Presiden

Diposting: Selasa, 02 Februari 2010 / 17:09:38 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 961 kali | Status Posting: Publish | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: (7 / 10) 5 rater

Penulis: Asang D. Y Bherexct P

Dulu aku sempat berpikir.

“Menjadi Presiden itu enak. Tak ada yang memberiku perintah, karena akulah yang memberi perintah. Rakyat antre membeli minyak tanah, Presiden tinggal makan saja. Rakyat ketiduran waktu bekerja di pecat, Presiden main sms sambil ngorok pada jam kerja boleh saja. Presiden itu raja bebas. Presiden boleh masuk jalan mana saja, bablas nggak ada yang nglarang”.

Sejak kecil aku tak pernah kekurangan apa-apa. Segala fasilitas yang kubutuhkan selalu ada, karena penghasilan kedua orang tuaku berkelebihan. Sekolahku juga lebih mahal daripada sekolah kedokteran. Namun, aku selalu apatis soal cita-cita.

Sempat aku tertegun. Memikirkan cita-cita besar. Di benakku hanya ingin menjadi Presiden. Perkara bisa kejadian atau sekadar mengkhayal kuacuhkan saja, yang penting aku bisa membuat orang tuaku bangga dengan cita-cita besarku ini.
“Ah, punya impian paling tidak membuat ada arah yang pasti di tengah kebingungan dunia yang semakin menggila ini,” pikirku saat itu.

***

“Wau, begitu elegan dan seksi,” kataku tentang vas bunga jangkung berwarna gading di atas meja. Decak kagumku kupaksa bertabur lantaran menghibur penatku.

Sekarang aku sedang duduk jauh di luar ruang kerja rakyat. Ada pagar kekar berteralis baja yang mengitarinya. Di baliknya terdampar rakyat berdiri berharap akan sapaanku. Menagih pemimpin sejati negeri sepertiku, hingga menyuarakan hak-hak rakyat dalam bait-bait kebenaran yang abadi. Namun, aku sengaja tak ambil peduli di ruang empat kali empat ini.

Dulu aku sempat cemburu dengan Presiden sebelumku. Segala ini-itu yang berkaitan dengan harga diri sudah aku gadaikan. Maka saat itu hanya cemburu harga diriku satu-satunya. Demi Tuhan, ketika uang berhamburan dari lambung langit menjatuhi kepalanya. Pada piala emas berkilap-kilap yang menjelma nafas liar di lehernya. Pada kuliner lezat beraneka yang lancang menggelinjang di lidahnya. Pada kursi jok Mercy yang mengalungkan tangan ke pinggangnya. Aku cemburu dibuatnya. Bah… Aku cemburu pada semua fasilitas yang menyertainya saat itu.

Lima tahun kemudian ia lengser. Aku senang dibuatnya. Membikin semangat hidupku jadi kambuh. Aku masih ingat, tatkala gerak bola mataku seperti radar angkatan perang yang dapat melacak jangkrik di waktu siang saat itu. Lewat retorika tatkala kampanyeku dulu, kuserapah semua janji tentang ini-itu demi kursi berputar yang menyambutku. Pada saat politik dilanda krisis etika, olah bicaraku tentu saja membuat banyak orang terpesona, yang akhirnya menjembataniku ke pelaminan tertinggi di sebuah negeri.

***

Hal: 1 2

Lampiran movie tidak tersedia.

Berikan rating penilaian Anda pada posting ini:

 

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :