Sang Perantara Cinta
Diposting: Selasa, 09 Februari 2010 / 17:46:24 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen
Halaman ini diakses sebanyak: 3019 kali | Status Posting: Publish |
Rating:
(7 / 10) 12 rater
Namanya Yusuf. Umurnya dua puluh lima tahun, sama denganku. Mantan playboy, dan sekarang sedang mendalami agama. Tentu saja berjenggot, dan bercelana panjang ngatung. Yusuf memiliki sebuah pohon duren di belakang rumahnya yang suka ia ajak curhat sambil menyiraminya. Ia memiliki selera humor yang lumayan. Dan ia juga suka menceritakan mimpi-mimpi anehnya. Suatu hari ia bercerita padaku, bahwa malam sebelumnya ia bermimpi ketemu Agnes Monica. Diceritakan bahwa dalam mimpinya tersebut ia mengalami kecelakaan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Nah, di rumah sakit inilah ia berjumpa dengan Agnes Monica yang ternyata di situ dia adalah seorang perawat.
Lalu tanyaku, “Lha, terus Agnes Monica ini berperan sebagai apa sih ton?”
“Cuma figuran, Na,” jawabnya. Ah, dasar teman yang aneh, batinku setelah menertawakannya.
Yusuf juga mengidap insomnia setiap malam. Dalam hal inilah kelak aku bisa sedikit membantunya. Ia berkata bahwa ia sering memimpikan seorang istri. Olalaaa.. (rolling eyes). Inilah tema yang sedang marak pada usia seperti kami ini. Telah lulus, bekerja, jadi menunggu apa lagi? Selain seorang pendamping hidup yang bisa menyiapkanmu kopi setiap pagi dan menyambutmu mesra setelah kau pulang dari bekerja, dalihnya waktu itu.
Yusuf adalah seorang teman SMU dan aku sama sekali tidak dekat dengannya dulu. Lalu akhir-akhir ini kami bertemu dalam sebuah acara reuni yang membuat beberapa perubahan dalam hidupku. Kami kerapkali telpon-telponan dan berbagi pengalaman. Namun jangan dulu berprasangka yang tidak-tidak, kawan. Sekilas memang Yusuf terlihat sedang mengadakan pendekatan ala Don Juan kepadaku. Namun seiring percakapan yang kami lakukan aku tahu bahwa ia hanya kesepian dan ingin melampiaskannya dengan mengobrol dengan seseorang, siapapun seseorang itu.
Dari sinilah kami mulai mengenal satu sama lain, bahwa ia telah berubah menjadi sedikit beriman dan bertakwa, dan bahwa aku tidak sependiam yang dia perkirakan merupakan dua hal mencolok yang kami berdua baru sadari.
***
Nama lengkapnya indah, Zulaikha. Tapi akrab disapa Ika. Tak ada yang meragukan persahabatan kami sejak kuliah dulu di Fakultas Farmasi sebuah universitas terkemuka di Jogjakarta. Ika adalah seorang perempuan plegmatis, dengan wajah imut dan mudah membuat lelaki jatuh hati bahkan sebelum ia mengucap kata. Dalam diamnya ia menarik. Dalam jilbabnya ia berteduh nyaman menikmati perannya sebagai seorang akhwat sejati. Bulu matanya yang lentik, tubuhnya mungil, dan hanya bisa tersenyum tersipu malu manakala kau memuji kecantikannya.
Track record Ika dalam hal percintaan tentu saja tidak sedahsyat Yusuf. Secara Ika sejak dulu menolak segala hal berbau ikatan antara laki-laki dan perempuan kecuali pernikahan. Tak diragukan kecerdasannya, demikian pula kemuliaan akhlaknya.
Tak pernah aku memiliki seorang sahabat se-perfect Ika, maksudku dalam segala hal. Ia dikaruniai wajah yang cantik, keluarga penuh cinta, prestasi akademik yang tanpa cela, dan akhirnya diberi kemudahan dalam mencari kerja. Kadang aku berpikir, seolah-olah Allah tak puas-puas menyenangkan hidup hamba-Nya yang satu ini.
***
Lampiran movie tidak tersedia.
Berikan rating penilaian Anda pada posting ini:
Posting Sebelumnya
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.





