Impian Yusuf
Diposting: Senin, 18 Januari 2010 / 17:58:10 | Oleh: annida | Kategori: Epik
Halaman ini diakses sebanyak: 1395 kali
Rating: 0
Kuusap peluh yang membanjiri tubuhku. Dadaku turun naik mengatur jalannya nafas yang belum cukup stabil setelah bermain bola sepanjang sore tadi. Kakiku masih terasa sakit saat berebut bola dengan Yusuf, sebab tendangannya mengenai tulang keringku hingga membuatku tak sanggup meneruskan sampai akhir permainan.
Hari sudah mulai menjelang senja. Langit Gaza begitu indah menjelang terbenamnya matahari. Kulihat teman-temanku juga sudah demikian lelahnya, tapi tidak berlaku bagi Yusuf. Lihatlah, di saat seperti ini ia masih memainkan bola dengan kedua kakinya. Sepertinya ia tidak mau terpisah dengan si kulit bundar itu.
“Yusuf, tidakkah cukup kau bermain bola hari ini? Lihatlah, hari sudah mulai gelap. Kita pulang!” Aku mengingatkannya tatkala satu per satu temanku mulai meninggalkan lapangan, sementara tinggal aku berdua Yusuf saja yang belum beranjak pulang. Aku masih setia menunggunya.
“Ya, sebentar, Ahmad!” Buru-buru Yusuf menangkap bola yang ia pantulkan lewat ujung kakinya, lalu menghampiriku. Ia tersenyum melihat tampangku yang cemberut kearahnya.
“Afwan, Ahmad. Aku tidak bermaksud membuatmu menunggu lama,” ucapnya. Aku mengibaskan tangan, mengisyaratkan bahwa aku tidak akan marah padanya. Kami berjalan beriringan di antara puing-puing reruntuhan peninggalan zionis. Berpuluh-puluh bangunan nyaris rata dengan tanah akibat serangan militer Israel. Rudal dan jet tempur milik tentara Israel meluluhlantakkan pemukiman warga Palestina. Tank-tank berlapis baja tidak pernah bosan-bosannya menyisir rumah-rumah penduduk dengan dalil mencari keberadaan teroris muslim Palestina. Manakala operasi yang mereka jalankan tidak berhasil menemukan atau menangkap para pejuang Palestina, dengan mudahnya tank-tank itu melumat habis rumah-rumah penduduk yang dianggap sebagai tempat persembunyian.
Aku ingat sekitar dua tahun yang lalu Yusuf mengutarakan niatnya untuk menjadi seorang atlet sepakbola terkenal. Menjelajah liga-liga elite Eropa, memperkuat timnas Palestina di berbagai pertandingan, menikmati gaji jutaan dolar serta memiliki kebanggaan tersendiri sebagai seorang publik figur. Di saat pemuda-pemuda Palestina lain menggelorakan jihad melawan pendudukan Israel, ia malah memimpikan segera keluar dari tanah kelahirannya dan mencoba mencari peruntungan di negeri-negeri Eropa.
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




