Sang Serigala
Diposting: Sabtu, 09 Januari 2010 / 15:47:03 | Oleh: satyawati.michell | Kategori: Cerpen
Halaman ini diakses sebanyak: 211 kali | Status Posting: Pending |
Rating: 0
Umurnya tujuh belas tahun, seumuran denganku. Beberapa hari yang lalu ia adalah seorang murid pindahan di kelasku. Sikapnya begitu dingin pada semua orang dan sorot matanya begitu tajam, seolah-olah ia adalah seekor serigala. Namun karena sikapnya yang cenderung cool, dalam sekejap ia menjadi idola para cewek di kelasku, bahkan di sekolahku !
Sebagai seorang laki-laki, aku merasa iri padanya, karena dalam sekejap dibalik sikap dinginnya itu, ia telah merebut hati semua orang di sekolah ini. Semua anak laki-laki di sekolah ini segan padanya, bahkan kakak kelas sekalipun ! Terkecuali aku. Kata mereka sorot matanya begitu menakutkan. Suatu hari aku tak sengaja menatap matanya, benar kata mereka sorot matanya begitu dingin dan menakutkan, tapi bagiku.... Aku melihat sesuatu yang berbeda darinya, membuat seolah-olah ia adalah serigala tua yang tak berdaya, bukan sosok serigala yang kukenal.
Suatu hari ketika langit begitu cerah dengan senjanya yang berwarna oranye kemerahan, aku melihatnya sedang bertarung dengan enam orang yang tampak sangat asing bagiku. Entah mengapa aku hanya terdiam melihatnya. Bagiku ia cukup kuat untuk melawan keenam orang itu, tapi ternyata dugaanku meleset. Perkelahian itu menjadi tak seimbang, ia pun jatuh terduduk karena pukulan keras di perutnya, mulutnya merah karena darah. Melihat ia yang tak berdaya keenam orang itu tersenyum senang dan bersiap kembali untuk menghajar tubuh tak berdaya itu. Ia pun pasrah.
Aku tergerak dan segera berlari untuk menolong sang serigala yang lemah itu. Dengan bermodalkan keahlian beladiri, aku menyerang satu persatu orang-orang asing tersebut. Dengan seluruh kekuatanku, aku mengerahkan seluruh keahlian beladiriku. Ternyata keahlian beladiriku pun tak cukup membantu untuk melawan orang-orang itu. Melihat aku yang mulai terdesak, ia bangkit berdiri dan dengan sisa-sisa tenaganya ia mencoba untuk melawan mereka kembali. Namun, pertarungan tetap tak seimbang, keenam orang itu terlalu kuat untuk kami, seakan mereka tak kenal kata henti. Tiba-tiba dari dari seberang jalan, kakakku dan teman-temannya lewat dan melihat kejadian itu.
"Woi... apa yang lo lakuin sama adek gue !!". Mendengar gertakan itu dan sadar bahwa aksi mereka dilihat oleh orang, mereka berhenti dan segera berlari sembari berkata, "Urusan kita belum selesai !".
"Hhh....", aku langsung terduduk lemas. Kakakku dan teman-temannya mendatangi kami, "Lo nggak papa ?". Aku mengacungkan jempolku sambil tersenyum.
"Fadil...!" teriak salah satu teman kakakku. "Temen lo babak belur neh !".
Aku segera bangkit, sambil dipapah kakakku aku berjalan kearahnya. Keadaannya begitu parah, seluruh tubuhnya babak belur, aku melihat juga beberapa mata luka sabetan senjata tajam. "Ah... mereka curang" .
Aku berlutut untuk melihatnya lebih dekat, tiba-tiba matanya terbuka, ia menatapku. "Terima kasih..." ucapnya lirih sembari tersenyum. Inilah senyum pertama yang kulihat darinya.
Sejak hari itu aku menjadi teman dekatnya, namun ia tetap bersikap dingin. Aku kini tahu mengapa ia bersikap begitu dingin dan menakutkan, sikap itu sebagai bentuk rasa kehilangan orang yang begitu dicintainya.
Orang-orang asing waktu itu telah merenggut nyawa adik satu-satunya. Melihat orang yang paling disayangi tewas ditangan para Bandar narkoba tentu bukan hal yang diinginkan oleh dirinya. Sungguh ia begitu menyesal telah bekerja sama dengan para Bandar tersebut, hingga akhirnya adiknya menjadi korban akibat perbuatannya. Aku hanya bisa beristighfar dan mengelus dada, aku terdiam tak percaya ketika ia bercerita. Sekali lagi aku sungguh tak percaya ketika ia mengatakan bahwa ia adalah mantan Bandar narkoba buronan polisi. Ya Robb.... Sungguh, sosoknya begitu sempurna di mata semua orang !.
Kini yang ada hanyalah rasa sesal yang mendalam, mengingat ialah penyebab kematian adiknya. Ia mencoba berlari dari kelompoknya, mencoba insyaf sebagai rasa penebus kesalahan untuk adiknya. Namun tak semudah itu melepaskan diri dari para Bandar itu, mereka akan selalu mencari, mencari dan mencarinya. Hingga akhirnya di sore yang indah waktu itu, ia berhasil ditemukan dan mereka mencoba membunuhnya.
"Ya Robb... Sungguh, ampunilah segala perbuatannya di masa lalu. Ia merindukan cahayaMu... ", aku menutup doaku.
Kini malam telah tiba, jarum jam tanganku menunjukkan pukul tujuh tepat. Rintik hujan mulai turun membasahi bumi yang lama kering karena cuaca panas. Langit beberapa hari ini begitu kelam, mungkin mendekati musim hujan. Tanah yang kering dalam sekejap berubah menjadi lembab dan dengan segera mengeluarkan bau khas tanah yang basah. Bau tanah ini begitu kusukai, terasa segar ketika dicium. Disisi lain bau ini mengingatkanku akan kematian dan mengingatkanku akan sosoknya yang misterius.
Kubuka payungku seiring dengan rintik hujan yang semakin menderas. Hari ini aku pulang terlambat lagi, akhir-akhir ini aku disibukkan dengan persiapan untuk festival seni Islam besok. Akupun jarang bertemu dengan Andi, ternyata tak hanya aku saja yang jarang bertemu dengannya. Andi sudah beberapa hari ini absen, padahal ia termasuk anak yang rajin. Sedikit pun aku tak mendengar kabar tentangnya, ketika kutanya pada teman-teman, mereka pun menjawab sama denganku, semua tak tahu kabarnya.
Hari inipun ia tak datang lagi, absen lagi tanpa kabar. Tak ada secuil beritapun yang kuterima darinya, begitu juga dengan pihak sekolah. Ketidakhadiran Andi beberapa hari ini membuatku penasaran. Surat, telepon bahkan sms tak ada satupun yang memberitahukan tentang kabarnya ! Rintik-rintik hujan pun makin menderas disertai dengan suara gelegar yang begitu menakutkan, akupun mempercepat langkah.Tiba-tiba di ujung jalan menuju taman, aku melihat sosok seseorang dan aku mengenalinya, itu Andi! "A...", belum selesai kusebut namanya, ia menoleh dengan senyum khasnya, kemudian berpaling kembali dan tiba-tiba berlari. "Andi !", kali ini aku berhasil menyebut namanya.
Aku pun segera berlari menyusulnya, segera mengikutinya dengan sejuta pertanyaan di benakku. Kubuang payungku ke jalan, tak kuacuhkan lagi hujan yang semakin menderas. Entah mengapa aku terus berlari mengikutinya tanpa tahu apa maksudnya. Tiba-tiba sosok yang kukejar itu berhenti, jarakku dengannya sekitar dua sampai tiga meter, kemudian ia berbalik melihat ke arahku. "Astaghfirullah...." Sorot matanya berbeda, sangat tajam dan begitu dingin ! Namun ia tersenyum, dan menghilang.
"Astaghfirullah....", sekali lagi aku beristighfar.
Ya Allah, aku tak percaya dengan apa yang baru kulihat ! Aku baru menyadari bahwa sosok tadi bukanlah Andi yang sesungguhnya, dan akupun tersadar ternyata ada seonggok tubuh tak berdaya yang bersimbah darah tak jauh dari tempat "Andi" menghilang tadi. Dengan segala keberanian aku berjalan menuju seonggok tubuh bersimbah darah itu dan akupun menepiskan semua hal buruk yang ada di benakku, namun hatiku terus berdebar kencang. "Ya Allah.... Andi !".
Hatiku miris melihat tubuh tak berdaya itu, tubuhnya babak belur dan penuh dengan darah yang berwarna merah, sejumlah mata luka menghiasi tubuhnya yang ringkih. "Ya Robb, apa yang terjadi ?".
Kurengkuh tubuh penuh luka itu, dingin. "Bertahanlah Andi", bisikku dalam hati. Nafasnya masih ada, namun begitu susah, kurasa itulah sisa nafasnya. Orang-orang mulai berdatangan, menurut mereka Andi dihajar oleh enam orang tak dikenal dan salah satunya membawa pisau. Orang-orang itu meminta maaf padaku karena tak bisa mencegah kejadian itu, tapi aku menggeleng. "Bukan salah kalian".
Aku terus mencoba menyadarkannya, tiba-tiba ia membuka matanya, dengan sisa tenaganya ia mencoba tersenyum. Akupun membalas senyumnya.
"Fadil... ini...", ucapnya lirih. Ia mengeluarkan sebuah flashdisc yang terlindungi dengan aman di sakunya. "Serahkan.... Ini... pada polisi".
Kuraih tangan yang menggenggam itu, sembari mengangguk dan tersenyum, mengiyakan permintaannya. Ia pun membalas senyumku. "Aarrgh...." Ia mengerang, rasa sakit menjalar ke tubuhnya. "Hhh...hhh...hh..." nafasnya tersengal.
Aku tetap menggenggam tangannya, memberinya kekuatan untuk bertahan. Polisi yang selalu datang terlambat, mulai membentangkan police line dan meminggirkan orang-orang yang melihat kami. Suara mobil ambulans mulai terdengar mendekat.
"Fadil... Apakah Allah masih mengampuni aku ? Masihkah.... Ia... memaafkan hambaNya yang....", ia terdiam mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. "Penuh dengan dosa ini.... ?".
Aku tersenyum dan mengangguk,. "Ya, pasti...", ucapku lirih. Ia membalas senyumku. "Uhuk...uhuk...hhh...hh..", ia terbatuk dan nafasnya kembali tersengal.
"Terima.. ka.. sih.. Dil...", matanya perlahan menutup.
"Nak, Bantu dia....", ucap seseorang menegurku. Aku segera tersadar dan mulai menuntunnya dengan perlahan, "AshaduAllah Illahaillahu....". Kulantunkan perlahan agar ia dapat mengikutinya.
Dengan mata terpejam menahan sakit, ia mengikuti kalimat syahadat itu dengan lirih dan aku terus mengulanginya. Hingga akhirnya malaikat Izrail datang menjemputnya, bersamaan dengan dikumandangkannya adzan maghrib ia pergi dengan membawa keyakinan bahwa Allah telah mengampuninya.
Semakin lama hujan semakin deras dari sebelumnya, seiring dengan memanasnya mataku akibat air mata yang mulai menggenang. Riuh rendah orang-orang yang penasaran dengan kejadian ini tertelan dengan suara hujan. Hening, yang tersisa hanyalah melodi hujan yang makin deras mengiringi kepergian hamba Allah yang telah bertaubat. "Ya Robb... terimalah taubatnya dan berikanlah ia tempat terbaik di sisiMu". Bumi pun basah dengan hujan dan tangisku, membuat suasana semakin syahdu.
Belum genap seminggu kepergian Andi, polisi berhasil menangkap keenam orang itu. Semuanya berkat flashdisc yang diberikan padaku sebelum malaikat maut menyambutnya. Aku menghembuskan nafas lega setelah polisi memeberitahukan hasil kerja mereka, sembari mengucapkan rasa syukur aku berterimakasih pada para polisi itu. "Aah... kau berhasil, Ndi".
Setelah kejadian itu Aku selalu berpikir betapa menderitanya Andi selama ini. Memendam rasa bersalah yang tak pernah hilang dan menanggung beban sesal yang mendalam. Namun aku salut padanya, ia sosok yang kuat menanggung itu semua.
Aku termenung di pinggir jalan, kulihat sekelilingnya. Di jalan ini sosok "Andi" menghilang dan di jalan ini pula Andi tergolek lemah dalam penantiannya menuju kematian. Aku masih bisa membayangkan sosok tubuh bersimbah darah itu, aku masih ingat hari itu hujan turun dengan derasnya.
"Allahu Akbar.... Allahu Akbar....", aku tersadar dari lamunanku. Kulihat jam tangan, ternyata telah menunjukkan pukul dua belas. Dengan langkah bergegas aku menuju mesjid di depanku untuk melaksanakan sholat dzuhur. Sesampainya di mesjid, aku melepaskan sepatu dan kaus kakiku, menitipkan tas dan kemudian segera menuju ke tempat wudhu.
"Bismillah...". Air segar mengalir dari keran dan dengan segera kasajukannya menjalar ke seluruh tubuhku. Setelah selesai berwudhu dan berdoa, akupun berjalan menuju tempat sholat.
Aku melihat-lihat sekeliling sambil menghirup udara dalam-dalam, udara di sini begitu sejuk walau berada di tengah kota. Entah apakah karena mesjid ini memiliki taman dan beberapa pohon yang rindang ataukah karena ini adalah rumah Allah. "Subhanallah...".
Dalam mesjid aku segera melaksanakan sholat sunnah dan setelah selesai sembari menunggu sholat berjamaah dimulai, aku mengedarkan pandangan keluar mesjid. Dari sini aku dapat melihat tempat kejadian malam itu, di bawah baliho di seberang masjid ini Andi meninggal. Tiba-tiba aku tersadar, jarak antara mesjid ini dengan tempat Andi meregang nyawa tak begitu jauh. Aku tersenyum sendiri, "Ah... apakah kau juga seperti itu ?". Seperti pembunuh yang telah membunuh seratus orang, namun ketika ia meninggal malaikat rahmat dan malaikat azab rebutan untuk membawanya ?. "Subhanallah...".
"Allahu Akbar... Allahu Akbar....", iqomat telah dikumandangkan, akupun bergegas memenuhi shaf yang masih kosong. "Allah pasti memberikan balasan yang setimpal untukmu, Andi".
"Allahu Akbar", imam memulai sholatnya.
Lampiran movie tidak tersedia.





