Cerpen

Karena Pengorbananku Pasti Akan Berbuah Manis

Sejak kecil dia sudah terbiasa hidup sederhana. Baginya kemewahan adalah sebuah hadiah yang tidak mungkin ia dapatkan walau hanya dalam khayalan saja. Walau begitu dia tidak pernah merasa sedih dan gundah gulana. Hidupnya selalu riang gembira, bermain, bercanda bersama dengan teman-teman kecilnya. Gadis kecil itu terlampau kurus untuk anak seusianya. Namun bibit-bibit kecantikan sudah ada di

Penantian Dalam Hujan

Rintik hujan tak lagi sehebat beberapa jam lalu. Ia bermetamorfosa menjadi derai lembut yang masih setia membasahi bumi. Membekaskan jejak-jejak basah yang bergulir di sepanjang permukaan tanah. Tak ada tanda-tanda makhluk berlalu lalang di bawah hujan. Jangankan manusia atau binatang malam, dedaunan pun seakan ingin sembunyi di balik dahan pohon, Menghindari rinai yang membuatnya tertunduk

Senja Di Langit Biru

Malam itu bulan nampak indah menyerupai potongan buah semangka. Sinarnya menerobos jendela menerangi ruangan di mana Senja berada. Listrik padam sejak pagi, dan Senja belum cukup cerdas untuk mengetahui mengapa sering terjadi pemadaman listrik di desanya. Ia hanya tahu bahwa saat listrik padam, ada lilin yang bisa digunakan untuk menerangi rumah kecilnya. Juga sinar bulan tentunya, itupun kalau

Gara-Gara Bau Amis

Satu bulan sudah kami menempati rumah baru. Sejak menjadi istri mas Faiz setahun lalu, aku masih tinggal bersama mertua. Barulah setelah suamiku yang seorang wartawan dimutasi ke daerah, kami pindah rumah. Kehidupan kami sangat bahagia meski belum dikaruniai anak. Cintaku kepada mas Faiz bak gayung bersambut dengan sikap romantisnya. Sebelum ngantor selalu ada ciuman yang mendarat di pipi. Saat

Minan Tidak Percaya Kebetulan

Sudah beberapa hari ini, ku lihat Minan Zul gusar. Ia terus menyapu lantai rumah. Ia juga berulang kali mengepel lantai. Ia menggoreskan kapur di bawah pintu atau di sudut-sudut lantai. “Kulihat rumah kita beberapa hari ini banyak didatangi semut, Ria!” ujar Minan Zul. “Banyak remah-remah berserakan barangkali, Nan?” aku lupa kalau Minan Zul perempuan