Namaku Lyvina

Diposting: Jumat, 12 Februari 2010 / 15:10:03 | Oleh: annida | Kategori: Epik

Halaman ini diakses sebanyak: 865 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Penulis: Farinka Nurrahmah A.


Kulihat tayangan berita di televisi, berkelebat potret ketakutan para anak dan wanita jalur Gaza, yang anehnya tidak sedikitpun membuatku merasa iba atau bersedih. Aku hanya tersenyum tipis.

Bagiku itu hal yang pantas mereka dapatkan setelah sekian lama menduduki tanah yang seharusnya milik kami, bangsa Israel. Ya, siapa bilang jalur Gaza milik bangsa Palestina yang mengenaskan itu? Tanah itu hanya milik Israel dan tidak bisa diganggu gugat.

Mataku masih asyik menekuni berita televisi itu. Sebuah bom meledak, beratus orang meninggal, minimal luka bakar. Aku tertawa lepas.

Baguslah, semakin banyak rakyat Palestina yang meninggal, semakin senang hatiku. Kebencianku pada mereka sudah teramat dalam. Sedalam palung laut yang terdalam. Bangsa Palestina harus musnah! Titik.

Oh ya, perkenalkan namaku Lyvina Vizi. Dari dulu hingga sekarang aku selalu tinggal di tanah yang dijanjikan ini. Ayahku mantan tentara Zionis yang disegani. Sedangkan ibuku seorang aktivis sebuah partai yang sedang berjaya. Sebagian dari kampanyenya menyerukan tentang pentingnya agresi militer untuk bangsa Palestina. Jadi, kalian telah memahami mengapa diriku sangat membenci bangsa Palestina.

Aku sendiri adalah seorang relawan yang merawat tentara Israel yang sakit dalam peperangan. Jujur saja, hari ini hari yang besar bagiku. Agen rahasia Israel telah memintaku dan Shareen untuk menyusup di tengah-tengah rakyat Palestina untuk mengetahui markas rahasia pejuang Hamas.

Bagiku tawaran ini adalah tantangan yang mengasyikan meski teramat berbahaya. Setelah dipikir matang-matang, akhirnya aku dan Shareen menyetujui rencana tersebut.

Sekitar sepuluh menit lagi kami berangkat.

Kumatikan televisi dengan segera ketika mendengar suara langkah kaki memasuki apartemenku yang tidak dikunci.

“Sudah siapkah engkau, Lyvin?” tanya Shareen sembari mengangkat kopernya yang berisi perlengkapan penting. Gadis itu mengenakan jilbab dan gamis. Dengan wajahnya yang sangat Arab itu, nyaris tidak akan ada yang mencurigai bahwa ia “orang Palestina” gadungan.

“Kau tidak perlu menanyakan hal itu! Aku selalu siap untuk menghancurkan para ghayim (binatang. Julukan untuk orang non-Yahudi)!” Tawaku lepas, membahana memenuhi ruangan. Shareen terlihat takjub.

“Kau bisa tertawa Lyvin? Aku sungguh merasa was was dengan misi kali ini.”

“Tidak perlu gugup! Bukankah tugas kita sama seperti biasa, merawat korban yang terluka?”

Shareen mengangguk. Aku masih mempertahankan senyum lebarku.

Di luar telah terdapat sebuah Monil Van yang siap menjemput kami dan mengantar kami ke perbatasan sebuah tempat di jalur Gaza. Dalam perjalanan tak henti-hentinya aku tersenyum sendiri. Seperti ada hentakan bahagia bertalu-talu di jantungku. Akhirnya, ada jasa yang bisa kuberikan kepada bangsaku, Israel yang tercinta.

***

Hal: 1 2 3

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :