Debu...Angin...Langit...

 Penulis: Nur Hadi/Adi Zamzam

 

Debu…

Tertiup angin debu beterbangan. Orang-orang kecil selalu hanya bisa menggantungkan angan.

“Kamu nanti tinggalnya di mana, Le? Kamu nanti makannya juga bagaimana? Itu Jakarta lho Le, bukannya Pati,” gundah Emak mengusik impianku.

“Pasti ada jalan, Mak. Bukankah Emak pernah bilang, Tuhan menjamin rizki semua makhluk-Nya?”

“Bagaimana jika ternyata mereka tidak mau menerima keadaanmu?” gundah Bapak pun terlontar juga.

“Aku akan cari jalan lain, Pak. Rugi kalau aku yang sudah susah-susah diterima malah melepaskannya begitu saja.”

Sepeda onta tua telah kupersiapkan untuk jadi teman perjalanan. Sebuah bendera merah putih kuikatkan di bagian belakang sepeda. Beberapa lembar pakaian dan tiga buah buku tulis kumasukkan ke dalam tas. Semangat dan keyakinan pun telah kumasukkan ke dalam hati.

Tangan lelaki itu bergetar ketika mengulurkan tiga lembar seratusan ribu, “Cuma itu yang bisa Bapak berikan. Hati-hati, jangan sampai hilang,” aku tahu, hati lelaki itu pun turut bergetar.

Maturnuwun[1], Pak,” senyumku, berusaha membahagiakan dan membesarkan hati mereka.

“Kenapa harus naik sepeda to, Le?” kedua mata lembut itu telah berdanau.

“Ini nazar jika langkah saya terkabul, Mak. Langkah pertama sudah dikabulkan-Nya,” kucium tangan perempuan itu sepenuh penghormatan.

“Do’akan saya, Mak, Pak.”

Dan aku pun melangkah. Menjadi debu.  Menumpang angin. Berusaha menuju langit menggantungkan cita.

 

Angin…

Angin… bantulah debu ini terbang melaju mengayuh harapan. Aku tahu, anganku memang terlampau tinggi. Aku hanya seorang anak kampung. Bapakku hanya seorang pembuat batu bata. Ibu hanya seorang buruh tani. Aku tahu, aku hanya debu tak berharga saat ini. Tak ada yang bisa kuandalkan dari muasalku. Hanya kau, angin. Tiuplah debu ini. Tiuplah debu ini. Agar langkahku ringan tak terasa.

“Ke Jakarta?!” pemilik warung itu tak percaya.

“Aku diterima Universitas Indonesia di Jakarta, Pak,” kusertakan anggukan. Haus aku. Kuteguk bergelas-gelas air putih pemberiannya. Terima kasih, angin. Terima kasih karena telah kau tiupkan simpati ke lubuk hati pemilik warung itu.

“Kok naik sepeda?” masih terdengar nada tak percaya.

“Itu nazar saya, Pak.”

Geleng-geleng kepala ia.

Angin… mendekatlah ke telingaku. Perdengarkan kepadaku apa kata orang-orang jika tahu tentang kisahku ini; seorang debu yang ingin terbang meraih mimpi ke langit. Ya, aku ini seorang konyol, seorang pungguk yang tak mau mengukur keinginan, sebutir debu yang tak mau melihat kenyataan. Angin… mendekatlah ke telingaku. Bantulah aku menenangkan kegundahan ini.

“Ini… ambillah,” pemilik warung itu mengulurkan sebungkus nasi dan sebotol minuman.

Lekas kugelengkan kepala, “Saya bukan pengemis, Pak” Angin... tentu kau tahu betapa layunya hatiku jika dianggap pengemis.

“Iya, iya, aku tahu kamu bukan pengemis. Ambillah, ini hanyalah sedekahku yang tak seberapa. Bapak pun punya anak seumuranmu. Tapi dia tak seperti kamu. Bapak ingin sekali anak-anak Bapak menjadi seperti kamu. Maka terimalah ini.”

Angin… terima kasih.

Aku mengayuh dan terus mengayuh. Emak Bapak di samping kananku, sedang angin di samping kiriku. Kulihat, dapat kulihat bahwa jalan itu masih amat panjang sekali di depan sana. Tiba-tiba saja aku merasa lelah. Semakin merasa lelah tatkala bayang-bayang panjang itu terus saja menampak di ujung penglihatanku. Angin… apakah kau punya obat untuk mengusir lelahku ini? Atau… kirimkanlah kabar ke tanah kelahiranku di belakang sana, aku butuh bisikan penguat dari mereka.

“Tiga hari tiga malam?!” ujarku setengah percaya dengan penuturan lelaki uban d hadapanku.

Namanya Supar. Tuhan telah mengijinkannya hidup selama tujuhpuluh tahun. Tiga hari tiga malam ia mendorong gerobak yang penuh dengan sapu lidi buah karya tangannya. Per sapunya ia hargai tigaribu rupiah. Bagaimana aku bisa percaya dengan cerita ajaibnya itu? telah tiga hari tiga malam ia menghitung langkah menyusuri jalanan dari Limpung ke Weleri.

Lelaki uban itu mengangguk menjawab rasa tak percayaku. “Nanti kalau sudah habis baru pulang. Lah Anak ini mau ke mana?” ia balik bertanya.

Malu melumuri hatiku. “Ke sekolah, Pak,” ujarku, karena rasa malu itu. Bagaimana tidak malu? Puluhan kilometer telah ia tantang dengan kaki rentanya itu tanpa kudengar keluh sedikitpun. Sedangkan aku? Keluhan demi keluhan membusa di hatiku. Padahal baru beberapa jejak aku menapakkan langkah menuju mimpi jauh. Pantaskah aku menyombongkan diri bahwa akulah si paling gigih dalam hidup?

“Bapak tak punya anak?” lanjutku.

“Punya, tiga orang. Hidupnya susah semua. Bapak malu kalau cuma numpang…”

Angin… bisikkanlah ke telinga lelaki uban itu. Aku tercambuk olehnya.

Langit…Kutatap engkau dengan penuh senyum. Aku pun yakin kau tengah menatapku dengan seyum.

*          *          *

 

Angin telah membawa seorang debu ini ke Indramayu. Pengawalnya telah bertambah seorang di belakang. Dialah lelaki uban yang aku jumpai di tepian jalan Kota Kendal kemarin. Bayang-bayang kegigihannya sungguh memberiku berjuta tenaga baru.

“Minggiir… minggiir…!! Hei, apa kau tak dengar sirine peringatan untuk minggir?!” seseorang, berseragam polisi, menghentikan lajuku yang penuh semangat.

Berselang kemudian, iring-iringan mobil mewah menyita jalanan. Kata orang-orang, mereka adalah pejabat daerah beserta rombongannya.

Ah, benarkah? Heran aku. Kok seperti itu?

Angin… apakah tak pernah kau bisiki para pejabat itu, berapa liter keringat rakyat  terperas demi memuluskan jalannya itu?

Sudah? Jikalau sudah, kenapa tadi terjadi yang seperti itu? Ataukah telinga mereka tak berlubang? Ataukah mereka benar-benar menganggap orang-orang di sekitarnya hanya sebagai debu? Jikalau begitu, dari mana dulu ia berasal? Mutiara, emas, ataukah ia keturunan permata?

Debu… ingin kulontarkan sebuah tanya untukmu. Apakah kau juga akan melupakan asalmu setibanya di langit nanti?

*          *          *

 

Perbatasan Jawa Barat telah tertinggal jauh di belakang seorang debu ini. Onta tuaku berguncang-guncang, terantuk-antuk, sesekali gagal menghindar lubang demi lubang yang menghiasi sepanjang jalan Pantura. Membuat perutku sakit dan sebentar-sebentar harus menepi berdamai dengan rasa lelah.

Entah berapa kilometer lagi aku harus menyediakan kesabaran melintasi jalanan bopeng Pantura. Aneh saja kenyataan ini.

Telah kurekam pemandangan itu dengan kedua mataku. Proyek perbaikan jalan Pantura yang tak kunjung selesai meski telah didukung buldoser dan berbagai alat canggih. Angin membisikiku, konon lubang-lubang itu akan muncul kembali dalam selang bulan setelah proyek perbaikan.

Aneh pula catatan yang masih tersimpan rapi dalam kepalaku. Tentang seorang Belanda bernama Herman Willem Daendels. Si tangan besi itu telah mempersembahkan tumbal ribuan nyawa dan memaksa jutaan sisanya yang masih bertahan hidup untuk mewujudkan mimpi gilanya. Sebuah jalan raya yang membentang antara Anyer hingga Panarukan, menghubungkan ujung barat dengan ujung timur hanya dalam rentang waktu satu tahun.

Bagaimana bisa seribu kilometer hanya butuh waktu sependek itu, sedangkan peralatan sudah pasti amat terbatas? Bagaimana pula jalan itu mampu awet bertahan mengawal sejarah hingga detik ini? Apa yang membedakan zaman kala itu  dengan zaman sekarang? Bukankah kala itu peralatannya kalah canggih dengan peralatan zaman sekarang?

Siapa yang sebenarnya penjajah bangsa?

Bendera kecilku menjawabnya dengan menunduk lesu.

Kucabut ia dari tempatnya semula. Kurasa, ia hanya sedih karena selama ini kuikatkan di belakang. Kupindah ia ke bagian depan. Ya, seharusnya bendera itu memang diletakkan di depan agar ia bisa terus berkibar diterpa angin.

*          *          *

 

Angin… tolonglah kau ceritakan ke Emak Bapak bahwa cahaya meredup ketika kayuhanku telah melewati gerbang Jakarta. Matahari sepertinya mengerti, aku butuh teduh.

Aku sering dengar, kehidupan ibukota amat panas. Tak cuma hawanya, hati para penghuninya juga. Banyak debu beterbangan di sini. Debu yang saling berlomba ingin terbang ke langit meraih mimpi-mimpi. Dan sekarang kurasa aku juga menjadi bagian dari mereka.

Angin… kabarkanlah kegembiraanku tentang pemandangan indah yang kini kujumpai kepada Emak Bapak agar gundah tak mengusik mereka. Rindu terbayar sudah. Meletup-letup semangatku ketika bias cahaya yang memantul dari danau menyilaukan pandanganku pada deretan huruf yang merangkai kata; Universitas Indonesia. Angin… jangan kau tiup khayalanku bahwa suatu saat nanti akan kuboyong dua jiwaku di tanah kelahiran sana untuk mengawalku berfoto mengenakan toga sarjana.

“Tiiinn… tiiinn…!” klakson roda empat mengagetkanku. Seperti biasa, debu macam diriku harus menyingkir memberi jalan. Kupikir mereka orang-orang pembesar di kampus impianku ini. Alangkah banyaknya mobil-mobil itu, beriringan tak habis-habis. Saat mulut mobil terbuka dan memuntahkan isinya, takjubnya aku melihat pemandangan ini. Takjub yang bercampur was-was.

Ternyata mereka adalah bakal para pesaingku. Angin… bagaimana aku tak was-was? Debu sepertiku harus bersaing dengan mereka yang serba ada? Adakah yang bisa kuandalkan selain semangat dan kemauan?

“Maaf, Mas. Sepedanya diparkir di pojok sana saja ya,” tegur seorang satpam.

Aku tersenyum getir. Bukan, bukan karena kemiskinanku. Kalaupun cuma semangat dan keinginan, kupikir aku tak kalah dari mereka. Aku hanya ingin menghormati onta tuaku. Meskipun bentuknya memprihatinkan dan mulai berdecit-decit karena mungkin kelelahan dan butuh sentuhan  bengkel, jangan anggap jasanya kalah dengan mobil-mobil mengkilap itu. Sebelum masa pensiunnya tiba, ingin sekali aku menghormatinya.

“Jumlah seluruh biaya awal sekitar lima jutaan, Mas. Ini perinciannya.”

Aku sudah mengira akan bertemu ini.

 “Kalau ingin konfirmasi soal beasiswa, temui saja Bapak Anu di bagian Dekanat.”

Dan aku pun sudah mengira akan bertemu yang ini.

“Wah, itu bukan wewenang saya. Carilah Pak Anu di bagian Rektorat.”

Angin… bisikkanlah ke telinga mereka tentang kisahku yang telah mengayuh ratusan kilometer demi sampai ke tempat ini. Angin… bantulah aku. Aku tahu, perjalananku masih teramat panjang dan lebih melelahkan.

Sejenak aku menepi untuk sekedar melihat langit.

Langit… ijinkanlah aku memperbaiki satu demi satu kesalahan yang kujumpai sepanjang perjalanan kemarin, nanti. Langit… antarkanlah aku menuju cita-citaku….*****

 

 

 

 



[1] Terima kasih

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...