Surat Buat Dik Mar

Diposting: Selasa, 08 September 2009 / 09:15:19 | Oleh: annida | Kategori: Citizen Journalism

Halaman ini diakses sebanyak: 172 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Anies Septivirawan

 

Hari ini genap sudah tiga tahun kita tidak saling berkomunikasi baik lewat telepon maupun  internet. Ingatanku masih bening bahwa aku dan kau saling kenal pertama kali di dunia maya.

Aku masih ingat pagi itu kita ngobrol iseng hingga serius di dunia maya dengan identitasku anies_septivirawan dan kau beridentitas melany_asrra. Tidak berapa lama kita pun saling akrab dan saling mengikat janji untuk tidak meninggalkan satu sama lain, aku dan kau. Kau juga mulai membuka diri bahwa namamu yang sebenarnya adalah Ana Martiah yang kala itu kau masih bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di negeri Hongkong.
Dan, kau bercerita kepadaku kalau kau sudah berstatus janda beranak satu dengan umur 25 tahun.

Aku masih ingat sungguh kala kau bercerita situasi dan kondisi perekonomian keluargamu di Blitar. Kau katakan padaku, terlahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara yang tinggal di sebuah desa paling ujung selatan di Kecamatan Bakung, Blitar. Dan, aku pun kian menjadi paham keadaan yang sebenarnya tentang rumahmu dan desamu karena kau memintaku datang ke desa Sidomulyo, tempat kau dilahirkan. Aku sampai di rumahmu karena kau menyuruhku agar sampai dan berkenalan dengan keluargamu di desa yang berbatasan dengan laut selatan kala itu. Ya, kala itu aku masih ingat  benar, sesampai di sana, aku bertemu dan disambut baik oleh saudara lelakimu yang kini juga sedang merantau ke negeri orang. Dan, sebelum aku sampai di rumahmu, kau berjanji untuk yang kesekian kalinya kepadaku lewat telepon genggammu bahwa kau memang tidak pernah akan meninggalkanku.

Kau juga katakan bahwa antara kau dan aku tidak mungkin terpisahkan kecuali karena sebuah tragedi kematian. Dan, yang juga masih aku ingat dan paling aku ingat, adalah pinjaman uang dengan nominal Rp 1,5 juta yang kau berikan kepadaku ketika aku masih berada dalam situasi pelarian pada saat aku sedang dikejar-kejar aparat hukum gara-gara aku sering menulis berita-berita korupsi para pejabat di kota keahiranku.

Hingga kini aku masih ingat bagaimana rasanya dingin angin malam menampar sekujur tubuhku ketika aku tidur di bangku-bangku peron terminal bus, tidur di bangku panjang stasiun kereta di tiap kota yang aku singgahi. Kala itu, kehadiranmu meskipun sebatas suara dalam telepon genggam memang benar - benar aku butuhkan demi mendongkrak semangat hidupku yang saat itu nyaris rapuh. Aku ingat kau menelepon aku sehari tiga kali. Pagi, siang dan malam kau tanyakan aku sudah makankah aku.
Kendati lewat telepon, kau tanyakan aku, nyenyakkah aku tidur di bangku peron terminal bus dan di bangku panjang stasiun kereta? Bahkan, kau suruh aku agar sebaiknya pulang saja ke rumah,

Tetapi, aku berjanji padamu jika keamanan bagi diriku sudah menjamin, aku akan pulang. Kau masih ngotot menyuruh aku pulang, agar nenek dan pembantu yang tinggal di rumah tidak kebingungan akan keberadaanku. Kau bilang berkali-kali dari seberang telepon bahwa kau benar-benar menyayangiku. Rasa sayangmu padaku, kau katakan tidak ubahnya rasa sayangmu terhadap nenekmu sendiri yang kala itu baru saja meninggal di usianya yang ke-78.

Kau bilang dan selalu akrab memanggil nenekmu dengan panggilan "Mbah Saminah". Nama itu masih terngiang di telingaku karena kala itu juga nenekku di rumah sudah berusia lanjut dan sudah sakit-sakitan.

Di usianya yang ke 87 tahun, nenekku yang dirawat seorang pembantu di rumah sering mengeluh selalu ingin aku pulang. Dan tidak kuduga, di sore hari yang cerah dalam pelarianku, telepon genggamku bergetar dan berbunyi. Kau meneleponku dan meminta aku yang ke sekian kalinya agar aku segera pulang. Kau meneleponku sepertinya tahu apa yang sedang terjadi terhadap
nenekku, meskipun sebenarnya nenekku telah dipanggil Yang Maha Kuasa.

Yah, nenekku telah meninggal. Kabar duka nenekku itu dapatkan dari saudara sepupuku di kotaku. Saudaraku menelepon dan mengabariku bahwa nenek telah meninggal tepat pukul 03.00 WIB sore hari.

Aku pun pulang dengan berpenampilan penyamaran agar aparat tidak mengendus kedatanganku di kota kelahiranku, Situbondo. Seminggu setelah kematian nenekku, aku rasa situasi bagiku
aman dan aku mulai bebas lagi mengirimkan berita ke berbagai surat kabar karena statusku kala itu, sebagai wartawan free lance. Namun, suasana duka masih melekat di benak dan hatiku karena kematian nenekku. Namun, belum juga kering rasa luka dan duka itu, kau telepon aku lagi dan kau menyatakan tidak akan berhubungan dengan aku lagi tanpa alasan yang jelas.

Luka hatikupun bertambah dalam. Janji-janji yang kau ucapkan sendiri kepadaku di seberang telepon kala itu telah kau hapus, seolah-olah kau tidak pernah berjanji untukku. Aku nyaris seperti orang gila ketika itu. Berbagai pelipur lara telah aku jalani demi menghapus lukaku selama sebulan penuh belum juga mampu menghapusnya. Dan, aku kian tak mampu menguasai diriku yang kian hari kian rapuh. Namun, luka itu dengan sendirinya pergi meninggalkan keseharianku.

Meskipun sampai detik ini aku belum mampu melupakan hubungan telepon dan dunia maya di antara kita. Terus terang, kuakui aku masih ingat kita tiap hari chating dan identitas mayamu adalah melany_asrra@yahoo.com. Nomor HP mu dengan kode +85, yakni kode negara Hongkong.

Namun, setelah kau lama tidak berkomunikasi denganku, aku temui kau lagi di dunia maya dengan identitas inem_endel@yahoo.com . Dan, ketika aku bertegur sapa kepada identitas (ID) baru yang kau buat, kamu marahi aku entah karena apa. Padahal aku tahu, kau sudah punya pacar baru. Aku tahu kau setiap hari chatting dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) cowok di
Jepang asal Surabaya. Hatiku mulai gundah kembali kendati hanya sesaat. Gundah hatiku bukan karena takut kehilangan kau dan bukan pula karena cemburu gara-gara orang ketiga. Akan tetapi,
aku merasa bersalah belum bisa mengembalikan uang pinjamanmu itu kepadamu.

Ketika sampai pada hari ketiga saat aku mencari lagi identitas inem_endel@yahoo.com untuk kuajak ngobrol seperti kemarin-kemarin, tiba-tiba ID-mu itu sudah tidak pernah online lagi, nomor HP-mu saat kuhubungi juga sudah tidak aktif. Aku bingung harus menghubungimu lewat apa. Meski hingga saat ini kau tidak bisa aku hubungi lewat apapun, tetapi aku yakin melalui surat ini kau pasti akan membacanya.

Blitar, 2006

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :