MENGHIRUP SECERCAH HARAPAN

Diposting: Kamis, 04 Februari 2010 / 11:07:05 | Oleh: pharu | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 104 kali | Status Posting: Pending | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

MENGHIRUP SECERCAH HARAPAN
Hari ini hujan belum juga reda. Sudah satu minggu ini hujan tak jua berhenti membasahi tanah di desa kami. Membuat bapak dan emak tidak bisa ke sawah hanya untuk mengecek padi yang mau dipanen. Dalam rumah, bapak dan emak hanya bias berdo’a agar tahun ini kami bias panen. Untuk biayaku masuk SMP katanya. Hujan sudah mulai sedikit reda dibandingkan dengan hari – hari sebelumnya. Rencananya bapak akan kutemani melihat sawah kami yang seluas 2 hektar. Cukup luas memang, tapi entah kenapa kami selalu serba kekurangan. Harga beras memang terus naik, bagitu kata bapak. Tapi saat beras ini kami jual di tengkulak kami selalu mendapat harga yang murah. Bapak tidak punya pilihan lagi mereka yang paling cepat, begitu selalu kata bapak dan emak. Alhasil kami hanya bisa menikmati hasil panen padi yang kami tanam selama 6 bulan lamanya hanya selama 2 hingga 3 bulan.
Aku tidak pernah suka dengan tengkulak yang datang ke rumah entah kenapa. Wajah mereka seperti orang – orang jahat dalam sinetron yang selalu ditonton bapak dan emak. Aku bertekad saat hujan ini benar – benar reda, aku akan bermain layangan sepuasnya bersama teman – temanku. Tapi bapak selalu melarang aku main layangan, buang – buang waktu katanya. Lebih baik aku bantu bapak di sawah atau belajar di rumah. Bapak selalu bilang aku harus bisa jadi dokter agar keluarga kami tidak miskin lagi. Jadi dokter seperti di lagu – lagu itu lho le, begitu kata bapak padaku dan emak hanya tersenyum.
Tak jarang bapak menghajar aku saat ketahuan aku sedang mencuri waktu untuk main layangan dan emak hanya menangis melihatku dihajar bapak. Aku tidak bisa menangis, aku sudah sering dipukul bapak. Hingga sudah mati rasa. Bapak sangat ingin aku jadi dokter. Tapi aku tak ingin jadi dokter, aku tak ingin jadi siapa – siapa. Aku hanya ingin jadi orang kaya. Jadi orang yang bisa melakukan apapun yang aku inginkan, begitu juga bapak dan emak tidak perlu lagi susah – susah kerja di sawah. Aku bisa sekolah setinggi mungkin tanpa perlu jadi dokter atau pegawai negeri.
“Jadi pegawai negeri itu enak le, gajinya wis pasti gak perlu susah maneh, sama kayak jadi dokter. Nanti emak dan bapakmu kalau sakit ada yang ngurusi…”. Kata emak saat sedang santap siang. Lauk yang kami makan hampir sama di tiap harinya. Penyet tahu tempe dengan lalap daun sinkong atau sayur apa saja yang enak dimakan saat itu. Bapak dan emak memang sengaja menanam sayuran di belakang rumah agar kami tidak perlu lagi belanja di pasar, beras kami sudah punya. Hasil sawah satu hektar dijual di tengkulak, setengah hektar dijual di koperasi untuk tabungan kata bapak dan setengah hektar lagi disimpan di rumah untuk makan kami sehari – hari.
Aku selalu bingung, kenapa bapak tidak menjual saja beras ke koperasi, padahal uang yang didapat bapak dari hasil sawah setengah hektar jumlahnya lebih besar dari menjual di tengkulak.
“Tidak enak bu, dia itu teman saya dari SD, masak aku gak gelem jual beras ke dia, aku iki sungkan bu…dia dulu juga sering bantu aku jaman aku masih sekolah dulu, anggap saja ini balas budi lah bu,,,”
Bapak selalu bilang begitu ke emak, karena emak lebih suka bapak menjual beras di koperasi.
“Bukan begitu pak, sebentar lagi Danar akan masuk SMP, butuh biaya yang besar, masak bapak mau jual beras terus ke Lek Mardi. Dia kan udah jelas merugikan kita, pak. Pokoknya saya ndak mau tahu, panen kali ini harus kita jual ke koperasi demi Danar pak…”
Begitu emak berkata ke bapak. Bapak hanya diam dan bimbang. Sementara yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana nanti aku bias didijinkan bapak main layangan, aku ingin sekali main layangan sama Maman, Dayat, dan lainnya. Bapak tidak pernah mengijinkan aku main layangan. Aku hanya boleh main sama Sipon, kucing yang sudah hampir 2 tahun ini tinggal bersama kami. Aku merawat Sipon sejak Sipon masih bayi. Kepada Sipon aku selalu menceritakan keluh kesahku, meskipun Sipon tidak bisa bicara, dia hanya bisa ngomong ‘meong’ seperti kusing – kucing lain, tapi aku merasa Sipon mengerti setiap hal yang aku ucapkan padanya.
Selain sekolah, aku harus bantu bapak dan emak di sawah. Tidak ada waktu untuk main layang – layang. Setelah bantu – bantu di sawah, aku harus bantu emak membuat jajan dan gorengan. Kemudian setelah selesai, aku akan mengantarkan jajanan itu ke warung – warung langganan emak. Lagi – lagi tidak waktu untuk main layangan.
Setelah seharian membantu bapak dan emak, aku harus belajar untuk sekolah. Kata bapak dan emak, aku harus rajin belajar agar bisa jadi ‘orang’ nanti. Emak juga selalu mengingatkan agar aku tidak lupa sholat. Aku selalu berusaha agar mendapat nilai yang bagus, agar bapak suatu saat mengijinkan aku untuk main layangan bersama Maman, Dayat, dan lainnya. Tapi, bapak tidak pernah mengijinkan.
Hari ini hujan sudah reda, bapak, emak, dan aku bersiap untuk ke sawah. Perjalanan dari rumah ke sawah cukup jauh sekitar 8 kilometer. Bapak membonceng emak naik bebek butut milik bapak, sedangkan aku naik sepedaku sendiri. Sipon kutinggal di rumah, karena jalanan becek dan Sipon takut dengan air.
Saat sampai di sawah kami tercengang melihat sawah kami yang tidak rusak maupun banjir. Padi – padi yang sudah menguning itu tetap tegak, meskipun ada beberapa bagian yang layu, tapi masih bisa dipanen satu minggu lagi. Kalau tidak ada hujan lagi.
“Alhamdulillah Pak, sawah kita baik – baik saja,,,,”
Emak langsung mngucap syukur begitu melihat sawah kami. Bapak memandang ke atas dan memperkirakan cuaca esok hari.
“Kita baru bisa panen satu minggu lagi, agar padinya benar – benar mateng dan sudah siap dipanen.”
Kulihat ada beberapa sawah yang porak poranda karena hujan, bahkan ada yang sawahnya kebanjiran hingga hampir semua padinya musnah.
Bapak dan emak turun ke sawah untuk membabat ilalang dan tanaman liar yang tumbuh di tepi – tepi sawah. Aku menunggui bebek butut bapak yang diletakkan begitu saja di pematang sawah. Bebek bapak itu sangat butut sekali, kata bapak motor itu sudah menemaninya sejak masih SMA. Warnanya merah dan kalau dinyalakan suaranya, alamak,,, bising sekali. Mungkin orang di ujung kampung dapat mendengar suara bebek butut bapak.
Dulu bebek ini yang selalu dipakai bapak untuk mengantarkanku ke sekolah. Bapak tidak lagi mengantarku dengan bebek ini saat aku kelas 4 SD. Bapak membelikanku sepeda mini agar aku berangkat sekolah sendiri. Sekarang aku kangen diantar kembali dengan bebek butut bapak lagi.
“Bapak…!!”
Bapak dan emak langsung menoleh padaku.
“Ono opo Danar? Bapak sama emak lagi sibuk ini…”
“Besok Danar pingin di antar bapak naik bebek bapak ini, boleh ya pak ?”
“Sembarangan ae, besok bapak mau pakai bebek bapak buat ke sawah, ndak, kamu naik sepedamu itu aja. Kok aneh – aneh….”
“Sekali aja bapak,, ya….!! Danar kangen dibonceng sama bapak…!!”
“Wis!! Ndak usah…!! Kamu jaga bebek bapak itu, setelah ini bapak dan emak selesai!”
Emak hanya tersenyum melihat aku dan bapak. Padahal aku pingin sekali diantar bapak ke sekolah naik bebek ajaib ini. Emak memang emak yang paling sabar yang pernah Danar punya, emak juga lebih sabar dari bapak.
Bapak dan emak berjalan menghampiriku. Mereka sudah selesai. Kami bertiga pun pulang kembali ke rumah. Dalam perjalanan, emak bilang akan membuat singkong goreng dan pisang goreng untuk kami. Aku senang sekali. Singkong buatan emak emang paling enak.
Sipon menyambutku saat aku masuk dalam rumah, emak segera ke dapur untuk membuat camilan. Bapak bergegas ke sumur untuk mandi. Aku mengambil buku pelajaranku dan bermain – main sama Sipon. Waktu sudah hampir maghrib, baru kali ini aku melihat langit senja yang begitu indah di desa kami.
“Mak…Emak…!!”
“Ada apa Danar…? Dari tadi kog kamu ki berteriak terus tho ?”
“Liat mak, langitnya bagus banget..”
“Iyo, Nar…jarang – jarang di desa kita ada senja yang bagus kayak gitu…ya wes ini sudah mau maghrib. Cepet mandi dan berangkat ke langgar bareng sama bapakmu.”
Aku mengiyakan perintah emak, bergegas ke sumur dan mandi. Suasana di kampung sedikit bergairah dibandingkan dengan satu minggu yang lalu saat hujan masih mengguyur kampung ini. Mungkin karena kebanyakan dari kami akan panen, sehingga mereka merayakannya. Ada beberapa anak yang main kembang api, setelah beberapa hari ini terjebak hujan dan tak meampu melakukan aktivitas apapun selain dalam rumah.
Aku memandang teman sebayaku yang sedang bermai gasing dan kembang api dengan bersemangat, sebelum aku mengungkapkan maksudku untuk bergabung bersama mereka, bapak mengatakan sesuatu padaku.
“Kamu ndak usah ikut – ikutan main seperti mereka, kamu harus rajin belajar agar menjsdi orang yang berguna di masa mendatang dan apat mengangkat derajat orangtuamu ini lho…”
Aku kembali menekan keinginanku untuk menghabiskan waktuku bermain bersama teman – temanku. Aku selalu bertanya – tanya kenapa bapak selalu melarang aku untuk bermain – main dengan teman – temanku di kampung. Bapak tidak pernah cerita alasannya, hanya bilang bahwa itu buang – buang waktu dan tak ada gunanya.
Aku mengikuti bapak untuk bergegas pulang ke rumah sehabis sholat maghrib dan isya’ di langgar. Saat sampai di rumah bapak dan emak kembali menasehatiku untuk rajin belajar, mengingat satu bulan lagi akan ada tes masuk SMP. Hasil ujian akhir sekolahku kemarin sangat memuaskan, setidaknya untuk bapak dan emak. Aku berhasil menduduki peringkat pertama se – sekolah dan peringkat ketiga se – jatim. Untuk tes kali ini bapak dan emak juga ingin agar aku dapat masuk di SMP terfaforit di kota kami.
Satu bulan ini aku menghabiskan waktuku dengan belajar dan membantu emak di sawah. Dan sekarang tiba saatnya aku untuk mengikuti tes masuk SMP, aku mengikuti tes di SMP Negeri 2 Jombang, mengingat itu adalah SMP terfaforit di kota kami. Sebelum berangkat, bapak dan emak berpesan agar aku tidak lupa berdo’a sebelum mengerjakan dan yang penting lagi pesan emak adalah aku tidak oleh mencontek. Aku mencium tangan bapak dan emak sebelum berangkat ke tempat ujian. Aku yakin aku pasti bisa diterima di SMP pilihanku itu.
*****
(20 tahun kemudian)
Aku masih memandang foto bapak dan emak yang hingga kini masih kusimpan. Hari ini tiba – tiba saja aku teringat dengan kejadian saat bapak dan emak meninggal, 20 tahun yang lalu. Aku pulang dengan riangnya karena berhasil mengerjakan hampir semua soal yang tersedia. Saat kulihat di atas rumahku ada asap hitam yang mengepul dan di depan rumahku banyak orang berkerumun. Aku menyeruak masuk ke dalam kerumunan dan kulihat rumahku terbakar dengan hebatnya, orang – orang kampung berusaha memadamkan api yang semakin besar. Ada seseorang yang memegang badanku, aku menggeliat dan berusaha melepaskan diri dari orang itu.
“Bapak!! Emak!!!”
Aku berusaha lari ke dalam, tapi beberapa orang menahan tubuhku. Aku marah, tapi tak mampu mengucapkan apa – apa selain memanggil – manggil bapak dan emak. Empat jam kemudian api baru bisa dipadamkan. Ada beberapa pemuda yang masuk ke dalam rumahku. Mereka keluar dengan membawa dua tubuh. Aku tahu siapa, aku masih ingat itu sarung yang selalu dipakai bapak. Aku menghambur ke tubuh bapak dan emak yang hangus terbakar. Aku bahkan tak mampu mengenali wajah bapak dan emak. Menurut orang – orang di kampung, kompor milik emak meledak sehingga terjadi kebakaran. Saat itu emak sedang membuat kue lemper kesukaanku karena sebelum berangkat ujian aku memang minta emak membuat kue lemper untukku. Orang terus bercerita, saat memasak lemper tiba – tiba kompor emak meledak. Mereka juga bilang bapak saat itu sedang tidur dan tidak sadar sedang kebakaran. Bla….bla…bla….
Aku gak peduli!! Aku tetap memeluk erat tubuh bapak dan emak.
“Bapak!! Emak!! Huhuhu….!!”
“Huhuhu….”
Sebulan kemudian aku mendapat pengumuman bahwa aku diterima di SMP Negeri 2, aku sama sekali tidak tergerak atau pun merasa bangga. Aku tidak tahu apakah aku harus senang ataukah sedih. Bapak dan emak sudah tiada, dan aku sekarang menjadi penghuni salah satu panti asuhan di kota ini jauh dari kampung. Aku ingin sekali menceritakan berita gembira ini ke bapak dan emak. Mereka pasti akan senang mendengarnya. Tapi tidak bisa. Andai saat itu aku tidak meminta emak membuatkan kue lemper.
Akh…andai saat itu aku tidak menyuruh emak membuatkan kue lemper.
Tok!Tok!Tok!
Semua lamunanku tentang bapak dan emak seketika buyar.
“Maaf, Pak..ada beberapa dokumen yang harus Bapak tanda tangani…”
Sekretarisku menyerahkan beberapa map yang harus aku tanda tangani.
“Eh,,,pak Aryo, tolong batalkan semua meeting saya pada hari ini. Dan tolong buatkan jadwal meeting yang baru untuk lusa. Hari saya ingin nyekar ke makam orang tua saya. Sekalian mampir ke kampung saya dulu, jadi besok saya tidak datang ke kantor. Untuk sementara tolong atur segala sesuatu selama saya pergi.”
Aku sangat rindu dengan kampungku dulu.
“Eeeh,,,iya pak. Akan saya atur.”
“Terima kasih Pak Aryo, kapan – kapan kalau bapak mau minta cuti. Jangan pernah sungkan untuk ngomong sama saya. Bapak sudah lebih dari lima tahun mengabdi pada perusahaan ini.”
Aku baru menjalankan bisnis mainan anak – anak ini selama 8 tahun. Saat aku kecil dulu hampir dibilang aku sama sekali tidak menikmati masa kecilku, karena bapak selalu melarangku untuk bermain – main. Akh..aku kangen bapak dan emak. Aku juga tetap merawat sawah bapak yang tidak terawat hampir selama 10 tahun, beras dari sawah bapak kujadikan bahan baku untuk bisnis makanan. Yaitu bubur instan serta mie. Aku juga membeli beberapa hektar sawah untuk tambahan bahan baku. Dengan uang yang aku miliki, 5 tahun yang lalu aku memperbaiki rumah bapak yang terbakar, hampir sama seperti saat masih utuh, hanya ada beberapa tambahan kamar untuk tamu dan penjaga rumah. Aku sangat menyukai rumah itu. Seolah – olah bapak dan emak masih hidup.
Istri dan anakku juga aku ajak untuk nyekar ke makam orang tuaku. Anakku laki – laki dan sekarang berusia 7 tahun. Dia sangat aktif dan suka berlari kemana – mana. Karena aku memiliki perusahaan mainan, dia memiliki hampir semua mainan produk dari perusahaanku.
Perjalanan dari Surabaya ke kampungku memakan waktu hampir dua jam. Saat sampai di sana, aku bisa mencium bau sawah dan pepohonan yang sangat aku rindukan. It’s been two years I didn’t come here. Kami sudah sampai di rumahku, dan disambut oleh Lek Paino dan istrinya yang sekarang menjaga rumah ini.
“Waduh…mas Danar kok ndak tilpun dulu tho, Lek Paino kan jadi kaget.”
Aku dan istriku tersenyum melihat wajah Lek Paino yang terkejut.
“Maaf Lek, tadi tiba – tiba saya kangen rumah. Sekalian nyekar ke makam bapak dan emak. Sudah dua tahun saya tidak nyekar.”
Dimas putraku sudah tertidur dan kugendong di punggungku.
“Wah…itu mas Dimas tho, sudah besar ternyata ya…wajahnya jadi mirip mas Danar…”
Memang…memang Dimas sangat mirip denganku. Bedanya dia bisa bebas bermain – main tanpa harus dihajar oleh bapaknya atau pun susah payah kerja di sawah. Kubiarkan Lek Paino membawa Dimas ke kamarku yang dulu, kemudian aku dan istriku masuk ke kamar yang dulu ditempati kedua orang tuaku. Kamar itu juga masih berbau bunga melati, dulu emak sangat suka menabur bunga melati di atas kasur. Saat aku kecil aku sangat membenci bau bunga melati, karena membuatku ingin muntah.
Aku masih ingat saat itu aku baru pulang dari membantu ayah di sawah. Aku masuk ke kamar berniat untuk tidur karena kelelahan. Ketika aku merebahkan badan ke kasur, aku mencium bau melati dan langsung memarahi emak karena sangat suka menabur melati ke kasur – kasur yang ada di rumah.
“Kamu ini piye tho…melati kan bunga kebanggaan ibu pertiwi. Mosok kamu ndak suka melati. Lagipula melati kan harum baunya.”
Karena marah aku langsung menarik seprai dari kasur dan melemparnya ke lantai. Setelah itu aku langsung tidur tanpa menghiraukan emak. Tapi emak tidak pernah kapok menabur melati di kasurku. Dan lama kelamaan aku tak lagi memarahi emak, karena emak akan tetap menabur melati di kasurku meskipun seprai dan kasur di kamarku aku sembunyikan di kolong tempat tidur. Setiap kali sebelum berangkat sekolah, aku sering menyembunyikan kasur di kolong bawah dipan. Dengan kuberi alas karpet agar tidak kotor.
Hingga kini aku bertanya – tanya, darimana datangnya kekuatan untuk mengangkat kasur dan menyimpannya di kolong tempat tidur. Jika mengingat kejadian itu, aku selalu tertawa sendiri. Setelah bersih – bersih diri kami makan malam bersama keluarga Lek Paino.
“Uhuk…huk…huk…”
Anakku Dimas sejak dari tadi batuk. Udara di sini memang lebih dingin daripada Surabaya. Dan Dimas anakku punya penyakit astma serta berbagai jenis alergi yang membuatnya sering sakit. Tapi karena gerakannya sangat aktif, jarang orang mengira dia gampang sakit.
“Mas, mungkin sebaiknya Dimas minum obat dan istirahat…”
Istriku tidak tega melihat Dimas batuk dan berkeringat dingin. Dia kemudian menuntun Dimas untuk ke kamar dan minum obat. Tidak lama kemudian aku menyusul mereka ke kamar Dimas. Istriku sedang meninaboboki Dimas yang belum juga tertidur. Aku memandang kamar yang dulu aku tempati ini. Haahhh….aku sangat merindukan kamar ini. Kuhampiri Dimas yang tidak juga tertidur di samping istriku. Kubelai rambutnya dan kusuruh di agar segera tidur agar besok kita semua bis berjalan – jalan mengelilingi kampung. Kemudian aku pun tidur di sebelah mereka.
Sekarang masih pukul 5.30 pagi, tapi jam segini di kampungku adalah waktu emas untuk bekerja. Setelah shubuh, orang – orang sudah mulai berangkat ke sawah. Dan sekarang banyak orang akan berbelanja ke pasar dan berangkat ke pasar untuk berjualan. Suasana pagi di kampungku memang selalu sibuk. Kami memutuskan untuk mengunjungi pabrik kami dulu di sini. Pabrik mie sengaja aku dirikan di sini, selain dekat dengan bahan bakunya yaitu beras. Aku juga menciptakan lapangan kerja untuk warga di kampungku. Kebanyakan karyawan yang aku rekrut memang berasal dari warga kampungku sendiri. Yeahh…paling tidak aku dapat meringankan beban pemerintah agar tidak terus mengeluarkan gaji untuk para pegawai negeri. Sedang untuk pabrik bubur instan sendiri aku bangun di Surabaya karena di sini lahan yang tersedia tidak terlalu luas.
Dimas berlari – lari berkeliling pabrik dan ditemani oleh istriku. Aku mendatangi mandor untuk memeriksa keadaan dan perkembangan pabrikku ini. Setelah puas berjalan – jalan di pabrik, keluarga mungilku melanjutkan perjalanan ke sawah milik keluarga kami. Sawah seluas 15 hektar yang kami miliki terbentang luas bak permadani hijau. Ada beberapa pekerja yang sedang menyiangi sawah kami dan juga mengatur pengairan agar semua sawah mendapat pengairan yang cukup. Aku menyapa mereka satu per satu. Saat aku kecil dulu aku tidak punya banyak teman. Jadi tidak banyak orang mengenalku dengan baik. Orang – orag baru mengenalku setelah peristiwa kebakaran yang membuat kedua orang tuaku meninggal.
Kulihat istriku berjalan sambil memapah Dimas yang bajunya belepotan lumpur. Sepertinya dia baru saja jatuh ke sawah. Aku tersenyum melihat pemandngan itu. Dimas berjalan tertatih – tatih sambil mengusap – usap bajunya yang kotor karena lumpur. Wajahnya sama sekali tidak bersedih atau kesakitan. Malah dia tertawa – tawa, karena berhasil membuat pakaiannya kotor. Jika bapak sekarang masih hidup, mungkin bapak akan menjitak cucu pertamanya yang hiperaktif ini.
Hahh…bapak. Lihatlah aku sekarang, pak. Aku sudah menjadi orang yang berguna. Aku juga sudah memiliki keluarga. Meski aku tidak menjadi seorang dokter seperti keinginanmu dulu. Aku mendirikan pabrik agar warga di sini tidak hanya menjadi para petani tapi juga memiliki mata pencaharian yang lain. Emak…lihatlah, aku tak lagi membenci melati, bunga kesukaan emak. Aku juga tetap suka makan lemper, hanya lemper buatan emak yang paling enak. Sayang Dimas tidak bisa merasakan lemper buatan emak.
Kami baru kembali ke rumah sesaat sebelum dzuhur, dan istri Lek Paino sudah menyiapkan makan siang untuk kami semua. Setelah sholat dzuhur, kami makan bersama. Di meja makan ada sepiring kue lemper yang dibuat oleh istri Lek Paino. Kuambil perlahan dan kumakan. Memang tidak seperti buatan emak tapi kue lemper selalu mengingatkanku akan emak.
“Mas, kamu kenapa?”
Istriku tiba – tiba membuyarkan lamunanku tentang emak. Tanpa kusadari aku meneteskan air mata. Istriku kemudian memegang tanganku, ada perasaan hangat saat dia melakukan itu.
“Aku yakin Ayah dan Ibu kamu pasti bangga punya anak seperti kamu, Mas…”
Aku masih menerawang. Dalam hati aku meyakini apa yang dikatakan oleh istriku. Pandanganku terhenti ke Lek Paino, wajahnya terlihat sedih. Aku ingat, Lek Paino adalah sahabat bapakku, mereka berdua terbilang bersahabat hampir selama hidup mereka. Lek Paino dan Bapak berteman sejak SD hingga sampai bapak meninggal. Pasti Lek Paino juga merasakan apa yang aku rasakan. Kami sudah seperti keluarga. Lek Paino dan bapak seperti saudara kandung, kemana – mana selalu berdua. Saat bapak susah, Lek Paino selalu membantu bapak. Begitu juga sebaliknya. Saat bapak dapat rejeki, pasti dirayakan bersama keluarga Lek Paino, begitu juga sebaliknya. Karenanya wajar jika Lek Paino juga merasa kehilangan.
Malamnya, saat semua sudah beranjak tidur, aku dan Lek Paino masih di duduk – duduk di balai – balai di teras rumah. Lek Paino menyedot rokok yang dari tadi tak pernah lepas dari tangannya. Kami habiskan malam ini dengan mengenang bapak jaman bapak masih hidup. Kami ngobrol sambil minum kopi. Tak jarang tawa keluar dari mulut kami saat teringat dengan kejadian yang lucu.
Esoknya setelah sholat shubuh, kami bersiap – siap untuk kembali ke Surabaya. Setelah membereskan semua barang – barang, kami mohon pamit ke Lek Paino sekeluarga.
“Lek Paino, terima kasih sudah mau menjaga rumah ini. Anggap saja seperti rumah Lek Paino sendiri. Hahh…banyak sekali kenangan dalam rumah ini. Meski bukan lagi bangunan yang asli, tapi Lek Paino tetap membuat suasana seperti saat saya masih kecil dulu. Saya dan keluarga pamit dulu. Nanti saat Dimas liburan sekolah, kami akan ke sini lagi.”
Lek Paino hanya mengangguk dan memelukku. Dia juga menasehati Dimas agar rajin belajar.
“Iya, Mas Danar saya akan menjaga rumah ini dengan baik. Kami sudah tidak sabar menunggu Mas Dimas ini liburan. Biar bisa liburan di sini.”
Kami bergegas masuk ke dalam mobil. Istriku melambaikan tangannya ke keluarga Lek Paino. Mobil kami pun segera beranjak dari rumah masa kecilku. Diikuti pandangan Lek Paino. Ada perasaan hangat yang menyelimuti saat meninggalkan kampungku. Aku menggenggam tangan istriku dan mencium kepala Dimas. Mobil kami semakin lama semakin merayap menjauhi kampungku. Dan matahari pun terlihat terbit memancarkan secercah harapan. Harapanku untuk melanjutkan hidupku dan harapan warga kampungku untuk hidup yang lebih baik.
*****
Nama : Fatimatuzzahroh
 Alamat : Parimono Selatan V/52 Jombang, Jawa Timur 61451
 No. Telp : 085655453304
 E – mail : aoi.pharu@yahoo.com
 No. Rek : Bank BRI 3648 – 01 – 003937 – 53 – 0 

Lampiran movie tidak tersedia.

Iklan

resensi_back.jpg

iklan-arrina.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :