Oke, Insya Allah!

Diposting: Senin, 18 Januari 2010 / 11:22:15 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 2411 kali | Status Posting: Publish | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: (7 / 10) 2 rater

Penulis: Sam Edy

“Oke, insya Allah, aku bisa kok, jam delapan kan?” suara Mbak Nuri di seberang sana terdengar begitu meyakinkan.

“Makasih ya, Mbak. Kalau begitu, sampai besok ya. Assalamualaikuuum…” Yuni menyudahi pembicaraan dengan teman sekampusnya.

“Waalaikumussalaaam,” jawab Mbak Nuri ramah.

Yuni menutup teleponnya.

Mudah-mudahan saja besok Mbak Nuri benar-benar bisa menemaniku menghadiri pernikahan Luna, kakak kelasku semasa SMA yang besok pagi mau melangsungkan pernikahan, harap Yuni dalam hati.

***

Besoknya, Yuni sudah terlihat rapi dan wangi. Ia mengenakan rok warna krem dengan sedikit renda di ujungnya. Atasannya, kemeja lengan panjang motif kotak-kotak warna pink, kerudung halus putih, dihiasi bros kecil berbentuk bunga warna kuning yang dijadikan penjepit jilbab di dadanya, menambah manis penampilannya. Sebelum keluar kamar, sekali lagi, dihampirinya kaca cermin yang menempel di pintu lemarinya. Lalu, setelah yakin benar bahwa penampilannya telah perfect, ia pun melenggang keluar kamar sembari menyambar handphone-nya dan tas kresek hitam berisi kado berbalut kertas merah muda bermotif bunga dan lambang cinta yang tergeletak di ranjang.

Di depan kampus. Begitu ia janjian dengan Mbak Nuri kemarin. Jam di handphone Yuni sudah menunjukkan pukul 8 pas. Yup, paling sebentar lagi Mbak Nuri datang, batin Yuni. Sambil menunggu, Yuni menuju ke mading kampus yang ada di depan ruang perpus yang terlihat lengang. Maklum, ini kan hari minggu, kuliah libur.

Sejurus kemudian, Yuni melirik lagi handphone-nya. Jam 8 lebih lima belas menit. Ups! Terlambat seperempat jam. Huh! Kebiasaan orang Indonesia, hobi ngaret kalau bikin janji, batin Yuni mulai menggerutu. Tapi, buru-buru ia meralat ucapan batinnya. Ah! mungkin Mbak Nuri ada halangan di jalan, terlambat seperempat jam bisa ditolelir lah, pikirnya. Yuni pun kembali asyik menekuri kata demi kata sebuah artikel yang dipajang di mading kampus.

Tiba-tiba handphone-nya berdering. Mbak Nuri memanggil. Spontan, terulas senyum di bibirnya.

Hal: 1 2 3 4

Lampiran movie tidak tersedia.

Berikan rating penilaian Anda pada posting ini:

 

1 Komentar

moh.fitri

Diposting: Selasa, 19 Januari 2010 / 09:40:39 | IP: 118.97.64.2

santri tapi tetap gaul, dibuktikan dengan karya yang hebat menurutku, menjadikan santri bisa eksis didunia pujangga, salut dan apresiat buat sam edi penulis yang santun dan selalu menyatakan kritik sosial yang dipandang dari kacamata santri ada perilaku sosial yang kurang pas

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :