Pinangan Orang Ladang Dibedah di Kandang

Diposting: Minggu, 05 Juli 2009 / 09:35:11 | Oleh: annida | Kategori: Event

Halaman ini diakses sebanyak: 148 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Pinangan Orang Ladang Dibedah di Kandang

SETELAH melanglang buana di kota-kota besar, akhirnya "Pinangan Orang Ladang" singgah jua di kampung halaman penulisnya di Padang. Adalah buku kumpulan puisi perdana Esha Tegar Putra yang diluncurkan dan dibedah di beberapa kota di pulau Jawa; Jakarta, Bogor, Bandung, Jogja, Solo. Kamis (11/6) lalu, launching sekaligus bedah karya mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Univeritas Andalas itu berlangsung di ruang seminar Fakultas Sastra Unand. Pembicaranya Dosen Jurusan Sastra Unand, Fadlillah Malin Sutan Kayo dan Fadli Akbar, kritikus sastra dan wartawan.

"Pinangan Orang Ladang" terbitan Frame Publishing Yogyakarta berisi 76 puisi Esha Tegar Putra yang mayoritas pernah dipublikasikan di koran lokal dan nasional, jurnal, internet, dalam kurun waktu 2006-2008. Dua pembicara membedah buku dengan mata pisau yang berbeda. Fadlillah mengungkapkan, dalam buku puisi tersebut si penyair berusaha memintal alam pada kata, dan pada kata itu terhimpun alam kehidupan sebagai suatu puisi. Bak hidangan rendang, rasa tak terceritakan tetapi hanya dapat dirasakan.

"Alam apakah itu tentang orang ladang, sejarah sosial budaya apa yang tertoreh dan tidak mungkin terhapuskan di dalamnya? Di negeri metafor (baca Minang), orang ladang tersembunyi dalam satu kehormatan, dia bukan orang luar, tetapi dijadikan keluarga (dikenal dengan istilah malakok), kemenakan di bawah lutut, diberi tanah untuk berumah, diberi sepetak ladang atau sawah, jika dia sudah berkembang dan hendak menegakkan kaum maka dibasahi tanah dengan darah kerbau untuk diberi gelar penghulu, duduk sama rendah tegak sama tinggi, dibawa sehilir semudik, " ungkap Fadlillah.

Sementara menurut Fadli Akbar, beberapa puisi Esha itu telah memperlihatkan bagaimana puisi itu sendiri berusaha melawan hegemoni modernitas. Tidak dengan cara yang langsung, tapi dengan cara yang tenang dan menyakitkan.

Beberapa pertanyaan pun muncul dari berbagai kalangan. Rusli Marzuki Saria, penyair gaek Sumatra Barat yang telah banyak menghasilkan buku puisi dan pernah mengelola halaman sastra di salah satu koran di Sumbar ini menyatakan, bahwa si penyair lihai mempergunakan idiom-idiom kampung tempat di mana ia berproses. Di bagian lain Rusli bilang, banyak sekali getitik-getitik kecil yang menarik dalam buku kumpulan puisi tersebut.

Hadirin seperti Ragdi F. Daye, S. Metron M, Deddy Arsya mengimbuhkan, selayaknya pembicara bisa lebih tajam lagi membedah buku tersebut. Khususnya menyangkut formula yang diracik penyairnya sehingga "alam metafor" yang diistilahkan oleh pembicara tersebut bisa dibangun dengan baik. Selain itu beberapa penanya juga mengkritisi tentang posisi penyair, atau sastrawan di Sumbar di balik banyaknya karya-karya dari penulis yang notabene muda tapi minim sekali apresiasi atau pembahasan.

Selain bedah buku, tak ketinggalan beberapa dosen dan mahasiswa yang biasa berinteraksi dengan si penyair membacakan puisi-puisi dalan buku tersebut. Noni Sukmawati, salah seorang dosen mengungkapkan ini adalah bentuk apresiasi dan semangat bagi Esha Tegar Putra agar terus berkreasi dan menghasilkan karya-karya yang lebih baik. (Est/*)

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :