Melupakan Cinta
Diposting: Senin, 08 Februari 2010 / 19:18:30 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen
Halaman ini diakses sebanyak: 1614 kali | Status Posting: Publish |
Rating:
(7 / 10) 1 rater
Langit di ufuk barat mulai memerah. Separuh dari tubuh bulat matahari sudah masuk ke dalam laut. Ombak Pantai Padang, seperti biasa, bergulung dengan hebatnya. Mereka saling berkejaran ke arah pantai, lalu serentak menghempaskan diri. Buih-buih putih bergulung-gulung, menari-nari, lalu kemudian hilang ditelan pasir putih.
Kulirik tissot di pergelangan tanganku. Magrib baru akan menjelang satu jam lagi. Kembali kulayangkan pandang ke laut lepas. Satu persatu perahu nelayan mulai kelihatan turun ke laut. Mengais rezeki di kedalaman samudera.
”San, aku baru saja diwisuda, minggu depan aku akan pulang,” begitu kabar yang disampaikan Bagas padaku seminggu yang lalu. Nada suaranya terdengar begitu bangga. Wajar saja, akhirnya dia yang memenangkan taruhan itu. Taruhan yang kami buat saat mengambil ijazah SMA empat tahun lalu. Barangsiapa yang bisa wisuda lebih dulu, berhak mendapatkan traktiran selama seminggu penuh. Dan aku kalah. Skripsiku baru mulai kugarap dua minggu lalu. Tidak mungkin semester ini aku bisa wisuda.
Tapi Bagas sama sekali tidak menyinggung masalah taruhan itu. Apakah dia lupa? Tidak mungkin. Awal semester lalu dia masih sempat mengingatkanku agar bersiap-siap untuk kalah.
Telepon Bagas minggu lalu malah mengatakan sesuatu yang membuat bumi tempatku berpijak seakan runtuh.
”San, aku akan pulang untuk secepatnya melamar Cinta....”
Tubuhku lemas seketika. Langit seperti runtuh, bumi seperti bergoyang, gempa 30 September yang mengguncang Ranah Minang beberapa bulan lalu tidak ada apa-apanya.
Empat tahun bukan waktu yang singkat. Tidak mungkin rasanya bagi seorang Bagas untuk tidak menemukan calon pendamping hidupnya di kota Jakarta dalam kurun waktu selama itu. Wajahnya jelas di atas rata-rata, sekelas dengan wajah aktor-aktor sinetron papan atas Indonesia. Fisiknya juga mendekati sempurna. Tubuh atletis, tinggi 172, berkulit putih, dan lihatlah kalau dia tersenyum, sepasang lesung pipit yang sangat jarang dimiliki seorang pria juga menghiasi pipinya, sungguh menawan.
Tapi, melamar Cinta? Dia masih menyimpan cintanya buat Cinta? Tidak sanggup aku mengatakan pada Bagas kalau saat dia menelepon itu, aku sedang berada di rumah Cinta, menyaksikan saat-saat Cinta tersenyum sumringah ketika dikhitbah oleh seorang pengusaha muda ternama. Bagas terlambat.
”Kau mau kan menjemputku di bandara? Nanti kukabari begitu akan berangkat.” Aku masih diam termangu saat Bagas menutup teleponnya. Di ruang tengah rumahnya, kulihat Cinta tersenyum begitu bahagia.
Entah untuk yang keberapa kalinya, ombak kembali menghempaskan tubuhnya di tepian pantai. Makin ramai saja orang yang datang. Ingin melihat acara serah terima jabatan antara siang dengan malam, saat matahari akan terlihat tenggelam, berganti peran dengan malam, sebuah rutinitas yang entah sampai kapan akan berakhir.
Di tengah-tengah laut Samudera Hindia, tiba-tiba saja kelebat bayangan masa SMA bermunculan. Aku melihat diriku bersama Bagas, juga Cinta.
Lampiran movie tidak tersedia.
Berikan rating penilaian Anda pada posting ini:
Posting Sebelumnya
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.



