AKU MAKHLUK ANDROMEDA
Diposting: Selasa, 30 Juni 2009 / 20:08:45 | Oleh: annida | Kategori: Epik
Halaman ini diakses sebanyak: 1223 kali
Rating: 0
Penulis : A. A. Fathnan
Berpuluh-puluh lampu blitz menerpa wajah pemuda dua puluh tujuh tahun yang keluar dari gedung lantai 30 itu. Beberapa orang berperawakan tinggi besar berjas dan berdasi mengawalnya dengan sangat ketat. Sementara itu belasan wartawan dengan kamera, mikrofon dan alat perekam lainnya saling menyerbu dengan berbagai pertanyaan. Pemuda itu adalah Fahmi Firmansyah, seorang Doktor astronomi termuda Tokyo Institute of Technology (TIT).
Lima belas menit yang lalu ia telah mengakhiri acara jumpa pers di gedung pertemuan Andalas, Jakarta. Ada satu hal yang membuatnya begitu disoroti publik minggu-minggu ini. ia dinobatkan sebagai satu-satunya utusan Indonesia dalam sebua proyek besar NASA. Sebuah proyek eksplorasi Galaksi Andromeda.
“Doktor Fahmi, apakah Anda yakin dengan keputusan Anda untuk menerima tawaran NASA?” Seorang wartawati melemparkan pertanyaan di tengah berisiknya suara lampu blitz dan kerumunan wartawan.
Fahmi Firmansyah menarik nafas panjang sebelum kemudian menjawab pertanyaan itu dengan tenang. “Saya yakin, karena ini bukan keputusan saya sendiri. Kami dari Jakarta Space Center telah merundingkannya dalam beberapa pertemuan dan membahas beberapa riset. Keputusannya adalah menerima tawaran tersebut”.
“Doktor Fahmi, tadi Anda mengatakan bahwa pesawat yang akan Anda gunakan dalam eksplorasi ini adalah pesawat luar angkasa mutakhir. Buatan NASA dan ESA, betulkah?”
“Ya, memang benar. NASA dan ESA bekerja sama dengan Indonesia, Malaysia, Turki dan Pakistan dalam pembuatan pesawat SuperVoyage ini. Pesawat ini menggunakan teknologi Zero Point dan dapat membuat medan gravitasinya sendiri. Mesin pesawat ini ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan zat emulsi apapun. Dan yang paling penting energinya yang luar biasa besar. Beribu-ribu kali energi nuklir. Sehingga perjalanan luar angkasa bisa dipotong beratas-ratus kali lipat,” Fahmi menjawab pertanyaan itu, singkat dan padat.
“Maaf, Doktor Fahmi, apakah Anda percaya begitu saja pada NASA? Mengingat ketegangan yang belakangan terjadi antara barat dan Islam. Apakah itu tidak menyinggung sebagian negara Islam yang lain?”
Fahmi terdiam sejenak, ditatapnya wartawan itu. Sebuah Co-Card yang tergantung di lehernya menunjukkan bahwa ia seorang wartawan media massa Islam.
"Hmm… saya sendiri tidak memiliiki rasa curiga apa-apa dengan NASA, karena memang sudah terjalin hubungan yang baik antara Indonesia dengan negara-negara barat. Apalagi dengan semakin majunya perkembangan sains di Indonesia yang didasari Islam. Saya kira ini peluang baik bagi Indonesia untuk mengembangkan teknologi dan sains modern.” Fahmi menjawab pertanyaan itu terburu-buru karena sebuah mobil sedan telah menunggunya di jalan depan tangga.
Orang-orang berperawakan tinggi besar berjas dan berdasi mengamankan Fahmi dari wartawan yang semakin berisik. Cahaya lampu blitz tak henti-hentinya menerpa wajah Fahmi sampai ia masuk sedan itu.
Fahmi duduk di jok belakang. Baru beberapa meter saja mobil itu berjalan tiba-tiba…
“Tuut…. Tuut… Tuut…!”
Handphone Fahmi berbunyi. Sebuah email ber ID-kan ‘mysteriousman’ baru saja masuk. Sudah yang kesekian kalinya e-mail itu masuk tanpa menunjukkan identitas yang jelas. Kali ini ia tak begitu penasaran dengan email itu. Dan benar saja, email itu berisikan tulisan yang sama.
“Hati-hati dengan NASA! Mereka pembohong pengkhianat!”
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.





