Tabligh Akbar dan Silaturrahmi Muballighoh Se-DKI Jakarta
Diposting: Minggu, 17 Januari 2010 / 01:33:11 | Oleh: annida | Kategori: Citizen Journalism
Halaman ini diakses sebanyak: 83 kali
Rating: 0
Pada Kamis, 7 januari 2010, gedung SG1 Asrama Haji Pondok Gede Jakarta
Timur tampak lebih ramai dari biasanya. Ruangan dipenuhi oleh 1000 Muballighoh
yang berdatangan untuk menghadiri acara Tabligh Akbar dan Silaturrahmi
Muballighoh se-DKI Jakarta. Acara ini diselenggarakan oleh Muslimah Hizbut
Tahrir DPD 1 DKI Jakarta dalam rangka memperingati bulan Muharram 1431 H. Karena
itu, tema acara yang diangkat adalah ”Refleksi Muharram: Rapatkan Barisan,
Kokohkan Ukhuwwah, Songsong Khilafah”.
Sejak pagi, peserta tabligh akbar susul menyusul memasuki gedung. Bahkan
sampai pertengahan acara pun, masih banyak peserta yang mengantri di meja
registrasi dengan wajah tak sabar ingin segera memasuki gedung dan ikut
bergabung untuk menyimak acara. Peserta yang hadir pada acara tersebut adalah
para Muballighoh dari seluruh antero Jakarta yang memiliki komitmen kuat untuk
menjadikan Syariat Islam sebagai solusi atas setiap permasalahan yang terjadi
di Jakarta dan dunia secara umum.
Acara tabligh akbar diawali dengan narasi yang bertema “Paradoks Indonesia”,
bercerita mengenai gambaran Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang kaya
baik dari hasil lautan, pertanian, kehutanan, dan pertambangan; jumlah penduduk
muslim terbesar sedunia; memiliki tentara militer yang kuat, namun semuanya itu tak mampu memberikan
kesejahteraan dan perbaikan bagi kehidupan masyarakat. Karena yang ada saat
ini, hanyalah kepiluan dan keprihatinan berupa kemiskinan, degradasi moral,
peningkatan korupsi, hukum yang tidak adil, dan militer yang tidak bernyali
dalam mempertahankan keamanan dari penjajahan asing.
Kemudian tampil ke podium, ketua Muslimah Hizbut Tahrir DPD 1 DKI Jakarta,
Syurthoh Rosyidah Siregar. Beliau menjelaskan bahwa Muharram adalah momen
perubahan, dari masa kejahiliyahan ke masa yang sesuai dengan petunjuk dan
aturan Allah. Karena itu, menurut Syiddah, momen ini adalah momen yang tepat
bagi kaum muslimin untuk semakin menyatukan kekuatan dalam perjuangan penerapan
Islam Kaffah di dalam naungan Daulah Khilafah Rosyidah. Dan ulama sebagai
pewaris nabi tentunya memiliki peran yang sangat penting dalam proses penyatuan
dan pembinaan umat. Dengan penuh semangat, beliau membakar semangat para
Muballighoh untuk semakin menguatkan barisan umat dalam satu perjuangan demi
tegaknya kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin di bawah naungan Khilafah. Peserta
nampak semakin bersemangat dan meneriakkan takbir secara serentak. Allahu
Akbar! Allahu Akbar!
Ibu Dr. Hj. Tutty Alawiyah AS, rektor Universitas Asy-Syafi’iyah Jakarta,
hadir selaku Keynote Speaker. Beliau berpesan bahwa membangun generasi Islam
yang tangguh adalah hal sangat penting, jika tidak maka umat ini akan
terjerumus dalam kehancuran. Kemudian acara dilanjutkan dengan orasi-orasi yang
disampaikan oleh Dr. Isnawaty Rais, MA (Anggota Majelis Fatwa MUI Jakarta), Hj.
Sugesti Supodo (Penasehat Persistri Pusat), Ummu Nisa BA (Lajnah Faaliyah MHTI
DPD 1 DKI Jakarta), Hj. Irena Handono (mantan biarawati dan ketua umum Gerakan
Muslimat Indonesia), dan Ir. Ishmah Cholil (DPP MHTI).
Para orator menyampaikan mengenai fakta-fakta liberalisasi yang terjadi
pada keluarga-keluarga muslim saat ini. Selain keluarga bahkan pendidikan, dan
generasi muda pun tak luput dari cengkraman liberalisasi tersebut. Apabila hal
itu semua didiamkan, maka yang terjadi adalah kehancuran keluarga dan umat
muslim secara kaffah.
”Keluarga islami adalah kekuatan utama umat Islam yang berlandaskan pada
Syariat Islam yaitu Al-Quran dan Sunnah.” Begitu papar Dr. Isnawaty Rais, MA.
Lebih lanjut beliau memaparkan bahwa kerusakan umat Islam disebabkan karena
pijakan-pijakan yang dipakai oleh masyarakat adalah aturan yang bertentangan
dengan aturan Allah. Misalnya saja, saat ini merebak isu gender yang sengaja
disebarkan oleh orang-orang kafir untuk merombak dan menggugat tata kehidupan
masyarakat dalam kehidupan berumah tangga serta membuat wacana-wacana yang
bertentangan dengan aturan-aturan Islam, seperti diperbolehkannya istri menjadi
kepala keluarga, dan dilarangnya poligami.” Begitu paparnya.
Selain liberalisasi keluarga, ternyata pendidikan kaum Muslimin pun sudah
dicengkeram kuat oleh liberalisasi. Ummu Nisa BA memaparkan dengan rinci
mengenai rusaknya kurikulum saat ini, dipinggirkannya bahasa Arab dalam
pembelajaran, dan merebaknya kebebasan media teknologi informasi yang
berpeluang besar dalam merusak akhlak generasi muda. Dilanjutkan oleh Hj.
Sugesti Supodo, yang menekankan bahwa kehancuran umat saat ini diakibatkan
karena diterapkannya sistem Kapitalis Sekuler, dan mencampakkan Islam Kaffah
dalam pengaturan seluruh aspek kehidupan.
1000 Muballighoh semakin memanas, bukan karena udara dalam ruangan, tapi
karena ideologi Islam yang semakin membara di dalam benak masing-masing
peserta. Hj. Irena Handono menegaskan kembali bahwa kemakmuran dan keadilan
akan ada hanya jika Islam ditegakkan di muka bumi. Apabila tidak, maka tinggal
menunggu azab pedih yang pasti akan diturunkan Allah sebagaimana Allah telah
mengazab masyarakat Pompei di Yunani. Sebagai orator penutup, Ishmah Cholil
menyampaikan mengenai urgennya dilakukan dakwah politis tanpa kekerasan.
”Bahwa perjuangan mengembalikan kejayaan Islam di bawah naungan Daulah
Khilafah adalah sebuah perjuangan politis karena Khilafah adalah negara yang
akan mengatur dan melindungi kehidupan umat Islam. Maka, peran muballighoh
sangat penting sekali dalam penyebaran dakwah politis ini di tengah-tengah
umat” begitu papar Ishmah.
Setelah orasi-orasi selesai, acara dilanjutkan dengan aksi teaterikal
bertema ”Ironi Negeriku”. Yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan dan
penandatanganan mitsaq Muballighoh. [Lajnah Ilamiyah MHTI DPD 1 DKI
Jakarta]
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.



