Gadis yang Ikut Berjuang
Diposting: Senin, 11 Januari 2010 / 13:15:59 | Oleh: annida | Kategori: Epik
Halaman ini diakses sebanyak: 992 kali
Rating: 0
Sekejap Sharifa ingat amak-nya di rumah. Dia ingat kala amak-nya agak sulit untuk melepasnya mendaftarkan diri pada Dokter Ali Akbar, seorang dokter yang sekaligus sosok pemimpin pejuang di Bukittinggi. Amak-nya pasti rusuah bana jika mengetahui kondisinya saat ini. Meski amak dan ayahnya khawatir pada Sharifa saat itu, mereka tak bisa menghalangi kehendak salah satu putrinya itu. Mereka tahu Sharifa berjuang demi bangsa. Ini juga demi negara. Demi Indonesia. Tapi dia masih seorang gadis!
Setelah dua hari Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, berita menggembirakan ini sampai pula ke Kampuang Sharifa, Koto Tuo. Apalagi salah satu proklamator merupakan putra daerah Bukittinggi yang jaraknya tak jauh dari lokasi rumah Sharifa. Sungguh, hari itu semua masyarakat Indonesia bergembira. Merayakan kebebasan dari tangan kolonial. Syukurlah Jepang hanya menjajah tiga setengah tahun. Sedangkan Belanda sedikit pun tidak memiliki hak lagi.
Sekenang Sharifa, masa Jepang adalah saat-saat yang sangat sulit. Bayangkan saja, kita hanya mempunyai kain yang telah dimiliki. Jika ada pakaian yang sudah robek jangan harap ada penggantinya. Semua kain lenyap! Sedangkan beras susah didapat. Masyarakat terpaksa mencampur beras dengan rebusan jagung. Padahal jagung bukan makanan pokok yang enak dimakan setiap hari. Apa namanya kalau memakan sesuatu yang tak disukai??
“Sedang apa Amak sekarang?” batin Sharifa diantara sadar dan tidak sadar. Bau darah semakin memenuhi ruangan. Rintihan Atin semakin menjadi-jadi. Dia mengucapkan pula puja puji pada Allah swt. Subhanallah…
***
Saat itu Sharifa berumur sembilan belas tahun. Dua bulan setelah dia melewati ulang tahunnya. Tak ada perayaan sedikit pun. Selain itu bukan budaya mereka, mana mungkin ada perayaan diatas menderitanya keluarga dan bangsa Indonesia. Lagipula ulang tahun berarti bertambahnya umur dan berkurangnya kesempatan hidup di dunia ini.
Amak mempunyai analogi tentang waktu: masa lalu mengisut dan masa depan mengembang. Kita terimpit di tengah-tengah.
Kala mendengar bahwa Belanda datang lagi bersama Sekutu pada tahun 1945, kemarahan rakyat Indonesia membara. Bagaimana mungkin Belanda dan Sekutu ingin merebut Indonesia lagi. Dengar wahai Belanda terkutuk, kami sudah merdeka! Merdeka! Ingin Sharifa berteriak ke telingga jendral-jendral kulit putih itu. Lalu terjadilah aksi-aksi heroik memperahankan kemerdekaan.
Sharifa masih ingat kala mendengar di radio betapa heroiknya Bung Tomo membakar semangat jihad pemuda. Lantang beliau menyeru, “Allahu Akbar!”. Surabaya, Bandung menjadi lautan api dan Medan menjadi area pertempuran melawan Sekutu. Tentu saja di Minangkabau aksi ini tak kalah heroik. Sekutu yang membantu Belanda memang harus dibasmi sampai habis. Seperti kuman di kaki!
Itulah yang Sharifa inginkan sebagai bangsa Indonesia.
Dua tahun setelah kemerdekaan, agresi militer Belanda terjadi. Seluruh wilayah Indonesia bersiap-siaga. Pada bulan Juli 1947 tentara Belanda datang lagi dari berbagai divisi. Mereka rupanya ingin menyerbu dari darat, laut dan udara sekaligus!
Karena sudah 19 tahun, Sharifa merasa terpanggil untuk ikut dalam perperangan. Rasa memiliki bangsa ini dan ingin mempertahankannya semakin menjadi kala dia diberi nasihat oleh Dokter Ali Akbar.
Rumah dokter itu tak sekedar tempat dia praktek dan mengobati pasien. Dokter yang murah senyum ini adalah ustadz pula. Beliau selalu mengingatkan jamaah untuk membela bangsa ini dari kaum penjajah. Beliau membakar semangat jihad para pemuda. Di rumah itu pula pendaftaran menjadi Palang Merah Indonesia.
"Tenaga perawat sangat dibutuhkan tentara kita,” kata Dokter Ali kala ditemui Sharifa di rumah. Bersama mereka hadir pula dua orang perempuan sebaya Sharifa, Anis dan Maisyarah. “Pengobanan perempuan-perempuan seperti kalian yang diharapkan bangsa ini.”
Sharifa mendengarkan dengan tenang, walaupun hatinya ingin segera memberitahukan niatnya pada Amak. Sore itu, Anis dan Maisyarah telah mendafar pada Sang Dokter. Total sudah tujuh orang yang siap dikirim ke lereng Gunung Merapi bersama para tentara. Mereka akan bersiap-siap menghadang agresi Belanda 1947 itu di wilayah Agam dan sekitarnya.
Sharifa masih duduk dibangkunya, hanya melihat Anis mengisi formulir. Dia mainkan ujung kerudungnya, gelisah. Dokter Ali mendekatinya. “Kamu belum ingin menulis namamu?”
Sharifa hanya diam. Dia ingin memberitahu ibunya dulu.
"Kesempatan untuk memberi kontribusi pada negara.”
"Saya ikut, Pak,” tegas Sharifa. “Saya pulang dulu untuk menemui Amak.”
Bergegas Sharifa meninggalkan rumah Dokter Ali. Melihat itu, Sang Dokter tersenyum dan yakin semangat juang Sharifa sesuai dengan pendidikan agamanya. Untunglah menjadi perawat relawan PMI kala situasi perang ini tak menjadikan latar pendidikan sebagai penghalang. Tak perlu seorang bidan untuk merawat. Semua wanita memiliki naluri itu. Lagipula sedikit latihan dasar cukup untuk menjelaskan kegunaan beberapa perkakas kesehatan.
***
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




