Bintang-bintang Gemerlapan
Diposting: Senin, 03 Agustus 2009 / 17:22:46 | Oleh: annida | Kategori: Galeri
Halaman ini diakses sebanyak: 410 kali
Rating: 0
Joni Ariadinata
Yazmin Aisyah menuliskan kisah yang tragis dari kehidupan seorang bintang. Kehidupan artis ternama, kehidupan yang bergelimang dengan materi, serta kebahagiaan dunia yang menjadi impian jutaan orang: terkenal, cantik, dan kaya. Karena Yazmin menuliskan kisah ini dalam bentuk cerpen, dan sebuah cerpen tak akan seru tanpa sebuah konflik yang kejam, maka dibuatlah konflik yang cukup kejam dengan mengawinkan tokoh utama dengan kakak kandungnya sendiri. Menikah dengan kakak kandungnya sendiri!
Konflik terbukanya aib sedarah itu kemudian dibuat (sayangnya) dengan teknik serba kebetulan. Kebetulan aib itu terkuak oleh pers bahwa Pingkan (nama tokoh utama artis terkenal itu) adalah anak haram yang tidak jelas bapaknya, kebetulan pers akhirnya tahu bahwa ayah suami Pingkan sesungguhnya adalah ayah Pingkan! Karena ayah suami pingkan adalah ayah Pingkan, maka pastilah suami Pingkan (yang adalah anak dari ayah Pingkan itu), adalah saudara sekandung.
Dalam cerpen ini, kebetulan-kebetulan dibuat jalan gampang dengan meminjam tangan informasi dari wartawan. Kenapa disebut jalan gampang? Karena penulis (dalam cerpen ini) tidak perlu susah-payah untuk membongkar sendiri hubungan "aib" antara kakak kandung dan adik kandung melewati sebuah peristiwa, akan tetapi cukup menginformasikan saja secara langsung bahwa "dia adalah anak haram", kemudian, "dia menikahi kakak kandungnya", serta informasi lain yang sifatnya langsung.
Kelebihan dari informasi yang sifatnya langsung, adalah sampainya cerita dengan mudah, gampang dipahami, dan langsung jelas pada kesimpulan cerita yang sesuai dengan yang dikehendaki penulis. Kekurangannya, karena sifatnya hanya informasi, maka hilanglah sebagian kekuatan terpenting dalam cerita, yakni keterlibatan emosi pembaca yang mampu menggerakkan empati. Apalah jadinya sebuah cerita tanpa melibatkan emosi?
Sedikit beruntung karena dalam cerpen Yazmin ini informasi "kebetulan" hanyalah pendukung dari sebuah peristiwa besar yang akan menjadi tema utama. Meskipun, tentu saja jika faktor ebetulan ini bisa diminimalisir (atau barangkali dihilangkan dan diganti dengan teknik lain yang melibatkan tokoh secara langsung) akan membuat cerpen ini jauh lebih kuat. Kenapa? Karena semakin banyak kebetulan yang ditemukan dalam sebuah tulisan, pembaca kritis akan menganggap penulisnya tidak memiliki kemampuan yang kuat secara teknik, sehingga dengan gampang mengambil jalan pintas yang kebanyakan dihindari oleh para penulis.
Peristiwa pokoknya adalah tragedi setelah aib tokoh utama terbongkar, yakni jatuhnya gemerlap bintang menuju pada kesunyian. Sang Bintang terpaksa mengasingkan diri ke perkampungan, melepaskan diri dari keriuhan-keriuhan dunia pertunjukkan, film, serta kemewahan pesta. Kejaran wartawan yang mengobrak-abrik kehidupan pribadinya, membuka aib yang dialaminya yang nyaris setiap hari menjadi berita, telah melukai harga dirinya. Perceraian yang kemudian terjadi dengan suaminya (yang juga kakak kandungnya), serta niat untuk melindungi anaknya yang terlanjur tumbuh di rahimnya, membuat derita serta keputusan pasti untuk berhenti menggeluti dunia artis. Tokoh utama kembali ke jalan agama, mengenakan jilbab lebar, serta menutup diri dari dunia luar.
Persoalan kemudian terjadi, yakni saat tabungannya mulai menipis, dan ia memerlukan uang cukup banyak untuk pengobatan rutin anaknya yang sakit. Kemudian datang tawaran untuk kembali tampil di televisi, yakni menjadi juri pada pemilihan bakat para remaja yang bercita-cita menjadi bintang. Merasa cukup lama waktu yang ia habiskan untuk bersembunyi, yaitu sepuluh tahun, dan berharap wartawan serta orang-orang sudah lupa dengan kisah aib yang pernah menggerekan itu, maka ia pun menerima tawaran untuk kembali tampil. Pada saat inilah tragedi dari puncak klimaks cerpen ini ditulis, yang sekaligus menjadi penutup yang tragis dan cukup menghentak. Tokoh utama meninggal dengan tragis saat dikejar-kejar puluhan wartawan (yang ternyata tidak peduli, dan terus ingin mengorek sisi kelam dari kehidupan masa silam). Dalam beberapa adegan tambahan (saat tokoh utama terpaksa kembali tampil untuk menjadi juri pemilihan bintang remaja di televisi), disebutkan pesan penting dari penulis bahwa, tidak setiap dunia gemerlap adalah kebahagiaan.
Cerpen ini ditulis dengan teknik flash back, yakni dimulai pada adegan ketika tokoh utama ditawari untuk kembali tampil menjadi bintang setelah sekian tahun bersembunyi, kemudian ditarik ke masa lalu pada adegan sejarah kenapa sang bintang bersembunyi, dan berakhir pada adegan kini ketika pada akhirnya tokoh utama dimatikan oleh penulis secara tragis. Tak banyak keistimewaan yang patut disebutkan, selain dari tema serta pengemasan alur yang menarik.
Dalam cerpen ini, penulis cenderung untuk menempatkan diri pada seorang pengkisah (penutur) dari sebuah dongeng, sehingga tidak terlalu banyak menggarap karakter serta bahasa. Tokoh-tokoh dideskripsikan (baik melalui pemaparan, maupun dialog), semata-mata hanya untuk memperlancar terjadinya peristiwa yang dikehendaki pengarang. Teknik penulisan dengan semata-mata mengejar pada sampainya tema dengan baik ini, memang memiliki keunggulan, yakni menggiring pembacanya untuk secara mudah mencerna dan menikmati cerita, tanpa harus berupaya memberi kesempatan terhadap tafsir yang lebih mendalam. Pembaca sangat dimudahkan, lebih-lebih ditopang dengan bahasa yang nyaris tanpa kedalaman (minim metafora), di mana bahasa semacam ini memiliki tafsir tunggal yang memang gampang diikuti.
Untuk tujuan kelancaran sampainya cerita dengan menarik, gaya penulisan Yazmin Aisyah ini memang sudah cukup menjanjikan. Akan tetapi sangat disayangkan jika kemampuan merakit tema cerita yang sedemikian menarik ini, hanya sampai di titik ini semata. Kenapa sangat disayangkan? Karen Yazmin (dalam cerpen ini) sudah mulai menampakkan dirinya untuk memilih posisi menulis karya yang berpretensi pada sastra serius. Bahasa Yazmin, meskipun minim eksplorasi (baik dari segi keindahan maupun kedalaman), tapi tidak terjebak pada penggunaan bahasa yang enteng (basasa slank atau bahasa populer). Yasmin sudah berada pada ambang penggunaan bahasa yang cukup baik, hanya saja, sekali lagi perlu pendalaman lebih lanjut untuk bisa memahami bahasa sebagai bagian dari emosi yang tak terpisahkan dari seorang penulis ketika menuliskan sebuah tema. Bagaimanakah cara agar Yazmin bisa memahami bahasa sebagai bagian dari emosi yang tak terpisahkan dari diri seorang penulis? Tak ada jalan lain kecuali banyak latihan membaca dari karya-karya yang memiliki keindahan bahasa, dari karya-karya yang ditulis oleh para penulis yang telah diakui kebesarannya.
Ada banyak penulis yang abai pada persoalan penting ini, sehingga tulisan-tulisannya sangat susah dibedakan antara satu dengan yang lainnya.Tema bisa saja sama, tapi teknik penggarapannyalah yang membedakan kualitas yang satu dengan yang lainnya. Demikian pula untuk Yazmin, ada banyak penulis yang bisa menyampaikan ide tulisan dengan lancar, akan tetapi amat sulit menemukan sebuah tulisan lancar yang memiliki karakter. Maka persoalan Yazmin selanjutnya (setelah bisa menulis dengan lancar) adalah: temukan karakter.
Selamat membaca.
Lampiran movie tidak tersedia.
Posting Sebelumnya
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




