Bedah Film Budak Kelantan Bareng Komunitas Rumahfilm.org dan Majalah Madina
Diposting: Minggu, 05 Juli 2009 / 09:33:30 | Oleh: annida | Kategori: Event
Halaman ini diakses sebanyak: 110 kali
Rating: 0
Beberapa tahun belakangan ini, film-film bertema dakwah (film religi atau film islami, istilahnya) cukup mendapat tempat dalam industri layar lebar Indonesia. Namun, tak jarang film-film ini dibuat untuk mengejar kepentingan bisnis semata, sehingga dalam prosesnya, film-film tersebut jauh dari nilai dan ideologi Islam itu sendiri. Kalaupun ada, jumlahnya amat terbatas dan biasanya tak cukup laku di pasaran. Meski demikian, ada juga film islami yang tetap ideologis dan laris dijual. Sang Murabbi, contohnya. Bagaimana dengan film dari Malaysia, negara tetangga yang tak kalah banyak pemeluk Islamnya?Adalah Budak Kelantan, arahan sutradara Malaysia Wan Azli, yang menurut Ekky Imanjaya, kritikus dan pegamat film, dalam acara Bedah Film Budak Kelantan Bareng Komunitas Rumahfilm.org dan Majalah Madinadi Jakarta, Jumat (29/05) lalu, sebagai salah satu film dari negeri jiran yang cukup sukses membawa pesan keislaman yang kental. Meski pendapat Ekky tak sepenuhnya diterima oleh para peserta yang hadir, namun Krisnadi Yuliawan, pembicara yang lain, menyebutkan bahwa penggunaan bahasa Kelantan sepanjang film menjadi satu poin film ini masuk dalam kategori film Malaysia yang idealis.
"Yang menarik adalah bagaimana
Budak Kelantan mencoba mengungkapkan fakta sosial tentang budaya
Kelantan yang dikenal sebagai negara bagian Malaysia yang punya
identitas Islam yang kuat, juga karena ia adalah daerah yang memiliki
stereotype yang buruk di kalangan masyarakat Malaysia lainnya," jelas
Krisnadi Yuliawan, pemimpin redaksi Rumahfilm.org.
Secara umum, seluruh peserta dalam
acara tersebut sepakat bahwa Budak Kelantan sangat lemah dalam hal
retorika kamera, kualitas gambar, dan pencahayaan. Namun, isu besar
mengenai realitas orang Kelantan-yang sekaligus merujuk pada umat Islam
Malaysia-dalam menghadapi modernitas yang datang dari luar budaya
mereka, membuat film ini cukup mendapat perhatian berbagai kalangan di
Malaysia, baik yang pro maupun yang kontra.
Budak Kelantan berkisah tentang dua
orang sahabat semasa kecil; Jaha dan Buchek. Keduanya dipertemukan
kembali di Kuala Lumpur dengan jalan hidup yang sangat kontras. Jaha
dengan gaya hidup Amerikanya; serba bebas, tanpa aturan, dan jauh dari
sentuhan nilai agama. Sementara Buchek memiliki karakter sebaliknya.
Suatu hari Buchek terlibat dalam daur hidup Jaha yang liar. Di sinilah
puncak konflik dari film ini. Di mana terjadinya sebuah pergolakan
batin Buchek ketika dihadapkan oleh sejumlah laku jahat sang sahabat.
Tapi toh hal inilah yang kemudian mendorong Buchek untuk membantu Jaha
keluar dari "jalannya" yang kelam sebelum terlambat. Bahkan, Buchek
merelakan kekasihnya, Che Noor, untuk Jaha jika itu dapat membuat
sahabatnya kembali ke jalan Allah.
Menurut Hikmat Darmawan, Redaktur
Pelaksana Majalah Madina sekaligus penyelenggara acara tersebut, tujuan
acara malam itu adalah mengondisikan budaya "pembacaan" dari penonton
atas sebuah film yang tidak hanya sekadar pilihan berdasarkan selera
semata. Hal ini penting, kata Hikmat, karena sudah saatnya kita menjadi
penonton yang aktif, sehingga kelak kita tak hanya menerima bulat-bulat
film-film yang ditawarkan. [nyimas]
Lampiran movie tidak tersedia.
Posting Sebelumnya
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.





