Sumur Tua

Diposting: Senin, 25 Januari 2010 / 13:07:23 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 1696 kali | Status Posting: Publish | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: (4.6 / 10) 5 rater

Penulis: Muna Masyari

Baru seminggu yang lalu Mayla pulang dari Ponpes, menjelang liburan. Ada sesuatu yang membuat Mayla prihatin menyadari keadaan desa kelahirannya. Bahkan mengusik pikiran.

Sore itu, sudah hampir setengah jam Mayla duduk tercenung di belakang rumah. Matanya tak lepas mengamati sumur tua yang dinding tepinya sudah berbalut lumut kehitaman. Sumur itu berjarak kira-kira sepuluh meter dari tempat Mayla duduk. Sumur yang terletak di sisi jalan setapak itu memang sudah berusia puluhan tahun. Seingat Mayla, dari dulu sumur itu tetap begitu-begitu juga. Tak banyak berubah. Hanya rumpun pohon bambu yang tumbuh semakin liar. Menambah rangker suasana.

Di pinggir sumur tua itu ada bubur ketan hitam berbungkus daun pisang. Ada selinting rokok dan snack dengan tujuh macam warna berbungkus plastik kecil yang biasa disebut Jan Pasar. Kemenyan yang dibakar pakai sabut kelapa, mengepul dengan aroma menyengat. Sekitar tiga perempat jam yang lalu Bik Raudah melatakkan bha sabha tersebut di sana.

Ada sedih di hati Mayla. Miris dan prihatin. Desa yang masuk dalam kesatuan kabupaten berlabel Gerbang Salam (Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami) ternyata masih mengabadikan tradisi kemusyrikan. Sebuah pulau yang tersohor dengan kerelegiusannya, pondok pesantren tersebar di mana-mana, pendidikan digalakkan dengan semangat 45, nyata-nyata masih menganut  kajahiliyahan terselubung.

Ada apa dengan mereka?

Buk?”

Mayla tergagap. Rahma menepuk pundaknya dari belakang. Entah kapan datang, tahu-tahu Rahma sudah ada di situ.

Apah se epekkere?!” tanya Rahma, duduk  menjajari kakak perempuannya.

Sebentar Mayla menatap wajah Ale na. “Kamu lihat sumur itu?” tanya Mayla meluruskan tatapan ke depan.

Arapah? Ada yang aneh? Seingatku sumur itu tidak berubah dari dulu!”

Mayla menahan nafas “Coba kamu perhatikan bha sabha itu!”

Rahma mengangkat alis dan bahu. “Memang sih, hampir setiap ada yang sakit di daerah sini, selalu saja kena berrit di situ. Hampir tiap hari, ada…. saja yang meletakkan bha sabha  macam begituan. Dan macamnya juga beda-beda. Tergantung apa kata Mad Kokon!” jelas Rahma datar.

Kembali Mayla menarik nafas. Makin sesak. Dari dulu, Mad Kokon adalah seorang dukun yang biasa dimintai air japah oleh penduduk setempat. Hampir lima tahun Mayla tinggalkan Kowel Pamekasan, untuk menimba ilmu di penjara suci Sidogiri, ternyata tidak ada perubahan berarti hingga kini. Bahkan di keluarganya sendiri.

***

Hal: 1 2 3 4

Lampiran movie tidak tersedia.

Berikan rating penilaian Anda pada posting ini:

 

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :