BEYOND THE WALL
Diposting: Rabu, 12 Agustus 2009 / 10:48:18 | Oleh: annida | Kategori: Epik
Halaman ini diakses sebanyak: 1013 kali
Rating: 0
"Wa alaikas Salaam," Naura menutup teleponnya.
"Barusan temanku," ujar Naura pada Levi sambil menunjukkan ponselnya. Keduanya duduk di rerumputan, memandang anak-anak yang sudah mulai menggambar garis-garis pertamanya di sisi tembok. Naura menyediakan mereka beberapa boks kapur warna untuk menggambar. Selain lebih murah, Naura juga ragu dengan kemampuan anak-anak menggunakan pilox.
"Jadi, sekarang kamu mengajar anak-anak SD?" Levi memulai obrolan.
"Hanya membantu, ini semester kedua aku mengajar."
"Ooo.."
Sesaat sepi. Angin semilir, membawa sedikit pasir dan wangi rumput liar.
"Mm, kamu lucu juga sekarang dengan jilbabmu itu," Levi tersenyum
"Kamu juga lucu dengan helm hijaumu itu, hahaha," Naura tertawa menimpali.
"Apa kabar kedua orangtuamu, Vi? Aku kangen sama mereka."
"Aba dan Emi masih tinggal di Jaffa, kapan-kapan main lah ke sana lagi."
Naura mengangguk, memainkan batang rumput yang dipetiknya.
"Lalu, mereka ingin menggambar apa?" Levi menunjuk anak-anak itu.
"Apa saja yang mereka mau, aku tidak membatasi. Yang penting tembok jelek itu jadi sedikit kelihatan lebih baik."
"Tembok jelek?"
"Kamu pikir tembok itu bagus?"
"Entahlah, tapi setidaknya itu tembok yang kuat."
"Aku benci tembok itu," Naura membuang batang rumput yang tadi dimainkannya, menggantinya dengan beberapa kerikil.
"Seminggu yang lalu aku menjemput beberapa anak dari Ramallah untuk ikut lomba menggambar di Yerusalem. Kamu tahu, berapa lama perjalananku?" Naura berujar pelan, "Tiga jam, Levi. Dengan interogasi panjang di pos pemeriksaan, hanya untuk membawa anak-anak kecil."
Levi menghela napas panjang. "Aku paham, Na. Tapi Israel membutuhkan tembok itu untuk melindungi rakyatnya."
"Rakyatnya? Aku juga rakyat Israel, Levi!" ujar Naura setengah membentak, "Aku membayar pajak dan memilih di pemilu kemarin. Apa pendapat Knesset tentang rakyat sepertiku?!"
"Tidak ada pilihan lain," Levi mencoba menjelaskan, "Kamu tahu kan berapa banyak serangan bom bunuh diri dari Tepi Barat? Tembok ini sekadar mencegah agar teroris tidak bisa memasuki Israel."
"Lalu siapa yang bisa mencegah kalian untuk memasuki tanah kami?" suara Naura berubah parau.
"Warga Yahudi masih terus membangun permukiman di Tepi Barat, tak seorang pun bisa mencegahnya. Tentara-tentara sepertimu bebas keluar masuk perkampungan, pamer senjata di depan wanita dan anak-anak... tak ada yang mampu mencegahnya."
"Itu..." Levi tidak melanjutkan kata-katanya.
"Keluarga Zahalka telah mendiami tanah ini dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun yang lalu. Kapan keluarga Hirsch, Stern, atau Rabin sampai di sini?" tanya Naura sinis. "Terdengar seperti nama Eropa ya, sepertinya kalian tersasar kemari."
Sesaat sepi lagi. Hanya terdengar canda anak-anak dan suara lalu lintas di kejauhan.
"Levi, kamu ingat pernah cerita tentang Tembok Ratapanmu? Aku juga punya, ini Tembok Ratapanku!" Naura menyambit tembok itu dengan kerikil di tangannya. "Dulu kamu bilang tembokmu lebar. Tapi lihat lah, tembokku lebih lebar. Bahkan terlalu lebar hingga aku tak bisa melihat ujungnya. Kamu kalah Levi, hahahaha," Naura tertawa pedih.
Levi diam. Dia benar-benar tak tahu harus berkata apa lagi. Ah, kenapa jadi begini? Padahal mereka sudah lama tak bertemu. Mungkin ini waktu dan tempat yang tidak tepat.
***
Lampiran movie tidak tersedia.
Posting Sebelumnya
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




