Puisi-Puisi Abdul Salam HS
Diposting: Senin, 02 Nopember 2009 / 13:13:39 | Oleh: annida | Kategori: Ekspresi
Halaman ini diakses sebanyak: 530 kali
Rating: 0
DERMAGA DINGIN
Setetes hujan melepuh di tubuh daun kering
Bola mata jatuh dalam dermaga dingin
Suara maut berenang-renag di kolam mengubur percakapan burung-burung
yang terusir dari musim
dari bait-bait angin yang habar kudengar suara anak-anak tanpa baju berlarian
tubuhnya busuk seperti jerami terinjak-injak lumpur
dalam sawah pak tani
menjelang matahari menari di peluk tangan Tuhan
yang berkejaran di tubuh angin perawan
aku terbangkan sumpah serapah
pada mata-mata yang mengapung di kolam kematian
Serang, 15 Febuari 2009
CAHAYA
Seperti malam sunyi tubuhku dirundung kesepian di tempat ini
Kata-kata terbujur kaku oleh tetesan angin asin yang berkelebat
di tubuh malam
Di langit tanpa berkas cahaya, bulan padam di akarya
rumput hijau mati di tanah kering
Aku mengembara mencari cahaya di negri doa
Serang, 2009
SIAPAKAH YANG MENYEMBUNYIKAN API
Siapakah yang menyembunyikan api dalam rongga dadaku
yang berkelebat membunuh bunga-bunga mekar yang kutanam di bibir lampu
siapakah menghilangkan kata, dari percakapan matahari
yang menumpahkan sinarnya di bumi yang sepi
siapakah yang menyembunyikan api, lalu
meletuskannya seperti bom-bom yang memporakporandakan tanah gaza
Serang, 2 Maret 2009
DI TUBUH REL KERETA API
Lesatan azan magrib mengapung di langit sepi
Mengubur percakapan matahari dan bumi di langit barat yang amis
Di tubuh rel kereta api, leleki tua dengn sketsa wajah lusu seperti baju-baju yang belu dicuci kehilangan alamat rumah
Alamat yang merebahkan tubuh pada aliran sungi menuju muara cahaya
Lelaki di tubuh rel kereta api terburai kehilangan mata dan kaki usai azan magrib
Serang, 27 Febuari 2009
MENGECUP RAHIMMU
Kata-kata pagi itu, Ibu
Sebelum embun jatuh dari tangkai-tangkai plastik
Sebelum doa tertulis ribuan malaikat
Aku mengecup rahimu
Rahim yang menghantarkanku
Pada semburat cahaya
Lalu kulukis dengan warana-warna
yang tak pernah kau jejaki
Serang, 2009
SURAT UNTUK HUJAN
Kukirimkan surat untuk hujan yang setiap saat hinggap di pundakku
Seperti baju-baju lusuh yang kupakai setiap hari
Kukirimkan surat untuk hujan lewat jendela senja yang menetes
di tubuh rumah
Kukirimkan surat untuk hujan sebelum sepi menggigil
sebelum segalanya menjadi mati
Masjid, 27 januari 2009
PASIR LAUT YANG ASIN
Ribuan camar menghardik tubuhku yang terburai kaku
Oleh tombak hujan yang menghujam
Tak ada sisia darah yang menetes di dermaga waktu
dan di atas daun kering yang tersembilu
Hanya suara ombak meloncat-loncat di jemari malam
Seperti katak memburu hujan puluhan tahun
yang tak akan lapuh di bait-bait bumi
Tubuh ini sekarat tertusuk ribuan kemarau
Pohon-pohon kering tumbuh di pasir asin
Serang, 5 Febuari 2009
SUARA KEMATIAN
Ada suara kematian kudengar dari beset lidah sepiker
Tubuhnya sayup terpanggang angin
Suara itu seperti suara kemarau yang mengeringkan hujan
di kala musim dingin
Ada suara kematian kudengar dari sejarah malam yang menghantarakan
tubuh pada kesepian
Bulan berkarat, hujan amis, bunga-bunga berguguran di pucuk mata pisau
membuka pintu-pintu luka
Aku dengar suara kematian
Serang, 2009
KENDI
Kendi mataku melelapuh ktika hujan mengubur bayangku
dalam ruang tanpa cahaya
Dan pintu-pintu terkunci oleh ribuan ranting angin
Merayap memblut pohon-pohon di kepalaku
Seperti ular memeluk tikus dalam tumpukan padi
Di tikungn bola lampu bayang-bayang mataku tak bermunculan lagi
Pohon-pohon mati tanpa sebab
embun-embun mengering
Rumah Dunia, 17 januari 2009
Abdul Salam HS. Lahir 16 juni 1992, di Serang, Banten. Pelajar SMA PGRI 1 kota Serang. Karya-karyanya di muat di media lokal, seperti Fajar Banten, Tabloid Kaibon, Tribun Tangerang. Dan sebelumnya pernah memenangkan pembacan puisi juara 2 tingkat pelajr se-propinsi Banten, GBSI Untirta tahun 2008. Sekarang bergiat di Taman Budaya Rumah Dunia sebagai relawan.
Lampiran audio tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




