Masjid Munafik

Diposting: Senin, 25 Januari 2010 / 13:53:49 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 1563 kali | Status Posting: Publish | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: (7.77 / 10) 22 rater

Penulis: Nabila Shasha

 

Wonosari, 23 Desember 2008

Kegelapan mulai membayang, mentari merah mulai menarik diri ke peraduan. Anak-anak Desa Wonosari berlarian pulang ke rumah mematuhi panggilan para ibunya. Sayup-sayup di ujung desa terdengar sebuah kumandang azan, hanya sekali, lalu suara itu pun tenggelam ditelan malam. Suasana desa kembali hening. Kesunyian malam juga tampak di Masjid Hidayah, masjid bercat hijau yang terletak di pertengahan desa. Lengang, tak seorang pun tampak di sana. Teras masjid masih dipenuhi beberapa dedaun akasia yang berserakan, pemandangan di dalam masjid pun masih gelap. Entah kemana para penduduk masjid ini. Irsyad sang gharim masjid pun tak kelihatan.

“Rohim, masjid kenapa tak ada yang azan? Mau jadi apa kampung mu ini?”

Seorang wanita tua tergopoh-gopoh menuju rumah panggung di sebelah mesjid. Seorang lelaki paruh baya keluar dari dalam rumah.

“Lho, saya kurang tau, Mbah, itu tugas Irsyad. Lagi pula malam ini imam giliran Pak Soleh, harusnya Rahmat yang sudah datang duluan.”

“Kamu ini gimana sih, Him, mau masuk surga kok pakai giliran? Sudah gila orang kampung mu ini. ”

“Aduh, si Mbah kayak nggak mengerti saja. Saya tak mau ke masjid kalau imamnya Pak Soleh, titik!”

“Jadi sekarang aku mau jamaah sama siapa?”

“Di rumah sajalah, Mbah, saya saja yang masih muda malas mengurusi masalah itu.”

Wanita tua itu tampak mengomel tak jelas. Dengan terbungkuk ia berjalan kembali menuju rumahnya. Kekecewaan jelas terbalut di wajah tuanya. Rohim tanpa ekspresi kembali masuk ke dalam rumah. Malam semakin tenggelam, waktu magrib pun berlalu begitu saja di Masjid Hidayah.

***

Wonosari, 24 Desember 2009

“Pak Yai, malam besok ke masjid ya! Kita mau bahas soal pengajian bulanan yang sudah lama tak jalan.”

“Si Soleh masih mengajar ngaji di masjid?”

“Ya iya,  tak ada lagi yang lain.”

“Malas aku.”

“Kenapa, Pak Yai?”

“Pokoknya kalau ada Soleh aku tak mau ke masjid. Dia itu orang baru tapi lagaknya macam pendekar.”

Lelaki setengah baya yang dipanggil Pak Yai tadi menuangkan kopi dari dalam teko. Segelas kopi tersebut disuguhkannya di depan Irsyad. Pemuda itu meneguk sedikit kopi tersebut, lalu ditatapnya kembali wajah Pak Yai, masih menunggu kalau-kalau lelaki itu akan berubah pikiran.

“Tapi ini undangan dari ketua yayasan, Pak Yai.”

“Si Somat?”

Irsyad lalu mengangguk pelan, tangannya membuka map hijau yang ia letakkan di meja. Diraihnya sepucuk kertas putih berlipat.

“Ini undangannya, Pak Yai, kami tunggu kehadirannya.” Irsyad menyodorkan kertas berlipat tersebut.

“Mungkin aku tetap tak bisa datang, Syad. Aku juga kecewa dengan si Somat itu.”

“Kecewa? Maksudnya?”

“Aku tau betul asal usul Somat bikin masjid itu. Dulu warga sini jauh sekali kalau mau ke masjid, lalu Somat yang waktu itu mencalonkan diri jadi anggota dewan mendirikan masjid untuk kami, dengan harapan kami akan memilihnya saat pemilu. Yang mengelola mesjid itu juga para tim suksesnya, biasalah minta dukungan kita.”

“Tapi itukan sudah lama, Pak Yai. Pak Somat juga sudah bukan anggota dewan lagi sekarang.”

“Si Somat itu tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Lihat saja, dia sendiri bangun masjid tapi datang ke masjid juga tak pernah.”

“Tapi, Pak Yai…”

“Apa? Si Soleh itu juga orang kepercayaannya Si Somat, sama saja mereka itu.”

“Astaghfirullah, tapi kita kan tetap wajib ke masjid, Pak Yai.”

“Alah…aku kalau mau ke mesjid lebih baik ke kampung seberang. Masjidmu itu udah jadi sarangnya orang munafik.”     Irsyad tak menyahut, ia pun tak berlama-lama lagi menunggui lelaki itu. Gharim Masjid Hidayah itu buru-buru pamit meninggalkan Pak Yai yang masih asyik dengan segelas kopinya.

***

Hal: 1 2

Lampiran movie tidak tersedia.

Berikan rating penilaian Anda pada posting ini:

 

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :