JEWEL OF ALEXANDRIA

Diposting: Selasa, 13 Oktober 2009 / 16:05:54 | Oleh: annida | Kategori: Epik

Halaman ini diakses sebanyak: 1841 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Mesir, 391 Masehi

        Sinar matahari di ufuk timur hangat menyapa bersama deburan ombak di pesisir laut Mediterania. Ratusan burung camar berterbangan di sekitar mercusuar Pharos yang menjulang, menyambut kapal-kapal besar yang baru saja tiba dari negeri-negeri terjauh. Riuh rendah suara pekerja yang sibuk membongkar muatan bercampur dengan lenguhan unta dan keramaian para pedagang di pasar pelabuhan. Linen, kaca, papirus, buah-buahan, semua barang yang diperdagangkan digelar di sepanjang jalan utama. Pagi telah tiba di Alexandria.

       Di dalam kota, tampak iring-iringan peziarah dari Efesus melintasi plaza dengan suasana meriah. Ratusan pria, wanita, dan anak-anak mengenakan pakaian terindahnya sambil membawa karangan bunga, memainkan seruling dan harpa serta menyanyikan lagu-lagu pujian untuk menghormati Dewa Serapis. Menjelang festival tahun ini, Alexandria semakin ramai dikunjungi oleh para peziarah Serapisian dari kota-kota di seluruh kekaisaran Romawi. Kedatangan mereka selalu menarik perhatian warga Alexandria.

       Di antara kerumunan warga yang tengah menonton iring-iringan peziarah, seorang biarawan Kristen tiba-tiba berteriak lantang membacakan Mazmur, "Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu! Orang-orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala akan malu! Segala tuhan sujud menyembah kepada-Nya!"

       Beberapa orang menoleh ke arah biarawan itu, namun hanya sesaat sebelum mereka larut kembali dalam kemeriahan di plaza. Lagu-lagu, bunga-bunga, dan roti-roti yang dibagikan secara cuma-cuma sebagai sedekah. Iring-iringan peziarah pun bergerak semakin menjauh menuju kompleks Kuil Serapeum di atas bukit, meninggalkan jejak harum dari wewangian yang mereka gunakan. Alexius, biarawan itu, hanya tertunduk. Sebentar lagi, batinnya dalam hati. Sebentar lagi kekafiran akan dimusnahkan dari kota ini. Dia pun memakai tudungnya dan menghilang di sudut jalan.

       Sementara itu, di pelataran puncak Kuil Serapeum yang megah, seorang wanita cantik berdiri mengangkat astrolab di tangannya ke arah matahari.

       "Apa yang kau lihat, guru?" beberapa pemuda duduk mengelilingi wanita itu.

       "Tepat seperti perhitungan kita," wanita itu tersenyum kepada murid-muridnya, "ketinggian sudut matahari telah berkurang sebanyak..."

       "Hypatia!" seorang pria berjalan tergesa-gesa dari dalam kuil.

       Wanita itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya, "Ada apa, Olympius?"

       "Aku baru saja menerima berita ini dari akademi di Konstantinopel," Olympius tampak terengah-engah mengatur nafasnya.

       "Tenanglah, aku mendengarkanmu," ujar Hypatia menenangkan.

       "Kaisar telah mengeluarkan keputusannya,"  Olympius mengeluarkan gulungan papirus dari balik toganya, "Mulai saat ini, setiap orang dilarang mengunjungi kuil-kuil dan tempat ibadah selain gereja."

       Suasana mendadak hening. Sejak kaisar memutuskan untuk menghapus hari libur bagi festival agama selain Kristen beberapa tahun yang lalu, ketegangan antar penganut agama terus meningkat di negeri ini. Kerusuhan di hari raya mau pun perusakan kuil bukan lagi kejadian langka. Hypatia mengela nafasnya pelan, sampai kapan kami akan bertahan? Ditatapnya tiang-tiang besar Kuil Serapeum yang berukir huruf-huruf Alfabet Yunani dan Hieroglif. Ini lah simbol harmoni antara kebudayaan Hellenis dan Mesir. Bangunan indah yang didirikan para leluhur berabad-abad yang lalu untuk memuja Serapis. Sebagai seorang filosof, Hypatia tidak pernah tertarik untuk menyembah Serapis ataupun mewarnai pikirannya dengan berbagai takhayul. Satu-satunya alasan dia di sini adalah mengajar kelas yang dibuka di perpustakaan kuil.

       "Apa militer sudah bergerak?" tanya Hypatia.

       Olympius menggeleng, "kebijakan ini baru diterapkan di Konstantinopel dan sekitarnya."

       Pandangannya beralih pada murid-muridnya yang sedang berbisik satu sama lain. Para pemuda gagah yang tengah beranjak dewasa. Sebagian orang tua mereka adalah penganut Yahudi, Kristen, Serapisian, Dionysian maupun Mitrais, tapi mereka semua di sini untuk belajar ilmu yang sama. Menghargai akal yang diberikan Tuhan dengan cara menggunakannya. Hypatia menatap mereka satu per satu, mencoba melihat harapan yang ada. Calon pendeta, calon pejabat kota, juga calon saudagar. Kalian orang-orang penting di masa depan, Hypatia mendesah.

       "Yang kita lakukan di sini adalah belajar," ujar Hypatia perlahan, "Jadi apa pun yang terjadi, kita akan tetap belajar."

       Ucapannya segera disambut riuh tepuk tangan murid-muridnya. Olympius, yang juga mengajar di perpustakaan kuil, hanya bisa tersenyum melihat semangat Hypatia dan murid-muridnya.

       "Siapkan kuda. Kita akan pergi ke plaza untuk mendengarkan beberapa orasi hari ini."

       Hypatia dan murid-muridnya pun berjalan menuruni ratusan anak tangga kuil yang tinggi. Di gerbang kuil, mereka berpapasan dengan iring-iringan peziarah dari Efesus yang telah tiba. Seorang gadis kecil di dalam iring-iringan itu mendekati Hypatia dan bertanya, "Apa benar ini adalah rumah Serapis?"

"Benar, nak," jawab Hypatia lembut.

       "Besar sekali rumahnya. Apakah Serapis itu sangat hebat?" tanya gadis kecil lagi.

       "Mungkin saja," Hypatia membelai rambut gadis kecil itu, "Tapi sejauh yang kulihat, Dia hanya duduk diam di singgasana-Nya."

       Hypatia pun menaiki kereta kudanya dan berlalu bersama murid-muridnya.

***

Hal: 1 2 3 4 5

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :