Membakar Terompet

Diposting: Selasa, 12 Januari 2010 / 10:15:05 | Oleh: annida | Kategori: Galeri

Halaman ini diakses sebanyak: 318 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Oleh: Joni Ariadinata



Marilah kita berandai-andai, jika judul cerpen “Terompet Tahun Baru” yang menjadi bintang pada galeri Annida kali ini kita ganti menjadi “Terompet Kertas yang Terbakar”, atau “Terompet Hujan di Tahun Baru”, apakah terjadi?

Maka yang terjadi adalah sebuah revolusi makna yang serentak menyergap pada benak pembaca. Maka yang terjadi adalah bentangan makna yang tiba-tiba menjadi luas dan menyimpan misteri. Maka yang terjadi adalah terbuka luasnya penafsiran yang menantang pembacanya untuk berpikir. Maka yang terjadi adalah: kreativitas dari penulis cerpen tersebut langsung terukur sejak dari awal.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Jawabnya adalah, karena judul “Terompet Tahun Baru” adalah sebuah judul yang telah selesai, sebuah judul yang sudah sedemikian akrab dan umum. Maka ketika pembaca membaca judul tersebut, reaksi pertama adalah sikap yang  pasif, tak ada tantangan kreativitas yang membuat pembaca terkejut (harap diingat, pembaca tengah menghadapi karya sastra di mana sikap awal dari rata-rata seorang pembaca sastra adalah bersiaga terhadap kejutan-kejutan kreativitas).

Maka pilihlah judul yang menyimpan tenaga kreatif, pilihlah judul yang aktif memancing pembacanya untuk menafsirkan makna yang lebih luas, pilihlah judul yang tidak terlalu sering dipakai secara umum sehingga kesannya menjadi tidak biasa. Jika dari awal pemilihan judul seorang penulis sudah berani menunjukkan pemilihan yang berbeda, maka pembaca sudah bisa mengukur kapasitas yang dimiliki oleh penulis. Tentu saja, saran semacam ini, terutama diperuntukkan bagi penulis pemula. Sebab bagi penulis yang memang sudah dipercaya kualitasnya, persoalan judul kadangkala tidaklah begitu penting. Kita lihat misalnya pada Ramadhan KH yang memberi judul novelnya Keluarga Permana. Meskipun judul yang dipakai penulis ini sangat biasa, tapi karena pembaca sudah sangat percaya dengan kapasitas Ramadhan KH sebagai seorang sastrawan yang berkualitas, maka persoalan judul bagi Ramadhan KH tidaklah begitu dipersoalkan. Bahkan pemakaian “judul biasa” pada karya Ramadhan KH, bisa dianggap sebagai bagian dari kreativitas yang memang telah diperhitungkan oleh penulisnya.

Itu baru judul. Bagaimana dengan pembuka? Bagaimana dengan tema?  Bagaimana dengan alur? Bagaimana dengan bahasa? Bagaimana dengan teknik-teknik yang lainnya? Jika dari awal pemilihan judul saja, sang penulis pemula sudah kehilangan kreatifitas, apakah pembaca bisa diyakinkan ketika kemudian meneruskan pembacaan selanjutnya? Itulah yang saya katakan bahwa kreatifitas seorang penulis harus sudah bisa diukur sejak dari pembacaan awal sebuah judul.

Baiklah, kita berandai-andai lagi, andaikata sang penulis pemula ini tetap meyakini bahwa penggunaan judul “Terompet Tahun Baru” adalah hal final yang memang pilihan terbaik. Maka tugas berat dari penulis ini selanjutnya adalah meyakinkan pembaca bahwa pemilihan judul yang biasa itu adalah benar-benar bagian dari kreativitas yang memang sudah dipilih secara matang (seperti halnya pemakaian judul biasa yang digunakan oleh sastrawan yang telah mapan). Bagaimana cara meyakinkannya? Tentu saja lewat persyaratan yang telah dikemukakan di atas, yakni mencermati pembuka cerita, mencermati alur, karakter tokoh, serta tema unggul yang dipilih.

Kita lihat bagaimana penulis kita memulai pembuka cerpennya, dalam kutipan berikut: “Tahun baru kurang seminggu lagi. Sebagai penjual poster-poster dan kalender di pinggir trotoar, Slamet pusing, karena hingga detik ini, ia belum punya modal untuk kulakan kalender-kalender terbaru. Apalagi, kalender-kalender lama yang seminggu lagi dinyatakan kadaluarsa itu masih numpuk, banyak yang belum laku. Sebagian yang lain terpajang lusuh menghiasi trotoar dekat pasar kota.”

Membaca judul “Terompet Tahun Baru”, kemudian dilanjutkan dengan membaca pembuka cerpen yang (ternyata) tidak istimewa (dengan bahasa bercerita yang miskin metafora), maka bagi pembaca yang sudah memiliki pengalaman baca sastra yang memadai akan langsung menyimpulkan keraguannya tentang kualitas cerpen ini. Judul serta pembuka, tidak begitu meyakinkan sebagai cerpen yang layak untuk diteruskan dibaca. Bagi pembaca yang tabah, barangkali akan meneruskan bacaannya sambil berharap akan menemukan kejutan-kejutan kreatifitas pada bagian berikutnya. Akan tetapi bagi pembaca yang kurang tabah, dan menginginkan bacaan dengan standar kreativitas yang tinggi sejak dari awal, maka ia akan dengan segera menghentikan bacaannya, dan mencari bacaan lain yang lebih menarik. Nah, bukankah itu sangat disayangkan?

Jelas bahwa pemilihan judul “malam Tahun Baru” (jika ditinjau kemudian dengan pembuka cerita yang ternyata sangat biasa ini) bukanlah pilihan judul berdasarkan kreativitas seperti halnya Ramadhan KH memilih judul Keluarga Permana untuk novelnya. Akan tetapi semata-mata karena kurangnya pemahaman soal kreativitas dalam pemilihan bahasa.
Baiklah, karena saya adalah pembaca yang tabah, maka saya akan melanjutkan pembacaan cerpen ini dengan harapan menemukan unsur-unsur lain yang akan menyelamatkan cerpen ini dari penilaian sebagai cerpen yang tidak berhasil. Pilihan selanjutnya, adalah mencermati tokoh.

Tokoh dalam cerita, diciptakan penulisnya untuk mewakili penulis dalam menyampaikan pandangan-pandangan, ide, serta kegelisahan-kegelisahannya dalam memandang sebuah persoalan. Begitu penting kedudukan tokoh dalam cerita, karena ia adalah magnet, daya tarik yang mengikat cerita menjadi sebuah dunia yang hidup. Karena tokoh dalam cerita masing masing mewakili ide, dan untuk mewujudkan ide pokok diperlukan benturan-benturan perbedaan yang kelak akan menghasilkan sebuah kesimpulan, maka diperlukan pembedaan-pembedaan nyata dalam bentuk karakter. Karakter-karakter tokoh inilah yang akan menjadikan dunia cerita menjadi menarik.

Lalu apakah saya kemudian menemukan karakter ideal yang diimpikan melalui cerpen ini? Ternyata kembali saya harus menunda harapan. Ada tiga tokoh sentral dalam cerita kawan kita ini, yakni Slamet (kepala keluarga), Wati (istri Slamet), dan Dede (anak tunggal dari pasangan ini), yang masing-masing ketiganya tidak memiliki karakter yang mandiri. Ketiga tokoh ini nyaris tidak memiliki ciri kecuali perbedaan-perbedaan dialog yang dipinjamkan oleh penulisnya untuk kebutuhan menyampaikan amanat. Ada beberapa cuplikan dialog yang berisi perbedaan pandangan dalam memandang masalah, yakni antara Slamet dan Warti ketika mereka mendiskusikan soal poster-poster perempuan seksi yang tengah laku dijual, dan diam-diam Warti ingin meniru tapi Slamet tidak setuju. Andaikata Warti tetap dengan keinginannya (dari awal hingga akhir tak berubah), bahkan dibuat dua tokoh itu selalu bertengkar hebat (bila perlu sampai membakar terompet yang susah payah dibuat oleh Slamet), barangkali tokoh dalam cerpen ini masih memiliki harapan. Tapi karena kebutuhan tokoh hanyalah alat pengarang untuk semata-mata membedakan dialog, maka harapan akan menemukan karakter tokoh dalam cerpen ini menjadi sia-sia.

Bayangkanlah jika rentetan peristiwa dari cerpen ini kita rubah dengan (misalnya), sebagai berikut: Slamet dan Warti adalah suami istri yang selalu bertengkar soal dagangan mereka. Slamet ingin tetap dengan pendiriannya menjual gambar-gambar poster yang baik meskipun tidak laku, tapi Warti selalu ngotot ingin menjual gambar-gambar poster perempuan seksi supaya laku dan cepat kaya. Ketika Slamet menemukan ide membuat terompet dari gambar-gambar poster yang tak laku, Warti semakin meradang dan mengatakan bahwa menjual terompet yang hanya bisa dijual satu kali setahun (menjelang tahun baru) tidak akan pernah membuat kaya. Warti membakar terompet-terompet itu, dan Slamet menyelamatkan beberapa terompet yang tersisa, dan tetap menjualnya ketika malam tahun baru. Karena keyakinan orang-orang bahwa pada tahun baru akan terjadi kiamat, dan jalan-jalan menjadi sepi, maka Slamet pulang dengan tangan hampa. Warti tersenyum dengan penuh kemenangan.

Nah, itulah yang dinamakan karakter. Dua karakter berbeda, yang dibenturkan dalam satu persoalan, kemudian menghasilkan kesimpulan alamiah di benak pembaca tanpa harus adanya indoktrinasi berupa amanat atau nasihat yang sengaja diselipkan oleh penulis. Sebab demikianlah yang memang harusnya dilakukan oleh seorang penulis karya sastra. Pelaku-pelaku harusnya dibiarkan menjadi dirinya.

Hal lain yang cukup mengganggu ketika membaca cerpen ini, adalah pengaitan keyakinan akan terjadinya kiamatyang digarap dengan logika yang tidak kuat. Sehingga terkesan bahwa pengaitan persoalan kemiskinan pasangan Slamet dan Warti, dengan berita isu tentang kiamat yang bakal terjadi di penghujung tahun, hanyalah berupa tempelan lantaran kebingungan penulis dalam mengakhiri cerita. Bayangkanlah seorang tokoh bernama Slamet, yang dari awal tidak digambarkan memiliki kecerdasan seperti seorang mahasiswa, bisa berkata seperti kutipan berikut: “Itu kan cuma ramalan saja. Tak usah dipercaya lah, War. Bisa syirik nanti kalo kamu percaya ramalannya orang Yahudi yang kurang kerjaan itu. Mereka memang punya misi agar umat Islam di dunia ini pecah belah dan kacau balau. Nggak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa tahu kapan kiamat itu akan terjadi, hanya Allah yang tahu.”

Slamet, seorang pedagang kakilima, pastilah punya bahasa yang lebih pas dalam menyikapi isu tentang kiamat. Tapi karena Slamet hanyalah alat dari penulis yang ingin terlihat cerdas dalam mengungkapkan ide dan amanat, maka yang terjadi kemudian adalah pemaksaan-pemaksaan dialog, pemaksaan-pemaksaan peristiwa, yang membuat cerpen ini (sebagai karya sastra) dinilai kurang berhasil.

Yogyakarta, Januari 2009





Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :