekatan itu telah membuat kami salah langkah. Seharusnya sore itu kami ikut Didit ke labolatorium, tapi aku menahannya untuk sebentar menemani aku.
Oktober 2009.
Di sebuah sore,
“Pak…”
“Apa?” Aku terkesiap, obeng di tanganku jatuh ke lantai.
”Kaget ya, pak?”
”Kamu ngagetin aja.” Tuduhku.
“Hari ini ada PR Bahasa Indonesia. Mela diajarin ya.” Pintanya lembut dengan senyum manis terukir di wajahnya yang bulat.
“Bahasa Indonesia ,kan, gampang.” Kataku sambil menata obeng kecil-kecil dalam wadah kotak bekas biskuit.
”Yang ini agak sulit, Pak...” Dahinya sedikit berkerut. ”Yang ini lho pak...,” Ia bergegas mengambil tas sekolah dan mengeluarkan sebuah buku tulis lusuh. Aku sungguh tak suka melihatnya, melihat tas Mela, buruk sekali. Sungguh.
Rambutnya tidak teratur, sudah siang, pulang sekolah rambutnya memang demikian, berhamburan dari kuncirnya. Mela mengeluarkan sebuah buku besar yang sudah lusuh. Ia mulai mengeja,
“Ep...ep…pa….pak….Am…am...Amin..Pak..A..min.”
“Me..mem…bel….membeli…”
“Kan….kan…gu..uuuuung….”
Kau tahu, inilah hal yang paling menyebalkan tinggal bersama anak bodoh yang sama sekali tidak menuruni gen-ku. Seingatku Maya gadis yang pintar, aku juga tidak ingat mana dia ntara kakek nenekku yang berotak bebal.
Maya, wajahnya oval, hidungnya mancung dan matanya sipit. Ia cerdas, beberapa kali mewakili kampus untuk lomba debat ilmiah, beberapa kali mendapat juara untuk karya tulis ilmiah. Tulisannya dimuat beberapa kali di koran ibu kota. Ia kritis dan tajam dalam menganalisis. Tidak buruk, bukan? Ialah Maya, yang kemudian menjadi istriku. Kesepian dan tiada perhatian, membuatku menjadi raja yang berbahagia. Aku berhasil merebut hatinya, awalnya hanya teguran ringan, karena kutahu ia adalah tipe gadis cuek yang tidak banyak lelaki sudi berdekatan dengannya.
Sejak hari itu, kami dekat. Ia curahkan segala beban dan penderitaan hidupnya. Ayahnya keras tanpa ampun, ibunya terlalu sibuk ke luar negeri dan pulang sebulan sekali. Ia tertekan, ia sendirian, ia butuh bantuan. Sumpah, aku sungguh mencintainya, tak ingin melepaskannya, tak ingin kehilangannya. Ternyata penolong itu adalah aku. Dan pada akhirnya penghancur itu juga adalah aku. Jadilah, seorang gadis kecil di depanku ini sebagai ”barang peninggalan” Maya yang terakhir.
Tapi gadis kecil ini mempermalukan aku di depan kalian. Ia berwajah bulat, bermata bola dan berhidung kecil, ia berotak tapi tidak penuh. Mendengarnya membaca membuatku ingin muntah. Andai bisa aku ingin lari dari rumah dan sedikit menenangkan diri ke club seperti dulu. Lihatlah matanya begitu dekat dengan buku, nyaris tak ada jarak. Kampungan sekali!
“Pak..Amin..membel..li..kan..kan...” Kutarik buku lusuh itu, aku penasaran sekali dengan kata yang gagal ia baca.
“Kangkung, bodoh! En dengan ge dibaca eng.. Ingat, eng. Ini dibaca kangkung. Baca seperti itu saja lama sekali.” Aku mendengus kesal.
“He..he…” seperti biasa, umpatanku dibalas dengan senyuman malu-malu, wajahnya sama sekali tanpa dosa, padahal bila ia sadar, dosanya sudah begitu besar!
39 Komentar :
Subhanallah... keren..!
Goresan yang bercerita ini mampu menyentuh lembut banyak hati. Melihat komentar-komentar di atas, sepertinya hampir semua orang terinspirasi. Semoga cerpen ini membawa berkah bagi penulis dan pembacanya. Amin!
Saya jadi ingat waktu saya belum memakai kacamata. Waktu itu saya masih kelas tiga SD. Nilai ulangan saya selalu jeblok gara-gara keliru menulis soal yang ditulis di papan. Padahal hitungan saya benar, tapi soal yang saya tulis salah. Dan ketika saya mencoba melihat sol milik teman sebelah yang saya rasa lebih mudah dijangkau oleh mata saya, saya malah dimarahi karena dikira menyontek.
Semakin tersadar untuk semakin mensyukuri apa yang dititipkan. Merawat dan menjaganya. Sebelum diambil kembali oleh pemilik yang sebenarnya
wida....
teman smunaqosah, sekelasku, sebangku, seiler di atas meja pojok kanan paling depan deket ust. Nanto.....
kamu hebaddddd...aku senang..
begitu banyak kenangan kita...
nanti buatkan cerpen tentang kita ya...(kita..gt loh...)
Suprayetno
Cerita yang bagus sekali, membuat hati terenyuh.
Jadilah manusia yang bisa menghargai sesuatu masalah dan pahamilah.
Siti Wulandari
selamat ya wid, udah bisa menghasilkan sebuah karya yang luar bias. smga tdak lama lagi impian seperti andrea hirata akan jadi kenyataan.
Isi Komentar :




