Preview Film Garuda di Dadaku

Diposting: Minggu, 05 Juli 2009 / 09:36:35 | Oleh: annida | Kategori: Event

Halaman ini diakses sebanyak: 208 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

 

Ifa Isfansyah : Sepakbola Indonesia Masih Menjadi Daya Tarik!

Apa yang menarik dari persepakbolaan Indonesia saat ini? Mungkin hampir tidak ada, selain kerusuhan antar suporter yang selalu mewarnai akhir pertandingan tim-tim yang berlaga. Namun demikian, euforia dan minat masyarakat pada olahraga yang berasal dari Inggris ini, tak pernah surut. Bahkan, seperti halnya musik, sepakbola juga dipercaya mampu menjadi alat pemersatu bangsa, di mana ia mampu menyatukan semua kalangan: tua-muda, miskin-kaya, pintar-bodoh.


 Nggak heran kalau banyak karya yang terinspirasi pada dunia sepakbola Indonesia yang pernah berpartisipasi di ajang Piala Dunia tahun 1938, salah satunya film. Setelah Romeo-Juliet, liburan kali ini kita kembali disuguhkan film yang menyoal tentang dunia sepakbola; Garuda di Dadaku. Bedanya, Garuda di Dadaku dapat dinikmati oleh banyak kalangan, utamanya anak-anak.


Garuda di Dadaku produksi Mizan Production dan SBO ini berkisah tentang seorang bocah laki-laki usia 12 tahun; Bayu, yang bercita-cita masuk tim nasional Indonesia untuk kategori anak. Sayangnya, niat ini ditentang habis-habisan oleh kakeknya; Kakek Usman. Kakek Usman tidak menyukai semua hal yang berkaitan dengan sepakbola. Alasannya, dulu, sang anak (ayah Bayu) pernah menjadi pemain nasional sepakbola. Sebuah kecelakaan dalam pertandingan menyebabkan ayah Bayu cacat seumur hidup. Kakek Usman tak ingin kejadian yang menimpa anaknya terulang pada Bayu. Namun, karena kecintaannya pada sepakbla, Bayu, dibantu oleh dua sahabatnya Heri dan Zahra, serta Bang Dullah (sopir pribadi Heri), tetap berusaha mewujudkan impiannya. Beragam tantangan dan hambatan mewarnai jatuh-bangun perjuangan Bayu.


 Menurut Ifa Isfansyah saat preview film GdD di Jakarta (2/6), film ini tidak hanya menghibur, tapi mengandung banyak nilai tentang persahabatan, keluarga, dan semangat nasionalisme. Haru, biru, menggugah, juga kocak, jadi satu. Komplit deh!


"Film ini memang film keluarga yang sarat pesan moral. Tapi bagaimana pesan itu dapat dibaca jelas oleh penonton tanpa menggurui menjadi tantangan bagi saya saat menggarap film ini," tutur sutaradara muda asal Yogyakarta ini.


Sementara soal sepakbola yang menjadi tema film besutannya, kata Ifa, adalah daya tarik yang mudah dikenali oleh masyarakat. Ifa menilai, kondisi persepakbolaan Indonesia yang minim prestasi merupakan momen yang tepat untuk menumbuhkan semangat para pemain untuk meningkatkan performa mereka.


Daya tarik lain dari film ini adalah akting natural para pemainnya. Meski banyak bertabur bintang cilik pendatang baru, namun Ifa mengaku bahwa mereka mudah diarahkan. Apalagi Emir, pemeran Bayu, memang penggila bola sejati. Dia juga jago bermain bola dan salah satu klub sekolah bola ternama di Jakarta. Begitupun dengan lakon yang dimainkan pemain-pemain senior yang terlibat di dalamnya seperti Ikranagara, Maudy Koesnaedi, dan Ramzi.


"Feel semua pemain dapet banget, semuanya pas sesuai ramuan," pungkas Ifa.
 Penasaran? Filmnya sudah edar di seluruh bioskop di Indonesia sejak 18 Juni 2009 lalu kok! [nyimas]

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :