Pelajaran Sederhana Tentang Tawa dan Tangisan

Diposting: Selasa, 09 Februari 2010 / 12:42:05 | Oleh: Fajri Umami | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 120 kali | Status Posting: Pending | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Sore itu, teras rumahku diramaikan gelak tawa riang anak-anak yang bermain lempar bola dan lompat-lompatan. Aku tidak mengerti aturan mainnya. Mereka pun tampak tak memedulikan rules yang sering diperdebatan orang dewasa. Yang penting fun and happy.

Aku suka suasana playground seperti ini. Dipenuhi canda, kelakar, dan celoteh panjang khas kanak-kanak. Tak perlu analisis mendalam untuk tiap kata yang mereka ucapkan. Tapi tak jarang ungkapan sederhana yang berloncatan dari mulut mungil itu terdengar sangat bijak.

Tawa mereka seperti virus yang menyebar cepat dan menjangkiti sipapun di sekitarnya. Gundah seketika lenyap kala pelangi tergambar jelas di wajah malaikat kecil itu. Pernah ada yang bertanya, “Kamu pernah jatuh cinta?” dan kujawab “sering”. Jika saja tawa ceria mereka menemaniku selama 24 jam penuh, mungkin aku tak akan mengenal wajah murung di cermin itu.

Kembali bermain dan memperhatikan tiap tingkah jenaka mereka. Sesekali tertawa lepas di antara senyum lebar. Tiba-tiba terdengar suara “whump!”. Kecelakaan kecil. Ada yang terjatuh! Ternyata Abel tak sengaja bertabrakan dengan Fathur hingga ia terjatuh. Fathur tertawa, Abel menangis. Kucoba tenangkan Abel, “Kalo tiba-tiba jatuh atau terluka saat bermain, ga perlu nangis. Itu namanya kecelakaan. Anggap aja itu bagian dari permainan, hanya saja sedikit sakit.” Hujan lokal pun perlahan reda dan mentari bersinar kembali . Aku jadi teringat saat masih kecil dulu aku selalu menangis kalau terjatuh. Jika kakiku luka, sekecil apapun itu, asal ada sedikit saja darah yang menetes, aku serta merta tak bisa berdiri. Dan papa yang selalu menggendongku ke atas sofa. Hahaha…. Dasar anak manja. Sepertinya aku lebih cengeng dibanding Abel, ya.

Setiap kali “hujan turun” saat aku dan saudara-saudariku bermain, papa selalu bilang, Kalau jatuh atau merasa dicurangi, tidak perlu nangis. Anggap saja bagian dari permainanmu.”  Uhmmm… dulu aku sering protes “Kenapa tidak boleh menangis? Kan sakit.”, “Kenapa mereka dibela? Kan aku yang dicurangin”. Tapi tak pernah ada jawaban yang memuaskanku. Sekarang kupikir lagi, ternyata ada benarnya juga apa yang papa katakan. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, tidak perlu menyalahkan siapa pun, tidak perlu menangis, karena itu bagian dari resiko yang mungkin saja terjadi saat kita melakukan sesuatu. Seharusnya kita telah mempersiapkan diri untuk itu. Setidaknya kita tidak merasa dikalahkan oleh keadaan. Meringis sedikit boleh saja, tapi segera berdiri dan kembali bermain. Untuk apa merusak kesenangan bermain hanya untuk sebuah luka kecil yang tidak seberapa? Kembali bermain, perlahan perih pun tidak akan terasa karena kita telah memiliki fokus lain yang lebih penting.

Kembali bermain dan mengamati tingkah jenaka mereka. Sejauh ini sudah ada dua pelajaran sederhana yang diam-diam kuperoleh: tentang tangis dan tawa. Pelajaran apalagi yang dapat “kucuri” dari kalian?

 

February 5th, 2010
fajri_sun_shines@yahoo.com

Lampiran movie tidak tersedia.

Iklan

resensi_back.jpg

iklan-arrina.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :