Pulang
Diposting: Selasa, 01 September 2009 / 09:14:40 | Oleh: annida | Kategori: Citizen Journalism
Halaman ini diakses sebanyak: 187 kali
Rating: 0
Raff
Alya memutuskan untuk pulang kampung hari. Sekedar melepas lelah setelah sekian bulan bergelut dengan rutinitas yang membosankan.
Ah....kampungku kini tak seindah dulu.
Sawah yang terbentang luas, gunung yang kokoh menjulang tinggi dan pepohonan yang menghijau telah terhalang oleh beberapa bangunan rumah baru. Tapi setidaknya Alya masih bisa menikmati segarnya udara pagi, sejuknya air pegunungan disaat membasuh muka yang memberikan kedamaian pada hatinya.
Alya menghela nafas panjang-panjang. Ingin rasanya ia melepas beban yang selama ini menghimpit bathinnya. Ia tak ingin menyesali hidup. Ia merasa kenyataan yang dialaminya sekarang ini adalah yang terbaik. Tapi ia pun tak bisa mengingkari suara hatinya. Ia tetap merasa ada ketidak adilan dalam hidupnya. Dari kecil ia terbiasa hidup dalam aturan, tak bisa menentukan jalan hidup sendiri.
" Mama.....", suara kecil itu membuyarkan lamunannya.
Vini kecil menghampiri, dengan manja ia duduk di pangkuan Alya.
" Kamu ngantuk sayang ? Ayo Mama antar kamu tidur.." Alya mengangkat tubuh mungil Vini, mencium pipinya dan menggendongnya masuk kedalam kamar. Seperti biasa Vini memintanya membacakan sebuah buku cerita. Padahal Alya tahu sebelum buku itu habis dibaca,Vini sudah tertidur lelap.
Vini adalah hasil perkawinan Alya selama 3 tahun. Walau perkawinannya tidak diawali dengan rasa saling mencintai, tapi mereka bisa cukup saling memahami dan menerima kenyataan dengan tangan terbuka. Dan kini kehadiran Vini kecil telah mengikat hubungan mereka, yang bisa membuat mereka tetap bertahan.
Alya tidak merasa perkawinannya ada masalah. Suaminya baik, bertanggung jawab dan penuh perhatian. Masalahnya mungkin muncul karena Alya kadang terlalu menuntut banyak dari dia. Alya ingin dicintai, disayang, disanjung, dimanja seperti yang pernah Alya dapatkan dari Rio.
" Rio......." Tanpa sadar Alya mengucapkan nama itu. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mengucur. Sampai-sampai tangannya gemetar.
Perasaan apa ini ? Mengapa setiap kali aku memikirkan dia, aku gugup sekali ? bathin Alya dalam hati.
Hampir satu tahun ia tidak bertemu dengan laki-laki itu. Tanpa kabar. Tanpa tahu apa yang tengah Rio kerjakan sekarang ini. 10 Tahun Alya mengenal Rio. Setelah lima tahun, baru Alya menyadari bahwa Rio sangat menyayanginya, dan tanpa sadar Alya pun sangat menyayangi Rio. Dari semula mereka benar-benar sudah menyadari kalau mereka tak mungkin bisa dipersatukan dalam sebuah ikatan.
Aku masih mengingatnya, aku masih merindukannya. Tapi...apakah dia masih mengingatku ? Ah...aku harus bertemu dia...! Kata-kata dalam hati Alya terus memberontak.
Sudah hampir satu minggu Alya tinggal di kampungya. Ia memutuskan tidak akan pulang sebelum ia bertemu dengan Rio yang rumahnya tak begitu jauh dari rumah orang tua Alya.
Bersama Vini kecil, sore itu Alya mendatangi rumah Rio. Sengaja ia bawa Vini agar Rio tak tahu bahwa ia selalu gugup jika bertemu dengannya.
Dari jauh Rio sudah tersenyum. Sepertinya dia lebih dulu melihat kedatangan Alya. Jantung perempuan cantik itu berdegup kencang. Alya tahu matanya berair, tapi ia memaksakan agar bibirnya tetap tersenyum. Saat itu ingin rasanya Alya berlari memeluk Rio, menumpahkan semua rindunya. Tapi akalnya masih sehat. Ia bisa menahan diri walaupun dengan susah payah.
" Apa kabar, Yo?" sapanya. Perempuan itu berusaha bersikap sewajar mungkin.
" Baik, Al. Ayo masuk !"
Rio mempersilahkan Alya duduk di ruang tamu. Ruangan yang masih tetap terawat seperti dulu ketika Alya pertama kali datang ke rumah itu. Ruangan yang masih ramah menyambut kehadiran Alya.
" Apa kabar, Al ?" tanya Rio. Dia duduk disebelahku. Di kursi yang dulu menjadi tempat duduk mereka berdua, menghabiskan waktu bersama.
" Aku baik-baik aja, Yo. Aku kangen sama kamu. Jadi..aku sempatkan waktu untuk datang kesini. Walaupun sebenarnya aku... malu.." Rio tersenyum,
" Kenapa mesti malu, Al ? Aku senang kamu datang. Aku pengen tahu cerita-cerita tentang kamu "
" Aku tak punya cerita apa-apa, Yo. Tak ada yang aneh dan berkesan dalam kehidupanku. Kamu dong yang cerita !" pinta Alya.
Wanita itu menatap Rio. Tak ada yang berubah dari diri laki-laki itu. Sering Alya menganggapnya anak kecil, seperti saat pertama Alya mengenalnya 10 tahun yang lalu. Padahal usianya tak jauh berbeda dengan Alya, hanya saja Alya merasa lebih cepat tua dari dia.
" Terlalu banyak yang pengen aku ceritakan, Al. Aku bingung mesti mulai dari mana " kata Rio.
Dia menyalakan sebatang rokok.
Kebiasaan lama, fikir Alya.
" Untuk menghilangkan nervous " ucap Rio sambil menyimpan korek api. Laki-laki itu seperti tahu apa yang sedang difikirkan Alya. Perempuan itu cuma tersenyum.
Apakah dia juga gugup ? bathin Alya
Lama mereka terdiam. Rio asyik dengan asap rokoknya, Alya sibuk dengan dengan lamunannya. Banyak yang ingin Alya ungkapkan, tapi tak sepatah katapun keluar dari bibirnya yang mungil. Untung ada Vini, si kecil itu memecahkan keheningan dengan suaranya yang manja.
" Ma..pulang...." rengek Vini
" Ya..sayang...sebentar lagi kita pulang ya...." Alya mengangkat tubuh mungil Vini keatas pangkuannya.
" Kamu masih menyimpan diary kita, Yo ?"
" Foto kamu pun masih aku simpan." Rio mematikan rokoknya, menyalakan lagi yang baru dan menghisapnya.
" Buat apa kamu simpan, Yo? Foto itu sudah tak ada artinya lagi. Biar aku ambil ya ?"
" Jangan dong, Al ! Biarkan dia ada ditempatnya seperti dulu " Rio menarik tangan Alya yang hendak mengambil foto di kamar Rio. Alya cepat-cepat melepaskan tangan Rio. Takut laki-laki itu merasakan kalau tangannya berkeringat dingin.
Mereka kembali duduk terdiam. Rio masih asyik memainkan asap rokoknya. Tapi Alya tahu walau mereka terdiam, hati mereka sebenarnya tengah bicara tentang sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
" Yo, mungkin aku tidak akan lama. Aku Cuma ingin bertemu. Kapan-kapan aku mampir lagi " ucap Alya sambil berdiri.
" Sebentar, Al. Ada yang ingin kutunjukkan " Rio berdiri dan masuk ke kamarnya. Tidak lama dia keluar sambil membawa secarik kertas. Ternyata selembar surat.
Pasti dari perempuan. Hati Alya sudah menduga-duga. Rio menyerahkan kertas itu.
" Namanya Nia "
Perasaan Alya tak menentu. Sama sekali Alya tak membaca tulisan diatas kertas itu. Tiba-tiba matanya berair. Ia tahu Rio sedang menatapnya. Alya makin menunduk. Alya takut Rio tahu kalau Alya menangis. Tapi tak bisa ditahan lagi, tangis Alya pun pecah.
Seketika Rio kebingungan, Vini kecil pun bertanya-tanya sambil membelai wajah ibunya.
" Mama nangis Ya...?" ucap gadis kecil itu.
" Tidak apa-apa sayang......" Alya menghapus air matanya dan mencoba untuk menenangkan diri.
Ah...Rio....kalau saja kamu tahu perasaan ini. Aku cemburu sekali, iri, kesal tapi bercampur bahagia. Bagaimana bisa perasaan itu bersatu ? Itulah kenyataannya.
Disatu sisi Alya bahagia bila Rio telah menemukan cintanya. Tapi rasa cemburu itu yang membuat kebahagiaan Alya berubah menjadi tangis.
Akhirnya Alya pulang tanpa penjelasan. Alya merasa butuh waktu untuk bisa menjelaskan perasaannya. Ia biarkan Rio bertanya-tanya sendiri.
" Maafin aku, Yo. Aku tidak bermaksud membuat kamu penasaran. Hanya saja, aku tak bisa mengatakannya sekarang. Aku tunggu besok di rumah ya ! " pinta Alya sambil melambaikan tangan.
" Aku pasti datang " Rio membalas lambaian tangan Alya.
***
Mendung masih menggantung di pagi yang muram. Langkah-langkah kaki saling berkejaran menyusuri jalan setapak yang menanjak. Alya dan Rio berjalan kaki melewati tempat-tempat yang dulu perneah mereka kunjungi. Mereka cuma bisa terdiam seperti ingin menikmati perjalanan yang singkat itu.
" Kamu bahagia, Al ? " Tanya Rio suatu ketika
Alya menarik nafas panjang.
" Untuk saat ini, ya ! Kalau saja aku tidak takut orang disekitar menganggapku gila, mungkin aku akan berteriak menumpahkan kebahagiaan ini " ucap Alya pelan sambil tersenyum kecil.
Mereka kembali terdiam.
" Aku takut, Yo..." tiba tiba suara lembut Alya memecah keheningan.
" Takut ? "
" Aku takut penilaian kamu terhadapku, aku takut penilaian orang tetang kita. Takut berdosa kalau aku terus mencintaimu. Semua orang pasti mengatakan kalau aku selingkuh ! "
Rio menghembuskan nafas.
" Kita memah Salah, Al ! tapi....aku tak tahu kenapa aku justru menikmati ini. Aku bahagia. Meski kebahagiaan itu telah ada batas. Sudahlah, Al. Kalau ada masalah Kita harus berani menghadapinya bersama "
" Tapi..aku takut sekali Rio.." suara Alya bergetar. Dalam hatinya ia ingin sekali memeluk Rio, menangis dan mendapatkan ketenangan dalam pelukannya. Tapi Ia tak berani.
Aku masih ingat. Dulu ketika hatimu galau kamu berani memelukku. Walau agak terkejut aku berusaha menenangkanmu, Yo. Meyakinkanmu kalau aku ada disampingmu. Menciummu dengan tulus agar kamu merasa besar hati. Tapi kenapa kamu tak melakukan itu ketika aku gelisah Yo ? Ah...aku ini siapa ? Aku tak berani walau sekedar menyentuh tanganmu, seperti ada dinding kaca yang membuat kita terpisah.
Perasaan Alya terus berkecamuk. Rio menghentikan langkahnya.
" Sebaiknya kita tidak usah mengatakan apa-apa, Al. Kita nikmati saja perjalanan yang tinggal sesaat ini. Kata Rio.
" Tapi aku masih ingin bicara, Yo !" Rio kembali berjalan, " Selama ini aku mencoba melupakan apa yang pernah ada diantara kita, tapi aku tak bisa ! Mungkin karena kamu masih mengingat aku, maka akupun akan selalu mengingatmu. Disi lain aku tak mau kau lupakan. Tapi dilain pihak aku merasa tak mampu untuk membagi perhatian. Bagaimana keluargaku bila aku terus memikirkan kamu. Sekarang saja hidupku seperti mengambang. Aku tidak tahu dimana aku harus berpijak "
Rio terdiam.
" Kenapa kamu diam, Yo?" Tanya Alya lagi
" Akan lebih baik kalau kamu tidak mengatakan apa yang kamu rasakan tadi. Itu akan merubah suasana hati kita.
" Maafkan aku Rio ...." Alya kembali diam dan terus berjalan hingga akhirnya sampai didepan pintu rumah.
" Aku tidak mau pulang Rio, kenapa pertemuan kita Cuma sesingkat ini? Aku masih ingin bersamamu "
Alya berdiri di depan pintu menatap wajah Rio, dalam hatinya ingin sekali tangannya menyentuh wajah Rio, mengatakan padanya kalau ia menyayangi laki-laki itu.
" Sudahlah, Al. Pulanglah ! Kembali pulang, suami dan anakmu pasti menunggu "
Kalimat ini mengejutkan perempuan cantik itu. Seakan menyadarkan Alya dari mimpi.
" Aku pulang, Al....!" akhirnya Rio pamit dan Alya hanya bisa menatap punggung laki-laki itu. Alya masuk ke kamar. Ia lihat Vini terlelap dengan tenang. Ditatapnya gadis mungil itu, mencoba mengembalikan kesadarannya yang seakan pergi kealam mimpi. Tapi ini bukan mimpi. Ini kenyataan kalau hatinya tertinggal di suatu tempat yang hanya diketahuinya
" Aku sadar, aku bukan malaikat yang tak pernah melakukan kesalahan. Aku tak bisa mengelak dari cinta. Biar kusimpan perasaan cintaku. Entah sampai kapan ......" ( 16 Oktober 1998 )
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.





