ketika Arya Bicara

Diposting: Kamis, 25 Februari 2010 / 12:52:06 | Oleh: iseu erisma | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 190 kali | Status Posting: Pending | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Lampiran movie tidak tersedia.

Suatu kehangatan, kedamaian, dan ketenangan selalu menghiasi rasa jenuh menjadi ketersejukan teramat dalam jika dia didekapanku. Mata sayu dia slalu membuatku lepas kata “sayang” disetiap sapa panggilan manja untuknya yang bersarang dihatiku. Lalu, sekeras apapun rengek tangisnya, maka aku dengan senang akan menghibur sang pangeran yang setia menrajai angan dan hati.
Saat angan dan hati ini tertuju untuk ‘sang pangeran’. Maka indahlah hidup ini. Alis hitam, bibir tipis, hidung mancung, dan yang paling tidak aku lupakan, pipi cabinya yang imut lucu hingga membuatku berucap ‘I love you’. Namun, seberapapun besar rasa sayang ini, aku tak pernah tau apakah dia memiliki perasaan yang sama sepertiku. Jujur, ada suatu kekecewaan terpendam ketika dia tak menjawab tanyaku mengenai perasaan itu. Beberapa kali aku menanyakan hal serupa bahkan hingga sekarang pun ia tidak pernah menjawab. Ingin sekali aku mendengar sesuatu keluar dari mulutnya tuk berucap ‘I love you too’ tetapi sepertinya aku harus menunggu untuk itu. Namun demikian, aku yakin melalui cara dia memandang dan mendekap dalam pelukan bahwa ia menyayangiku.
Kau tidak tau, betapa berbunganya aku ketika dia di dekatku. Kau baru akan merasakan hal tersebut jika kau melihat, mengenal, apalagi di dekatnya. Kecuali, jika kau memiliki sifat sepertiku dulu.
Sifat yang begitu menjengkelkan, membuat orang tidak senang. Karena sifat buruku itu, sang pangeranku merasa sakit hingga ia menangis. Menangis sejadi- jadinya di depanku hingga mengiris hati, membuat aku terus berputar, berfikir ‘mengapa aku harus melakukan itu ?’.
Saat itu, bukan hanya tangisan yang membuat aku merasa teramat salah. Tetapi, ibunya juga ayahku yang selalu menanyakan ‘ Ada apa ?’. Ibunya dan ayahku memang dekat, sedekat aku dan ayahku, dan sebelum aku mengenal dia (pangeranku) terlebih dulu aku mengenal ibunya. Maka, tidak ada kecanggungan di antara kita, hingga dengan atau tanpa kata yang diperhalus pun aku sudah dapat menangkap isi perkataan tersebut bernada menyalahkan.
****
“Apa yang kha lakukan ?”. Kata- kata itu masih jelas di ingatan. Sang ibu yang begitu cemas melihat anaku menangis dan tak mau makan. Awalnya aku bersikap acuh. Ah, paling nanti juga diam sendiri. Kalau lapar nanti juga minta. Cowok tuh engga boleh dibiasakan manja. Kalau nangis, ya udah biarin aja ! apa salahnya, ribet amat !
Pangeranku, sebut saja dia Arya. Sosok yang dulu aku acuhkan. Bahkan bukan hanya dia tapi orang- orang seperti dia membuat aku merasa risih dan tidak nyaman. Maka ketika kesalahan aku perbuat ‘Why not, semua orang bisa melakukan kesalahan, termasuk juga aku. Kalau tak mau ini terjadi mengapa harus mempercayakan sesuatu pada orang yang jelas- jelas tidak bisa di percaya seperti aku ?’. Huuh, begitu kasar aku mengambil sikap. Keangkuhanku membuat situasi semakin memanas. Arya tak pantas diperlakukan demikian, seharusnya dia diperlakukan dengan baik dan dijaga dengan baik pula, apalagi orang tuanya telah mempercayakan hal tersebut padaku saat itu. Tapi, sungguh payah aku menghianati amanah dan tidak memiliki kebesaran hati untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat.
Mulai setelah itu orang tua Arya terutama ibunya membuat sedikit demi sedikit jarak antara Arya dan Aku. Mungkin, karena takut anak semata wayangnya disakiti oleh wanita seperti ku. Saat itu semua kepercayaan seolah menipis dan berangsur hilang untuk Aku. Sejenak, Aku merasa lega bisa lepas dari Arya. Sosok yang membuatku merasa risih.
Namun, lama kelamaan aku pun berfikir ‘ Mengapa aku setega ini ? Apa salah Arya hingga aku tega menyakitinya? Apa jadinya jika ini berangsur memuncak menjadi sebuah kebencian baik dari Ibunya, Ayahnya, atau dari Arya sendiri. ‘ maka, mulai dari sana aku menyimpan rasa sesal dan tumbuhlah rasa sayang. Memang begitulah seharusnya kasih sayang Ibu pada sang anak. Begitulah perhatian dan serasa berada pada satu jiwa. Apabila yang satu sakit maka yang lainnya pun ikut sakit. Begitu indah pemandangan tali kasih antara ibu dan anak, memang. Jika saja, aku merasakan hal yang sama saat ini, dimana aku berperan sebagai anak. Ya, seorang anak bayi yang masih memerlukan kehangatan extra dan selalu berada di dekapan sang ibu. Diciumi pipiku dan selalu dilindungi. Dimana ketika aku ingin makan, mimi, tidur lalu terbangun, selalu ada ibu di sampingku. Seperti Arya pada saat bersama ibunya. Hmm, andai saja sekarang aku bisa merasakan hal itu bersama ibu. Hmm, perhatian, kedekatan, dan kehangatannya selalu begitu tanpak indah.
Ya, ku merawat arya dan rasa penuh kasih sayang. Arya sang pangeranku, dialah keponakan kecilku, cucu pertama ayahku.
Dan kau harus menjadi saksi atas apa yang aku yakini saat ini akan terwujud nyata bahwa suatu saat nanti ketika arya sudah bisa bicara maka ia akan terucap kata “Arya sayang Bi Dekha”. Itulah jawaban terindah atas pertanyaanku selama ini.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :