Perangko Belanda

Diposting: Senin, 18 Januari 2010 / 15:36:54 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 1745 kali | Status Posting: Publish | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: (10 / 10) 1 rater

Penulis: Lana Azim

Mak Ijah baru saja pulang dari stasiun yang persis terletak dua ratus meter dari rumah reotnya. Tidak biasanya ia sudah pulang pada siang hari. Dagangan  kacang goreng dan rokok kreteknya ludes diserbu pembeli. Ada satu senyum yang bangga di situ.  Tapi senyumnya tak berumur lama. Dua orang petugas pemerintah yang mengaku dari perusahaan  jawatan kereta api menemuinya.

Pertemuan itu singkat. Mereka memberitahukan rencana penetiban tempat-tempat kumuh yang ada di sekitar stasiun. Kemungkinan rumah kesayangan Mak Ijah bakal kena gusur. Kecuali dia harus menunjukkan sertifikat resmi atau surat surat sah yang menyatakan kalau tanah warisan  almarhum suaminya itu sah.

Tepat berada di depan rumah gubuk sederhana yang bertembok papan bambu itu, Mak Ijah kebingungan.  “Lah! Ditaroh di mana ya? Konci pintu! Ya Allah!! Masa lupa lagi?”

Mak Ijah mengeluh sendiri sambil terus-menerus mencari kunci pintu. Dicarinya di sela sela baju. Eh, ternyata ketemunya di kantung uangnya.

“Assalamualaikum! Mak!” Joko, anak semata wayang, pulang dari sekolah SMP. Jaraknya sekitar satu kilo, sehingga anak itu harus mengayuh sepeda onta jaman dulu.

Emak tersenyum. Di sela giginya ada pantulan sinar dari gigi peraknya. “Waalaikum salam…” dia menjulurkan tangan.

***

Di dapur, sore itu, Emak menunggu api di pawon menanak nasi, menggodok air. Riak wajah Emak kusut memikirkan sertifikat tanah. Pasalnya Emak  lupa menaruh di mana surat berharga itu dia letakkan. Padahal batas eksekusinya besok itu juga. Ah, Emak memang pelupa dan ceroboh.

Di dalam lamunannya, suara seorang menggedor pintu membuat emak terkaget kaget.

“Iya iya… waalaikum salam!”

SI Paijo anak Pak RT tepat nongol di pintu sambil tersenyum renyah.

“Oh, Paijo? Ada Apa ta?”

“Ini, Mak, saya mau ngasih surat pemberitahuan. Isinya mengenai imbauan kepada warga. Besok diharapkan seluruh warga RT sini  mengumpulkan sertifikat tanah, jam sembilan di rumah  Bapak.”

“Wee. Jadi ngono? Ya ya. Aku ngerti. Tadi siang aku yo sudah didatangi dua orang petugas pemerintahan. Katanya besok ada eksekusi tanah.”

“Iya, Mak. Katanya sih. Tempat tempat kumuh di sekitar stasiun bakal dibersihkan. Lha padahal kampung kita ini kan dekat sama stasiun, Mak. Mereka menduga, kalok sebagian tanah di desa ini adalah tanah milik stasiun..”

‘Wee.., lha dalah… Ini kan tanah asli warisan suamiku. Sak penae mereka ngaku ngaku ini tanah pemerintah!”

“Lha iya, Mak. Makanya besok kita harus membuktikan pada mereka, kalo tanah di sini semua asli milik warga…”

***

Hal: 1 2 3 4

Lampiran movie tidak tersedia.

Berikan rating penilaian Anda pada posting ini:

 

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :