Identitas Islam
Diposting: Senin, 14 Desember 2009 / 13:46:25 | Oleh: annida | Kategori: Citizen Journalism
Halaman ini diakses sebanyak: 159 kali
Rating: 0
Penulis: Muhamad Shamil Basayev
Kisah perjuangan orang-orang yang berbaju ajaran islam di Indonesia sudah nampak sejak lahirnya sebuah gagasan yang bersarang di dalam rahim pemikiran kaum penentang paham sosialis komunis. Zaman itu tercantum dalam catatan sejarah sebagai zaman yang gersang, tiada ada perbincangan barang segigit pun dari kedua kubu yang ambisinya mengarah pada persatuan dan kesatuan. Semuanya tenggelam dalam jilatan kekuasaan, honoritas kepahlawanan, dan dasar pemikiran yang dimainkan secara bertabrak-tabrakan.
Masyarakat Indonesia yang menyembah islam secara fanatik akhirnya tumbang ditebas pedang penguasa yang sinarnya menuding-nuding mereka sebagai pemberontak kelas tinggi dan akan membahayakan stabilitas Negara. Sebagian besar dari mereka menjadi korban perang yang ditembus mentah-mentah oleh peluru-peluru tak berdosa, dihisap nyawanya oleh kedinginan, digerogoti raganya oleh penyakit, dan perut mereka dikeluhi kelaparan agar mengemis-ngemis ke sana ke mari walau dengan sebatas doa, karena faktor lingkungan yang dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan kemurkaan. Kedengkian sang penguasa terhadap ekistensi islam semakin hari semakin bergejolak, amarahnya melamun “Suatu saat mereka akan menjadi kaum teroris dan akan meneror gema politik kita”, dan pada niatnya yang suci bagi pandangan prinsip hidupnya, ia berencana menyembelih tindakan mereka dengan menangkap pimpinan utama dan menawannya di dalam kubur yang abadi.
Zaman dilalui sang waktu yang terus merekam kehidupan dengan pena yang tintanya tak bertepi. Islam pun berkembang mengikuti peradaban sang penguasa, dan sejarah dikendalikan oleh yang kuasa, tiada yang memprotes hal ini, karena islam pun memakluminya, sejarah mereka memang ditulis oleh yang Kuasa.
Kisah perjuangan orang-orang yang memakai hiasan ajaran islam di dalam hidupnya telah nampak di tahun-tahun berikutnya, perdamaian yang berjabat tangan langsung dengan ketentraman saling berpeluk kasih. Aneka silaturahmi yang merantai jalinan saudara dipererat dengan sikap saling tolong-menolong, dan perencanaan mereka untuk melangkahkan nuansa kehidupan islami ke depan memang sudah menjadi mimpi para malaikat, meskipun mereka berada pada kungkungan Nasionalisme.
Angin perekonomian yang sejuk membawa semilir kesegaran terhadap raga yang lusuh, kesejahteraan rakyat mencapai titik hijau daun, tanah pun basah dikecupi air mata kegembiraan rakyat Indonesia. Tetapi, selang pola pikir sang penguasa yang menghubungkan sejarah islam masa lalu dengan peradaban yang dijunjung tinggi oleh hakekat kehidupan zaman pemerintahannya membuat rasa khawatirnya kambuh, ia takut kalau detik memburu menit dalam masyarakat yang menganut ajaran islam pada masa orde baru akan menjelmakan konsep islam pada masa lalu. Azabnya terhadap masyarakat islam mengarang “Hari ini mereka akan menjadi kaum teroris dan akan meneror batin sosial”, dan pada niatnya yang suci bagi pandangan hidupnya, ia berencana besar-besaran untuk membantai umat islam tanpa terkecuali. Berbagai kerusuhan seperti menyala dari apinya yang padam, pembakaran kehidupan yang serba islami secara hidup-hidup dibijakan, pengibaran bendera yang berbau kesengsaraan diumumkan oleh sang angin khusus untuk kaum Muslimin.
Zaman dilalui sang waktu yang terus merekam kehidupan dengan pena yang tintanya tak bertepi. Islam pun berkembang mengikuti peradaban sang penguasa, dan lisan rakyat dikendalikan oleh yang kuasa, tiada yang memprotes hal ini, karena islam pun memakluminya, lisan mereka memang ditulis oleh yang Kuasa.
Kisah perjuangan orang-orang yang membentengi dirinya dengan angka 33 tasbih sudah begitu nampak kepermukaan, begitu pula berjuta sensasi yang hidup di dalam alam logis manusia ikut juga muncul kepermukaan, penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Quran dan Hadits mulai digeluti dengan proses campur aduk, antara, menggunakan tema pemahaman barat yang sarat dengan rasio dengan pemahaman sufi yang meledak-ledakan mitos di dunia imajinasi dan perasaan.
Paham baru yang mengejek paham lama dalam hal penerjemahan islam yang benar-benar mendekati definisi utuh diutarakan dengan membentuk suatu aliran baru, udara pun seakan menekan ke setiap pihak dari nafas-nafas yang mengeluarkan gagasan-gasagan gosong, mereka semakin memperkeruh suasana keislaman di Indonesia. Setiap kali suatu badan yang membawa pemahamam baru mengenai fatwa murni nan logis, sudah bisa dibaca oleh kita bahwa masyarakat akan bingung dan sebagian dari mereka akan ikut terendam, sehingga hati busuk dari setiap aliran yang memanggul paham berbeda itu saling menulis “Engkau adalah teroris masa depan yang dibenihkan oleh kakek moyangmu sejak masa lalu. Kami berhak membunuh kalian yang menyimpang dari ajaran yang lurus”, dan pada niatnya yang suci bagi pandangan hidupnya, mereka memanfaatkan sistem pemerintahan Indonesia yang bersifat universal religion dengan cara bersembunyi di dalam aturan sang penguasa yang Bhineka Tunggal Ika itu, dan menyerang Islam lewat bom-bom dakwah kemunafikan. Islam menggugat hal ini dan ada sebagian dari mereka yang tiada mampu mengendalikan emosinya hingga terjadi suatu kerusuhan dan kekerasan antar golongan. Islam pun diwanti-wanti oleh pemerintah dengan kebencian yang tersirat, “Teroris harus diawasi secara seksama sesuai dengan lamunan prosedur masa lalu”.
Zaman dilalui oleh sang waktu yang terus merekam kehidupan dengan pena yang tintanya tak bertepi. Islam pun berkembang mengikuti cap peradaban sang penguasa, dan sikap warta-warta dikendalikan oleh yang kuasa, tiada yang memprotes hal ini, karena Islam pun memakluminya, warta tentang mereka memang ditulis oleh yang Kuasa.
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Utusan Allah”
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.



