Lembah 21
Diposting: Senin, 02 Nopember 2009 / 01:11:21 | Oleh: annida | Kategori: Epik
Halaman ini diakses sebanyak: 503 kali
Rating: 0
Pandangan mata kananku menyebar
ke seluruh penjuru area dengan sipitnya, dan mencoba membuka lebih lebar
kelopak mata kiri yang rapat oleh luka, darahnya mengucur mesra mengecup-kecupi
pipi kiriku, keberanianku seperti kabur dari kungkungan batinnya, mungkin dia
sudah tidak mencintai lagi tempat lahir hakikinya. Hatiku sudah padam suasana, tapi masih bisa
merasakan pahitnya kematian, keringatku tak kalah derasnya dengan rintik hujan
yang mengguyur
Aku memejamkan mata masih pada
nafas yag terengah-engah, letih sudah emosiku. Dan hujan yang semakin deras,
memukul-mukul kecil kepalaku.
Kurasakan rohani tersuntik
bisikan lembut, lantunannya merasuk pada wilayah paling sensitif di antara
semua bagian rohaniku, bisikan itu mencabik-cabik kepercayaanku mengenai ada
tidaknya Tuhan Allah, menggerogoti semua peradaban yang pernah kujalani, karena
ia bertanya. Apakah Tuhanmu tertawa atau menangis? Menantimu atau mengusirmu?
Apakah Dia hidup atau mati?
Sakit rohku terasa mengerang dan menjerit-jerit, karena
tak kuasa menahan rasa pedih itu, rohaniku memilih menyembelih dirinya sendiri
dan menyerahkan jasadnya yang hidup kepada makhluk tak bernama.
Karena hidup, kita akan mati.
Dan kematian akan melahirkanmu ke dunia tanpa tanda tanya.
***
Langit pagi 1949 di Kota
Nostean itu amat muram dan terlihat batuk-batuk karena tersesaki kepulan asap
hitam, kedatanganku tak sanggup lagi melihat dengan jelas, apa yang ada
dihadapanku saat ini, lalu mataku dibersihkan oleh kedipan pertama, dan pada
bayangan yang dibentuk fantasy, kusaksikan puluhan ribu rumah hampir tak
beridentitas lagi, ribuan bongkahan lubang besar yang tergali oleh ledakan
menuangkan pandanganku, semua tanahnya berwarna hitam, seperempatnya tersiram
darah, dan setiap bangunan yang dulunya adalah sarang mencurhatkan kebahagiaan,
sekarang beralihfungsi menjadi sebuah panggung berlatar neraka yang skenarionya
ditulis langsung oleh tinta Tuhan. Mayat-mayat berserakan dan tampak dari
belakang seperti meneguk darahnya sendiri, tersungkur, terjungkir, bersilangan,
bertumpuk seperti bukit, dan bahkan ada yang menghiasi wajah-wajahnya dengan
darah.
Aku berjalan lambat dan hampa
menuju sebuah rumah yang setengah matang dibakar panasnya gelora dendam
penguasa, sambil menyandarkan senjata AK-49 di bahuku, kubuka tali pengikat
pintu pagar yang bercak-bercak, dan kuangkat pintu yang terbuat dari bambu itu
sambil memberikan dorongan ke arah kiri,
kulangkahkan kaki kananku sebagai komando dari kaki kiri, ada seorang anak
kecil berparas sunlas, memakai rok merah muda dengan jilbab biru kesayangannya,
berlari-lari menuju arahku, menyapa dengan tawa yang ceria, “Lihat ayah!
Kerudung baru yang tidak pernah terharu” dengan
Matahari mengeluh untuk
memberikan cahayanya, tangis langit pun tak dapat ditahan lagi, kepalaku
menengadah, melihat gegap gempita langit, getarnya terasa sampai ke tulang
jiwa, mataku tertetesi bintik air yang turun dari laut langit. Kuluruskan
kembali pandanganku, berjalan melewati rerumputan yang hangus. Aku tersenyum
pada langkah kesepuluh, isteriku pun membalasnya dengan senyum terindah sembari
menata bunga-bunga menawarkan harumnya pada hidung yang berhasrat, dengan
diiringi nyanyian dua anak perempuan kesayanganku, wanginya semakin semerbak,
tempat ini terlalu syurga, tapi waktu sering pindah cerita pada alur yang lain.
Kulanjutkan menjelajahi jalan setapak dengan hati-hati menuju belakang rumah, kayu
kerangka badan rumah berjatuhan, dan hujan terus mengguyurnya, membasahi
kesedihannya. Ada Ibu yang sedang menggoreng masakan khasnya, kulitnya kerut
keriput seperti baju yang belum disetrika, arus pandangannya sudah meredup,
kekuatan tulang raganya merapuh, menyaksikan
dirinya sendiri bisa membuat kesan mata mati rasa, tapi hatinya bagai berlian
yang mempunyai cahaya sendiri.
Tiap tetes hujan yang turun
dari langit memenuhi lubang-lubang bekas ledakan di tengah-tengah rumahku, yang
dulunya adalah tempat kita sekeluarga berkumpul, bercengkrama, dan bersujud. Tak
lama kemudian air itu tumpah, mengalir lemah kearah kaki polosku, menyentuh
dingin telapak kakiku, dan menyelinap lembut pada celah-celahnya, kuangkat
kedua tanganku seperti orang muslim melakukan kode permohonan pada Tuhannya,
kuamat-amati garis-garisnya, terbayang lafadz Alloh, tanyaku meloncat,
“Assalamualaikum wahai Tuhanku! Apakah engkau
benar-benar akan membantu kami dalam peperangan ini? Apakah engkau bertindak
dan memperlakukan umat-Mu atas asas sifat Asmaul Husna-Mu? Dan tidakkah engkau
saksikan bahwa kami kecewa terhadap umat Al-Quran yang mencintai dunia daripada
saudara atau masa akhiratnya? Lalu berkhianat pada alasan yang tiada ada apa-apanya
di hadapan-Mu?” Sejurus kemudian datang suara yang telingaku sudah tak asing
lagi mendengarnya.
”Wassalamualaikum…!”
Lamunanku serentak tergoyah,
suara itu datang dari ruangan tempat ayahku biasa membaca koran dan Al-Quran.
Ayahku menyapaku dengan senyuman, dan memberikan sorotan mata terbaik selama
masa hidupnya. Ayahku menghampiriku dengan memakai baju rohani, tapi ia hanya
memelukku dengan jawaban-jawaban yang sederhana.
Sedihku mengambang ke permukaan
udara, aku menunduki pasang surut air mata, dan hujan pun tetap mengguyur jasadku,
dengan seksama ku balikkan badan perlahan, dan kuseret kembali senjata AK-47ku
yang bersemangat sekali menembus batas-batas kehidupan oran-orang yahudi, kulihat
tanpa sengaja ketika memalingkan kepala memutar kiri seekor lebah diam pada melengkunnya
daun ilalang, kadang kulihat dirinya mengikuti lantunan sang daun, dan
bergoyang sesuai dengan nada-nada nyanyian angin, otakku pening untuk bisa
stabil menghendaki apa yang dimaunya, ada wajahku berkaca pada beningnya dan
lambat laun lantunan itu membuat pikiranku merasuk pada matanya. Jalur semacam
gorong-gorong urat syarafnya ku lalui, melintasi sel-sel, mengawang di lembah
yang merah, lalu secepat kilat melesat pada cahaya selingkar karet gelang.
Aku terbang dan merasa
melayang, ada kepakan, seruntutan suara hasil getaran sayapnya berulang-ulang
kudengar begitu dekatnya, aku dengan penuh kehati-hatian mengamat-amati
lingkungan sekitarku yang berubah aura, teriakan-teriakan anak kecil kudengar
begitu jelasnya, aku terus mengepakan sayap rangkapku guna mencoba mencopoti
rasa penasaran, lalu berbelok miring ke sebelah kanan, mendapati darah yang
berceceran, seorang tentara yahudi terlihat menendang wajah anakku dengan
sepatu berlapis besinya, mencongkel matanya, memotong tangannya, menyobek
perutnya, dan memotong semua leher anggota keluargaku. Dengan marah yang
terasah, aku berteriak dengan sekuat tenaga. Tapi fantasy tidak bisa berbuat
apa-apa.
***
Pada bangun mataku setelah
pingsan entah berapa lama di atas tanah yang basah kuyup, kulihat pesawat jet
mirage melintas begitu cepat walau ku melihatnya dengan setengah sadar, asap
hitamnya mengekori gerak-geriknya, pandanganku tak bisa mengikutinya karena pesawat
itu hilang terhalang rimbunnya dedaunan hutan lembah 21. Rintik hujan
menitik-nitik wajahku yang kusam, telingaku masih tak berlubang, padat oleh
dentuman meriam.
“Ay*! Ba****” teriak seorang
prajurit.
Tubuhku terasa terjerembab
ratusan kilogram besi, tak sanggup menahan dan mengangkat beban ini, maka dari
itu aku terbaring saja tanpa kata, tapi dua prajurit menarik lenganku, dan
menegakkan ragaku tegak lurus, meskipun terkadang mendoyong lemah ke depan. Ku
lihat beberapa peluru ganas menancap dan kadang menembus batang-batang pohon
dibelakangku, pelesatannya hampir mengenai telingaku, aku tertunduk, dan lalu
merayap ke garis depan tempat para tentara muslim menahan serangan, di belakang
parit yang tingginya satu meter, ku isi senjata AK-47ku dengan sisa amunisi
yang tiada berkecukupan untuk menandingi kecanggihan alat-alat militer tentara
yahudi, ku sedikit mencuri celah dengan melongokan kepalaku beberapa sentimeter
lebih atas dari garis tertinggi parit, di rimbunnya rumput-rumput yang
menghalangi pandanganku, ku amat-amati tiap titik-titik yang bercahaya, dan
kutembaki dengan penuh konsentrasi. Puluhan infantry yahudi tegas berjatuhan.
“Allohu Akbar..!!!Allohu
Akbar…!!” Seru seorang prajurit yang jauhnya hanya empat-tiga meter di kiri dan
kananku dengan cuatan mata yang tenang tapi bergejolak.
“Syaahid..!Syaaahid..!!Syaaahiiid..!!!”
kudengar panggilan yang menyentak telingaku membuat konsentrasi menembakku
pudar sejenak.
“Syahiid..! Di sebelah sini!”
tampak seorang sersan dengan posisi merangkak di cembungnya parit
melambai-lambaikan tangan. Lalu kujawab dengan menghampirinya pada cara
merangkak pula. Di tengah perjalanan, tiba-tiba tanah yang ada dihadapanku
memuncrat bersamaan dengan darah, dan begitu lengket menempel di depan wajahku,
bersemayam di penampang punggungku, suara ledakannya membuat telingaku tak bisa
mendengarkan apa-apa lagi, hanya bunyi tinggi yang panjang dan menyakitkan,
nafasku terengah-engah, aku kembali
menundukkan kepala, menutupi dan melindunginya dengan pelukan kedua tangan,
kembali dua sampai empat ledakan menghancurkan semangat perangku, peluang
hidupku berbicara pesimis, tak ada harapan untuk hidup.
“Allohu Akbar…!!!” mataku
mengintip di antara lubang sikutku untuk mengetahui apa yang terjadi, hatiku
mendidih dan meluluh, kusaksikan seorang bocah berusia sepuluh tahun berdiri
dan menyanggah senjata, lalu menembakannya ke arah yang tak beraturan, tapi
peluru tahu apa target utamanya, dan darah apa yang harus dihisap
pahit-pahitnya. Segenggam peluru berentetan menembaki kepala bocah itu, rubuh
dan meremukan.
Aku kembali merangkak, dan
menggulirkan diri ke arah kiri, menghadapi bidang parit yang berwarna coklat
gelap, kembali berdiri dengan hati-hati, dan kuamat-amati apa yang ada
dihadapan mataku pada detik ini, ada sepuluh buah phanser yang terletak
berjauhan dan berformasi 5-3-2 mendekati. Tak tahu kenapa, pada kondisi
segenting ini magasen AK-47ku macet, dengan tergesa-gesa kubanting-banting ia
pada tanah yang membidang, tapi aku tahu ia sudah enggan untuk berperang, lalu
kulempar senjata itu dekat dengan jenazah bocah tadi, “apa yang akan engkau
lakukan pada kondisi seperti ini wahai anak pemberani yang menganut
Al-Qur’an?”…bola matanya keluar dari kepalanya yang hancur, menggelinding lemah,
dan tergeletak lurus pandang pada mataku, seakan-akan ia tersenyum.
Aku pun tersenyum dengan wajah
yang menengadah, menghayati rintik hujan yang ujung-ujungnya menampilkan
wajah-wajah keluargaku, menetas di pelapis mata, menetes mengikuti alur, dan
pecahannya bertanya-tanya tentang keadaan keluargaku, karena rata-rata kudapati
cerita dari semua keluarga militansi muslim mati terbunuh dengan cara yang
sadis, hampir tanpa kepala. Tapi aku ragu akan kondisi keluargaku jika harus
menjelmakan cerita para militansi muslim tersebut.
Pada pandanganku yang
menengadah, sedetiknya setelah lamunanku, tiga pesawat tempur bertabrakan di
atas sana, udara seperti marah dan mengadukan tiap benda yang terbang,
puing-puingnya berserakan jatuh berkilat tanda tajam, menelusuri kehampaan
udara, menancap pada tanah yang tergenang air hujan, termasuk seluruh artileri
yahudi kena tusuk tanpa terkecuali, meledak seketika puing-puing yang sebagian
utuh yang tersisa daripadanya kepala atau badan pesawat, membumbung asap tebal
mendekati atmosfir bumi. Seorang militansi melemparkan sebuah senjata laras
panjang padaku, dan dengan senyumannya ia memerintahkan sesuatu pada diamku,
kami menambah kekacauan itu dengan menghujani mereka secara horizontal dengan
peluru-peluru yang sudah terasah oleh kesedihan.
Tentara-tentara yahudi porak
poranda, hanya selamati hidup saja yang dipikirkannya, komandannya pun tak
tahan lagi melihat realita yang mencekam nyawanya, lalu menyuruh anak buahnya
untuk mundur ke garis belakang, atau maju menuliskan nama pada daftar kematian.
Aku merasa pernah melihat wajah dari komandan yahudi operasi II ini sebelumnya,
tapi entah di mana atau kapan?
“Hey..!! akh lindungi aku
sebisamu pada bidikan terbaikmu!” perintahku pada seorang prajurit yang ku
anggap paling handal dalam mengatasi jarak pandang yang biasanya menjadi
masalah yang besar bagi seorang prajurit,
“Baik.” jawabnya dengan tegas,
“Shyakeeh Amati gerak dan rute runawaynya!” penugasanku lagi pada
seseorang yang berada disamping Akh.
“Apa yang hendak engkau lakukan
wahai saudaraku?” tanyanya dengan tenang sambil mengawasi gerak-gerik musuh
yang kelabakan.
“Apapun yang bisa kulakukan
saat ini adalah membunuh rasa penasaranku secepatnya, aku berniat mengejar
gerombolan tentara yahudi yang hendak kabur itu.” sahutku.
“Sulfi..! Zasti..! Akro..! ikut
denganku! Kita ambil rute dataran tinggi!” mereka mengangguk kompak simbol
pengertian yang sehati.
Kami merangkak dan meloncati
bidang parit, lalu berlari sambil menunduk penuh kehati-hatian, dan menelusuri
rumput-rumput setinggi hak tinggi, melompati kawah-kawah kecil bekas ledakan,
mengembarai nafsu pembalasan, menunggangi angin kerinduan.
Empat jam sudah berlalu dimakan
aktivitas membuntuti, dan hujan tiada bosannya mengguyur lembah 21 ini, kami
mendapati tentara dan komandan yahudi itu istirahat sejenak di sebuah rumah tua
yang sudah roboh tertimpa bom mereka sendiri, puing-puingnya megingatkanku pada
puing-puing yang kurindui, senjataku ku pasangi teleskop 12x3, dan kubidikan
moncong senjata laras panjangku dengan tenang tepat di tengah kepala komandan
yahudi itu, benar, aku pernah bertemu dengannya, tapi ingatanku masih
mengacak-ngacak file memoriku, entah kusimpan di mana? Sulfi, Zasti, dan Akro
pun sudah siap dengan target mereka. Ku tarik gagang pengendali tembakanku
dengan ketenangan telaga, siap menembuskan peluru nafsuku pada kepala berambut
putihnya, mata angkuhnya, dan ekspresi bengisnya. Tapi sesalnya aku belum
mengetahui siapa dia? Meskipun pahamku mengajari bahwa semua orang yahudi
terlibat dalam kasus pembantaian di Kota Malangbong, tapi setidaknya aku harus
membasahi dahagaku dengan jawaban yang pasti, supaya keheranan ini tidak
bergentayangan.
Langit masih tetap menangis,
mengguyur Lembah 21, Suara tembakan begitu menggema memecah kesunyian, membelah
udara, burung-burung pun lari tegang dengan kecepatan terbaiknya, darahku
mengalir deras karena satu peluru Dygtarev menembus tengkorak kepalaku, dan tembakanku
sepuluh senti meleset dari target awal, hanya menepis kulit alis kirinya, aku
ingat siapa dia. Dengan marah yang terasah, aku berteriak dengan sekuat tenaga.
Tapi fantasy tidak bisa berbuat apa-apa, teriakanku hanya menjadi sebatas
tiupan lembut.
***
Langit pagi 1999 begitu
cemerlang, selembar daun muda gugur dari rantingnya, didekatinya dengan
malu-malu oleh seorang anak kecil yang memakai rok merah muda, berkerudung biru, dan dituliskan sesuatu kata
di atasnya.
Air hujan yang duduk-duduk di lembaran
daun yang kasat, meluncur lembut tertarik mulut sang dewa ditendang angin
utara, air yang tunggal itu menetas di pelapis mata kiri anak kecil imut tadi.
Ia pergi meninggalkan daun yang
beberapa menit bisa dikenalnya itu dengan air mata yang sedikit demi sedikit
mengalir habis.
Daun setengah hijau tadi
membaca tulisan anak berparas sunlas itu, “S-Y-A-H-I-D”.
Lampiran movie tidak tersedia.
Posting Sebelumnya
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




