Santri Sehari

Diposting: Senin, 25 Januari 2010 / 19:40:27 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 2367 kali | Status Posting: Publish | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: (7.22 / 10) 9 rater

Penulis: Adi Putra

Azan subuh. Johan menggeliat dalam tidurnya, memperbaiki posisi bantal di bawah kepalanya. Terdengar bunyi kelentang beruntun. Dia tersentak dan terduduk dengan kantuk yang masih menggantung. Selain azan, lamat-lamat didengarnya suara berisik seseorang.

“Qum! Ayyuhaa, Qiyaaman!”

Bahasanya seperti kukenal, pikirnya. Bahasa Arab!

Mata Johan melebar, memandang sekeliling ruangan. Tak ada perabotan. Hanya lampu pijar yang menggantung di langit-langit. Dia menggeser duduknya dan menyadari dirinya berada di atas selembar tikar.

“Mati aku!” Johan menepuki dahi, lalu melompat dari duduknya. Dibukanya pintu dan mengintip keluar. Masih gelap.

“Ini semua salah Arif,” gerutunya. “Juga Papa dan Mama. Dela pun ikut-ikutan.” Johan mengerang pendek.

Papa dan Mama mengajaknya pergi menjenguk Arif, sepupunya, di Pesantren Darularafah. Dela, adiknya, ikutan memaksanya. Mereka pun pergi bersama keluarga Arif dengan dua mobil. Waktu itu hari mulai merangkak senja. Sebelum pulang,  Johan pergi ke kamar mandi, buang air besar. Dia lupa memberitahukan keluarganya. Usai buang air, kedua keluarganya sudah tidak ada. Dia menunggu di ruang tamu, berharap mereka segera kembali menjemputnya.

“Sungguh teganya, teganya, teganya,” sungut Johan. Dia keluar dari ruangan dan bergegas menuju asrama, tempat Arif tinggal.

“Akhii!” panggil seseorang.

Telinga Johan berjengit. Dia berbalik, melihat pemanggil berpakaian haji. Dia mereka-reka, mungkin orang itu yang disebut Arif sebagai mudabbir, pengurus asrama.

“Ayna tadzhab?” tanya orang itu.

Johan tidak tahu harus menjawab apa, tapi dia benar-benar ingin menjumpai Arif.

“Ngg…sa-ya mau ke tem-pat A-rif, Bang,” jawabnya, gugup.

“Ayyu fashlin, Anta?” tanya orang itu lagi. Johan melongo dan menggeleng lirih.

“Sa-ya nggak ngerti, Bang.”

Sebelah alis orang itu terangkat, melihat Johan dari ujung rambut ke ujung kaki.

“Kamu kelas berapa?” tanya orang itu dengan nada pelan. “Dan mau ke mana?”

“Oh, saya bukan santri, Bang. Saya mau ke asrama Mekkah, menjumpai Arif, sepupu saya.”

“Loh, kok bisa kamu ada di sini?”

Johan menggaruk kepalanya sambil nyengir ringkas. Aduh, malu aku menjawabnya, katanya dalam hati.

“Ngg…gini, Bang…saya…tak sengaja ditinggal keluarga.” Akhirnya Johan mengakuinya juga.

“Wah, pasti kamu anak nakal. Tapi, di sini bukan dinas sosial atau panti asuhan. Harus ada prosedurnya untuk nyantri di sini.”

Sialan, pikir Johan. Dikiranya aku anak terlantar apa.

Hal: 1 2 3

Lampiran movie tidak tersedia.

Berikan rating penilaian Anda pada posting ini:

 

1 Komentar

la tahzan

Diposting: Selasa, 26 Januari 2010 / 19:08:00 | IP: 125.161.232.232

cerpen yang menarik. Ada-ada aja si Johan... Tapi, pengalaman si Johan ini terbilang unik. Bukan cuma karena pembaca diajak mengintip kehidupan santri di pesantren, walau hanya sehari. Tapi ada beberapa alur yang menurutku seperti tergesa-gesa. Keputusan atau perubahan persepsi Johan tentang santri dan kehidupan pesantren kayaknya terlalu mendadak dan cepat sekali. Well, tapi aku tetap suka sama jalinan ceritanya yang ringan, renyah, dan mengalir... TOP deh, tiga bintang untuk ceroen ini dan adi putra... :)

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :