Cintamu Menunggu

Diposting: Rabu, 13 Januari 2010 / 14:06:41 | Oleh: inayati_jogja | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 418 kali | Status Posting: Pending | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Benar-benar sebuah misteri. Menguaknya bagaikan menyibak seulas senyum Monalisa. Kau tak tahu siapa dia, dimana dia, bagaimana dia. Aku bicara tentang jodoh. Aku punya sahabat bernama Mbak Rena, dulu kami satu kos sewaktu sama-sama kuliah di Jogja. Aku kuliah di Farmasi, dia mendalami Kedokteran Hewan. Sekarang, ia telah menjadi seorang dokter hewan yang akhir-akhir ini gelisah menantikan jodohnya. Ia dikejar umur, ia sudah 29 tahun. Usia dimana semua tetangga kanan kiri akan deras menggunjingkannya. Menggosipkannya terus-menerus sama saja dengan menusukkan belati berulang-ulang ke ulu hatinya. Ia seorang wanita, halus perasaannya. Bagaimanalah hati wanita bisa demikian kebal terhadap kata-kata yang menghinakan.

Ia sebenarnya manis, namun sekarang cukup subur karena finansialnya makmur. Awalnya kukira ia akan seperti wanita-wanita lain yang depresi, merasa bahwa semua lelaki tak menginginkannya, dan bahwa ia tak berhak untuk bahagia. Namun aku salah. Kisahnya indah. Cintanya merekah di usia menjelang 30. Ketahuilah wahai sahabat-sahabat wanita yang masih belum menemukan pasangan jiwanya, bahwa cinta kalian tengah menunggu. Bahwa ia akan datang tak perduli usiamu 20, 30, atau 40 tahun. Ia datang bagai tersibak tirai sutera, dengan cara yang indah, mengejutkan namun juga melegakan dan membahagiakan.

Dalam banyak hal, aku dan Mbak Rena sangat cocok. Sama-sama penyuka film, humoris, easy going, dan sangat dinamis. Jilbabnya lebar tapi tingkahnya atraktif, membuat pikiranmu berubah tentang bagaimana seorang akhwat sebenarnya. Kami sama-sama tidak terlalu terburu-buru untuk menikah demi melihat orang tua kami masing-masing tidak begitu akur satu sama lain. Kami sepakat bahwa menikah hanyalah sebuah proses yang harus dijalani dalam sebuah siklus kehidupan, namun ia bukan cita-cita tertinggi kami.

Meskipun ia bekerja di Semarang, tapi tak kurang satu kali dalam sebulan ia main ke Jogja. Kami biasanya menghabiskan hari dengan bercerita, makan bareng, ke toko buku, renang, atau nonton film di bioskop. Rasanya lepas sekali, jika berjalan-jalan dengan sahabatmu. Beda sekali jika kau keluar bersama kekasih, sepanjang waktu gelisah khawatir karena dandananmu kacau atau tingkahmu memalukan.

Suatu kali mbak Rena bercerita tentang dua lelaki dari masa lalunya. Hadit dan Anton, keduanya dikenal Mbak Rena melalui internet (sudah kuceritakan bukan kalau Mbak Rena ini bukan akhwat biasa?). Mereka berdua rajin menyambangi kos dalam rangka meluluhkan hati seorang Rena. Hadit sangat agresif. Ia lebih sering datang dan membawakan sesuatu untuk Mbak Rena. Ia bercerita secara ekspresif. Ia mengutarakan perasaannya secara gamblang. Ia murah senyum, dan kulihat Mbak Rena tertawa lepas ketika mereka sedang berdua. Pasangan yang serasi, pikirku waktu itu. Kala itu Mbak Rena berusia 24 tahun, sedang aku 20 tahun. Tepat 5 tahun yang lalu.

Aku ingat, setahun dua tahun, mereka terlihat akur-akur saja. “Hadit sepertinya serius ingin melamarku”, kisah Mbak Rena ketika kami nongkrong di sebuah warung lesehan di selatan Jogja. Cuaca waktu itu sungguh sempurna, sore yang sejuk namun tiada tanda-tanda hujan akan turun. Sebaik mungkin kami menghabiskan senja yang berkualitas, berbicara tentang masa-masa yang telah lampau yang kelak menentukan masa depannya. “Ia terlalu baik, terlalu manis, terlalu sempurna untuk ditolak. Kami bersama, entah namanya pacaran atau bukan namun kami se-iya sekata. Seolah alam menciptakan aku sebagai wanita dan ia sebagai pria dengan sebuah maksud tertentu, agar kami bersatu.”

Aku hanya bisa menganguk-anguk takzim. Pertama karena aku menghormati ceritanya, kedua karena lele bakar yang kusantap begitu lezat jadi tak ingin aku merusak cita rasanya dengan bicara yang tak perlu. Mbak Rena seolah lupa dengan bebek goreng kremes yang sedari tadi teronggok manis di depannya,

“Namun sebuah hari yang kelam tiba. Mungkin waktu itu kamu sedang sibuk skripsi jadi tak begitu memperhatikan kalau mbak kosmu ini sedang ditimpa kemalangan..”

Aku merasa bahasa Mbak Rena mulai lebay tapi aku diam saja dan berkomentar dalam hati, sepertinya dia terlalu banyak membaca novel-novel romantis. Roman mukanya pun sungguh serius, pandangan matanya terfokus entah pada apa, bibirnya terkatup rapat di jeda kalimatnya, dan tangan kanannya bergerak kesana kemari menegaskan betapa kisahnya tidak main-main.

“..tiba-tiba Hadit menghilang. Nomernya tidak aktif. Kosnya pun pindah. Aku frustasi..”

“Frustasi sih frustasi mbak.. tapi bebeknya bakalan ikut frustasi tuh kalo tidak segera dimakan.”

Bagai bangun dari mimpi, Mbak Rena tergeragap. Tatapan matanya melembut, bibirnya mengulum senyum, bahunya mengendor dan tangannya kembali kalem, berusaha menyuil daging sedikit demi sedikit.

Aku merasa romansa ini begitu indah. Santapan yang lezat, sahabat yang lekat, dan kota yang hebat. Menelusuri Jogja seakan kembali menilik jejak indahnya perjalanan merentas ilmu, dulu. Aku ingin benar-benar menikmati saat-saat seperti ini. Kuperhatikan Mbak Rena. Mulutnya penuh, namun seperti tidak sabar menguntai kembali ceritanya..

“Kukira aku tak pernah mengalami saat-saat seperti itu. Patah hati. Cih! Hal semacam itu hanya dialamai oleh remaja-remaja bodoh yang tahunya hanya pacaran. Tapi aku? Aku seorang wanita yang mandiri dan percaya diri ternyata mengalaminya juga. Menangis cengeng seperti remaja-remaja bodoh itu. Tapi suatu hari, setelah satu bulan menghilang, ia datang dengan wajah muram. Ia diam selama waktu yang tak biasa. Kami duduk di ruang tamu berdua dan hanya membisu. Kebekuan yang menyakitkan. Ingin rasanya aku menjadi orang yang tidak berpendidikan sehingga bisa melampiaskan emosiku tanpa dikekang norma-norma. Aku ingin menamparnya, meludahinya, atau menjambak rambutnya lalu menyemburkan caci maki paling tak beradab.”

Tanpa sadar mbak Rena sedang mengoyak-ngoyak daging bebek itu tanpa perasaan, lucu sekali. “Sebelumnya ia begitu penuh perhatian, menghibur di kala aku sedih, dan selalu ada ketika aku membutuhkannya, pokoknya kekasih SIAGA lah. Lalu tiba-tiba ia hilang bagai ditelan bumi, tanpa penjelasan dan ucapan selamat tinggal. Apakah ia kira hatiku terbuat dari batu? Sungguh..jika kau menggantungkan kebahagiaanmu pada seorang manusia, yang kau temui hanyalah kekecewaan.” Ia menatapku tajam, menegaskan bahwa ia sedang menyelipkan sebaris nasihat dari pengalaman hidupnya yang pahit. Aku menelan ludah. Sungguh mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah pencerahan.

“Tak sudi aku bicara duluan. Walau setahun aku akan diam, dan menunggunya bicara. Ia menunduk tapi mataku tajam menantangnya. Aku tak gentar sama sekali. Aku telah patah hati, dan aku tidak akan segan-segan untuk menguburnya dengan rasa bersalah. Tak kusangka akhirnya ia berani mengangkat kepalanya dan menatapku, tapi oh.. matanya, matanya, Na!”

“Matanya kenapa Mbak?” aku ikut panik seiring dengan nada suara Mbak Rena yang meninggi.

“Matanya.. itu bukan tatapan penyesalan dan permohonan maaf.” Suaranya melembut, lirih bagaikan gemerisik daun dibelai angin, “Itu adalah keyakinan. Sorot mata kebenaran. Aku tidak mengerti. Aku ingin menghujaninya dengan pertanyaan, namun kalimat yang keluar dari mulutnya seolah membungkamku,

“Ada seorang akhwat, dari jama’ah kita telah didzolimi dengan sadis oleh beberapa preman, setelah ia pulang dari mengaji. Kejadiannya sekitar jam 8 malam, enam minggu yang lalu. Paginya, penduduk menemukannya dalam kondisi yang memprihatinkan di dekat selokan Mataram dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit. Sekarang ia masih dirawat di Sardjito, dan kata dokter.. katanya.. ukhti tersebut positif hamil. Sekarang keadaannya sangat menyedihkan, jiwanya terganggu dan keluarganya bingung harus bagaimana. Berita tentang ukhti tersebut memang sengaja dirahasiakan, jadi hanya beberapa ikhwah saja yang tahu.”

Jeda. Lima atau enam detik berlalu dalam bisu yang mencekam.

“Ren. dia sahabatmu, juga sahabatku, seperjuangan.” Hadit berkata lirih, bibirnya bergetar, hampir menangis, “Harus ada seseorang yang menolongnya.”

Dan aku tak perlu bertanya siapa “seseorang” yang harus menolongnya tersebut. Tak perlu pula aku bertanya kenapa harus Hadit, dan kenapa bukan ikhwan yang lain karena hanya akan menunjukkan betapa egoisnya diriku.

Angin sore berhembus lembut mempermainkan jilbab kami. Suasana mendadak menjadi sendu. Enggan aku berkomentar yang lucu-lucu lagi demi melihat wajah Mbak Rena lebih gelap dari senja,

.“Aku bingung sekali waktu itu. Setelah sumpahan Dokter Hewan, aku langsung lari ke Semarang, mengabdikan diri sepenuhnya bekerja di Dinas Peternakan. Aku berganti nomer. Kenangan bersama Hadit terlalu berkesan untuk tidak berakhir dengan bahagia. Aku tidak bisa hidup dengan kenangan itu, makanya harus putus hubungan sama sekali dengannya. Aku berusaha menjadi manusia baru di Semarang.” Nada suaranya berangsur-angsur kembali riang.

Aku menganguk-anguk lagi, berharap bagian yang menyedihkan dari cerita ini telah berlalu, lalu menyahut tak kalah riang,

“Lalu yang satu gimana mbak?”

“Yang satu yang mana?” ia berpikir sejenak, sedetik kemudian, “Ooh.. maksudmu si Anton?”

Aku menganguk cepat. Mbak Rena menelengkan kepala, memutar bola matanya seolah berusaha keras mengingat kembali sosok itu,

“Kalau Anton orangnya pemalu. Paling cuma tiga atau empat kali dia datang ke kos.”

Pantas saja aku tidak ingat yang mana orangnya.

“Dia… ehm.. ah.. susah menjelaskannya. Orangnya pendiam, jadi aku sulit sekali menebak sifatnya atau isi hatinya. Ia seolah menyimpan jati dirinya di suatu tempat seolah itu barang yang berharga, dan hanya membiarkan orang lain melihat permukaannya saja. Kalau aku berbicara, ia hanya mendengar. Kalau aku diam, ia hanya tersenyum. Namun ketika ia berbicara, aku tak pernah bisa membalasnya seolah yang dia katakan adalah sebuah kesimpulan akhir, semata-mata berupa kebenaran jadi tak pernah bisa untuk didebat atau disanggah.”

Kulihat Mbak Rena sukar sekali mendeskripsikan Anton ini, aku pun tak mengerti penjelasannya jadi dengan sopan aku melirik jam tangan,

“Eh Mbak, udah jam setengah enam nih. Pulang yuk, keburu maghrib.”

Sang putri pun tersadar dari lamunannya,

“Oh iya, yuuk.”

Setelah membayar makanan, kami bergegas mengejar bis Trans Jogja yang masih tersisa. Mbak Rena menginap di sebuah hotel Melati di jalan Malioboro. Aku ikut menemaninya, Esoknya kami berpisah, Mbak Rena kembali ke Semarang naik bis JogloSemar, sedang aku kembali ke Wonosari, Gunungkidul. Kembali pada rutinitas kerja.

Sebulan kemudian Mbak Rena kembali main ke Jogja. Kali ini dia merelakan diri naik ke Gunungkidul dan menginap di kosku. Kos-kosanku sangatlah “mengesankan”. Didepan kamar kosku ada Kamar Mandi dan disampingnya ada kandang Kambing? Nah.. bapak dan ibu kosku sangatlah kreatif dalam hal memelihara binatang. Musim kurban telah berlalu, setelah kambing, mereka berdua sempat memelihara lele karena di pemukiman ini mulai menjamur banyak warung rames maupun warung lesehan. Kupikir, induk semangku ini memang sangat canggih dalam hal studi kelayakan calon buyer sebelum memulai usaha. Nah, kali ini, aku benar-benar tidak dapat membaca pikiran enterpruner mereka, oleh karena yang mereka pelihara sekarang adalah: SAPI. Dan perlu dicatat, sapi tersebut berwarna kumuh, dan sama sekali tidak berkulit putih bersih seperti dalam gambar iklan-iklan susu. It’s okay kalau sapi tersebut kalem dan tak banyak tingkah, masalahnya setiap malam mereka membuat suara gaduh, berteriak-teriak minta minum atau makan atau sekedar minta dibukakan kandang karena mau jalan-jalan.

Ah..sudahlah mari berhenti berbicara tentang sapi. Pagi itu aku menyambut Mbak Rena dengan senyum merekah secerah mentari pagi. Kami berpelukan dan saling bertukar kabar. Sayang sekali pagi itu aku harus berangkat kerja di apotek, jadi untuk sementara kutinggalkan sementara Mbak Rena bersama si sapi nakal. Kuharap tidak terjadi apa-apa dengan mereka berdua.

Di apotek aku tenggelam dalam pekerjaan. Salah satu karyawanku mengeluh karena seminggu berturut-turut dapat giliran jaga malam, seorang pasien berhalusinasi obatnya berubah menjadi racun yang membuatnya mencret, dan seorang sales meronta-ronta minta orderan segunung karena mengejar omzet akhir bulan. Sebagai Apoteker Pengelola Apotek (aku masih tak percaya betapa kerennya nama jabatan ini) aku harus siap sedia dihadapkan pada masalah remeh temeh semacam itu. Aku harus memastikan pasien mendapat obat yang tepat, karyawan terjamin kesejahteraannya, dan terlihat professional menghadapi para sales agar mereka tidak ngelunjak. Kadang diperlukan kelembutan hati, tapi tak jarang kau harus bertangan besi agar semua berjalan sebagaimana mestinya.

Pukul tiga lima belas tepat aku pulang ke kos. Aku mendapati Mbak Rena tertidur pulas di kasur tipisku. Di dekatnya tergeletak novel yang aku pinjam di perpustakaan kemarin. Aku tersenyum simpul, kami berdua memang sama-sama book freak, buku apapun dilahap, bedanya Mbak Rena lebih menyukai buku nonfiksi seperti biografi atau seri Traveller, sedangkan aku tergila-gila dengan cerita fiksi. Aku bangunkan si sleeping beauty tersebut dan mengajaknya shalat ashar berjamaah. Setelah itu kami nonton gosip dan mengomentari sekenanya.

Malam hari adalah waktu yang sempurna untuk kembali bercerita. Tak terasa 5 tahun Mbak Rena meninggalkan Jogja dan segala pengalaman pahitnya dengan Hadit. Aku penasaran bagaimana Mbak Rena mengisi waktu 5 tahun tersebut terkait dengan kehidupan cintanya. Ceritanya agak belibet, namun aku berusaha menyimaknya,

“Aku punya temen deket namanya Erna. Dia punya adik namanya Nita. Nita, punya pacar namanya Jaka. Aku pernah bertemu dengan Jaka beberapa kali. Secara fisik tidak terlalu buruk, mirip Spiderman tapi pas dia jadi Peter Parker..”

Sejenak aku membayangkan film si Laba-laba itu. Jadi pendek, putih, dan berkacamata, simpulku sok tahu.

“Aku pernah sekali bercakap-cakap dengan Jaka, dan kurasa orangnya asyik juga, wawasannya luas dan ia sangat memperhatikan Nita. Aku sendiri sangat dekat dengan Nita, jadi aku senang dia mendapat lelaki yang baik. Tapi aku tidak mengerti sama sekali, suatu hari Nita mencampakkan Jaka dengan alasan yang tidak jelas. Nita menjalin hubungan dengan lelaki lain bernama.. ah aku lupa namanya, yang jelas ia kribo, hitam dan kurang terurus. Aku benar-benar tidak habis mengerti karena akhirnya Nita menikah dengan lelaki kribo tersebut.”

Aku menyeruput kopi susu dengan suara nikmat sambil berpikir, kira-kira apa ya hubungan antara Nita, Jaka, si Kribo dan Mbak Rena. Tapi aku sabar, kami masih punya waktu semalam suntuk.

Mbak Rena ikut menyesap kopinya namun terlebih dahulu ia menghirup aromanya dalam-dalam, benar-benar seorang coffeeholic sejati. Denting gelas terdengar menyentuh lantai kembali,

“Lalu Erna punya ide gila untuk mencomblangkan aku dan Jaka. Pikirnya aku masih single, Jaka pun sedang patah hati. Kebetulan aku dan Jaka masih sering mampir ke kos mereka berdua, jadilah kami berdua sering bersua. Pertama-tama ngobrolin cuaca, lalu pada pertemuan ketiga dan keempat kami mulai berbicara tentang pribadi masing-masing. Tak disangka kami memiliki hobby yang sama: membaca buku. Dan pertemuan yang kelima kami ke toko buku berdua. Ia bercerita bahwa ketika masih bersama Nita, berada di toko buku tak pernah menyenangkan karena Nita tak pernah suka membaca buku. Sedang bersamaku, berjam-jam di toko buku seperti tak pernah cukup. Prinsip dan pemikiran kami juga kebanyakan sama. Seolah kunci bertemu dengan gemboknya, seperti bertemu dengan belahan jiwamu yang telah lama hilang, seperti bertemu dengan soulmate. Itulah yang aku rasakan dengan Jaka.”

Cerita Mbak Rena belum pula khatam, namun aku sudah merasakan bakalan ada konflik tajam setelahnya.

“Tak terasa dua tahun kami menjalin hubungan, meski tak sering bertemu. Itupun tanpa sepengetahuan Nita. Telepon dan sms yang begitu nyambung dan klik dengan setiap suasana hati meyakinkanku bahwa mungkin inilah jodohku. Aku tak melihat faktor-faktor lain, bahaya yang setiap saat mengintai, karena melupakan darimana jalinan kasih ini dimulai.”

Jangkrik-jangkrik mulai menyanyi. Orong-orong terlihat melintas lalu mendelik ketakutan memandang kami dan menghilang di sebuah lubang kecil.

“Suatu hari aku bertemu Nita kembali dari bulan madunya bersama si Kribo. Dengan ceria ia memperlihatkan foto-foto pernikahan mereka. Dan tanpa curiga sedikitpun, Nita dengan itikad baik ingin mengenalkanku dengan seorang guru di daerahnya. Kiranya dia prihatin demi melihatku menjomblo sampai usia sekian. Aku panik bagaikan digedor-gedor perasaan bersalah. Aku seperti menusuknya dari belakang. Aku berkasih-kasihan dengan laki-laki yang dulu pernah sangat ia kasihi.”

“Lalu semua berlalu bagaikan mimpi. Jaka berkata bahwa ia segera resign dari pekerjaannya karena tidak betah dan tidak tahu harus kemana. Aduhai..bagaimanalah ini? Bukankah seorang kepala keluarga harus memikirkan segala hal termasuk masalah finansial? Kenapa ia dengan entengnya berkata seperti itu padahal ia telah berniat untuk menikah. Kenapa ia tidak memantapkan pekerjaannya dulu. Akupun dirundung resah.”

“Seolah semua itu belum cukup menyiksa, Erna tiba-tiba berkata jujur bahwa Jaka dulu juga pernah menembaknya setelah putus dari Nita. Ia tidak ingin memacari mantan pacar adiknya sehingga menawarkan Jaka padaku. Seputus asa itukah Jaka sehingga asal menyambar siapapun yang berada di dekat mantan kekasihnya?”

Hedeew..kok tambah parah, batinku mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk. Seekor cicak gemuk mengintai kopi susu kami dengan lidah menjilat-jilat. Aku mengusirnya dengan buku note kecil.

“Semua bagaikan petunjuk yang berurutan datang, bagaikan bell yang berdering nyaring. Sebuah peringatan yang datang hampir terlambat. Pertama aku tak punya nyali untuk mengkhianati Nita karena aku tahu seberapa dekat dia dan Jaka dulu menjalin asmara. Kedua, Jaka dimataku menjelma menjadi sosok lelaki tak bertanggung jawab yang tak pernah memikirkan masa depannya dengan menyerah begitu saja pada pekerjaan. Ketiga, aku tak yakin lagi sungguhkah aku berarti di matanya setelah dia main tembak sana tembak sini asal kena. Tidak bisa tidak, kami pun putus.”

Jangrik berhenti melagu, orong-orong tak pernah muncul kembali, sang cicak berlari terbirit-birit menjauhi kami.

Lengang.

Satu dua menit berlalu seolah memberi kami waktu untuk bernafas, aku mencoba meraih tisu di meja, berjaga-jaga seandainya Mbak Rena pecah tangisnya.

“Untuk sekian kali aku patah hati.” Dengan tegar pejuang cinta itu melanjutkan, “Bagaimanalah aku percaya pada kesetiaan lelaki jika tak satu pun dari mereka pernah lekat hanya pada satu hati?”

Rasanya tak sanggup aku menjawab tanya itu. Pengalamanku belum cukup mumpuni, pengetahuanku tentang laki-laki juga aku tak tahu pasti.

“Sungguh aku tak ingin lagi dekat dengan cowok, atau pacaran, atau TTM atau HTS atau apalah namanya tanpa komitmen yang jelas untuk segera menikah.”

Kulihat sekejab, sorot kemarahan dalam matanya.

“Setelah itu aku menenggelamkan diri dalam soal-soal CPNS. Berusaha sekuat tenaga agar diterima CPNS. Tapi ternyata aku tak diterima. Aku jadi semakin merasa jatuh kepercayaan diri. Aku tak lagi sanggup untuk berdiri tegak dan mengangkat kepalaku seperti dulu. Sungguh masa-masa yang berat. Aku terus bertanya-tanya, kenapa harus aku? Kenapa, Na? Kenapa aku yang dipilih Tuhan untuk menjomblo sampai usia 29 tahun? Kenapa aku yang dipilih Tuhan untuk tidak diterima CPNS padahal teman-temanku yang lain telah mapan dengan keluarga yang harmonis dan anak-anak yang lucu? Kenapa..? Oh..Kenapa..?”

“Eh.. Tunggu dulu..!” tiba-tiba Mbak Rena meng-cut ceritanya sendiri.

“Kenapa Mbak?” Tanyaku heran.

“Apakah aku tadi seperti sinetron, terlalu mendramatisir?”

Mimiknya lucu sekali, jadi tidak bisa tidak aku tertawa. Mbak rena benar-benar aneh.

“Kurasa iya. Tapi aku ga keberatan kok.”

“Baiklah.” Mbak Rena mengatur nafasnya.

Emmooh..

“Apa?! Kau tak ingin mendengar ceritaku lagi?” Mbak Rena menatapku galak.

“Itu kan bukan suaraku, Mbak…”

“Lalu?”

“Sapi.”

“Ooh..”

“Mau lanjut ga nih ceritanya?”

“Iya..Iya..” sahut Mbak Rena masih bersemangat. Gila! Ga ada matinya nih cewek, batinku kagum.

“Bentar, Mbak. Aku mau pipis dulu, ya.”

“Lima menit.”

“Beres.” Aku ngeloyor ke kamar mandi. Udara yang dingin membuat kandung kemihku penuh lebih cepat. Setelah puas ber-urinasi, aku keluar dari kamar mandi, satu dua kali menghirup udara malam, dan melirik sirik pada sapi di sebelah, “Jangan macam-macam ya malam ini.”

“Kau telat dua menit,” sahut Mbak Rena tanpa ampun setelah aku berada di hadapannya kembali.

Sorry mbak, aku tadi…”

“Jadi akhirnya aku bertemu dengannya,” lanjutnya tanpa menungguku duduk dengan posisi enak.

“Siapa Mbak?”

Mr. Right.”

How could?”

“Ok. Akan aku ceritakan sedari awal.”

“Aku punya seorang teman cowok di Dinas Peternakan. Dia masih single, berpenampilan menarik, kulit putih, hidung mancung, tinggi, dan rupa mirip Ashton Kutcher, namanya Farid. Kami sering bercengkerama di kantor membicarakan rabies atau flu burung atau apa lah yang berkaitan dengan hewan. Selain pandai, ia sangat sopan dan senyumnya sangat mempesona. Kebetulah ia diterima CPNS tahun ini. Sudah menjadi tradisi bahwa semua CPNS yang diterima tahun ini harus mengikuti pelatihan di Bandung, termasuk si Farid ini. Di Bandung, Farid berjumpa dengan seorang lelaki kurus, berkacamata, dengan kulit yang tidak begitu gelap namun juga tidak begitu terang. Ia seorang Pegawai Negeri Sipil tapi di dinas yang berbeda di Bandung. Mereka ngobrol ringan seputar masalah politik yang sedang marak tanpa menyadari sedikitpun tentang tali takdir yang sangat tipis di antara mereka yang kelak menentukan masa depanku. Sampai kemudian Farid bercerita bahwa ia adalah seorang dokter hewan, dan lelaki tersebut adalah seorang Sarjana Tehnik. Saat itulah takdir menampakkan wujud aslinya,

“Oh jadi sampeyan dokter Hewan ya? Di Deptan Semarang?” tanya si lelaki kurus.

“Iya. Senang berkenalan dengan seorang Sarjana Tehnik.” Jawab Farid ringan.

Lalu lelaki kurus tersebut seolah ingin menanyakan sesuatu, namun terlihat ragu. Kemungkinannya sangat kecil, batinnya pesimis.

“Ada apa sahabatku?” tanya Farid penasaran.

“Ehm..begini, aku mau bertanya sesuatu.” Matanya sekali lagi menyiratkan keraguan.

“Ya? Kau mau bertanya apa? Kecuali kau mau bertanya, “apakah kau mau menikah denganku” pasti akan kujawab.”

“Ha..ha..ha..” mereka tergelak bersama.

“Ehm..begini, apakah di Deptan Semarang ada Dokter Hewan yang namanya Arina Dian Utami?”

Farid terlihat berpikir keras,

“Arina Dian Utami? Sepertinya tidak ada. Tapi mungkin karena aku tidak hafal nama lengkap mereka masing-masing. Adakah nama panggilannya?”

“Panggilannya.. Rena. Adakah?” lelaki itu merasa ini sia-sia saja. Ia merasa konyol.

“Ooh.. Rena?” Farid tiba-tiba berseru gembira, terbayang olehnya seorang gadis berjilbab hitam manis yang selalu terlihat ceria. Jantung lelaki kurus tersebut serasa berhenti berdetak. Tangannya terasa basah oleh keringat,

“Ada ya?!” serunya tak sabar.

“Oh kalau Rena sih aku kenal baik. Dia..”

“Tolong! Tolong!!” Lelaki kurus itu menggoncang-goncangkan bahu Farid. Farid sampai menatapnya ketakutan, mengira berhadapan dengan seorang psikopat atau semacamnya.

“Tolong beri aku nomor teleponnya!” pintanya mengiba.

Emmoooh..

Aah..sapi itu mengganggu kekhusyukan cerita saja. Mungkin ia haus atau lapar. Tiba-tiba aku seperti baru teringat untuk kembali bernafas. Mbak Rena dengan tenang menyesap kopi susunya yang sudah mulai dingin. Ia merasa berhasil membuatku tercekam entah oleh apa. Ia memang pencerita yang ulung, dan licik. Dan aku merasa tertipu. Kenapa pula harus muncul si Ashton Kutcher yang diceritakan dengan begitu mendetail. Aku benar-benar tertipu. Tapi aku tak sanggup untuk berhenti mendengarkan,

“Lalu pada suatu malam, ketika aku menyesali nasib, bergumul dengan penyesalan, dan tersiksa oleh rasa rendah diri akut, ia datang membawa matahari, yang awalnya mewujud dalam sebuah dering handphone,

“Halo? Assalamu’alaikum?” kusapa penelepon asing di seberang sana dengan malas-malasan.

Lalu yang kudengar hanya senyap.

“Halo? Ini siapa ya?”

“Wa.. Wa’alaikumsalam,” aku mendengar suara agak gugup, “Ini Rena ya?”

“Iya. Ini siapa?”

Aku merasakan De javu. Aku seperti mendengar suara dari masa lalu. Namun aku lupa, siapa pemiliknya.

“Kenapa kau pergi begitu saja? Aku mencarimu kemana-mana. Kenapa tiba-tiba nomer handphone ga aktif? Kemana.. dimana selama ini?” rentetan suara itu bagaikan menohok kesadaranku yang paling dalam. Tidak mungkin. Tidak mungkin dia. Dulu dia sangat pendiam.

“Kau?!”

“Ya. Ini aku.”

“A.. Anton?!”

“Iya.”

Diam. Desir angin membuatku semakin merinding. Kenapa dia datang di saat aku terjatuh di jurang yang paling dalam? Pertanda apakah ini?

“Ren..? Rena? Apa kau masih disitu?”

“Iya, aku masih disini.” Tanpa sadar aku terisak. Bagaikan akumulasi penderitaan, kesunyian, penyesalan, semua mengkristal menjadi satu. Seolah aku menemukan kembali rumahku, atau orangtuaku, atau guruku, dan inginnya mengadukan segala keluh kesahku setelah lama berpetualang main-main di dunia luar.

“Bagaimana kau bisa..”

“Aku tak ingin kehilangan kau untuk yang kedua kali. Maukah kau menikah denganku?”

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk berpikir. Bukan, bukan karena aku putus asa. Namun pada lelaki kurus berkacamata tersebut tersimpan jawaban dari semua pertanyaan. Kasih sayangnya yang luar biasa terbukti dari lima tahun penantian yang menyakitkan.

“Iya, tentu saja.” Jawabku semantap bulan purnama.

Oooooooh.. so sweet. Sekian detik lamanya aku masih dalam posisi terpesona oleh ceritanya.

Emmoooooooooooooh… akhirnya sapi sial itu menyadarkanku. Lenguhannya semakin lama semakin panjang. Ia tidak akan berhenti berteriak sebelum menemukan apa yang dia inginkan, rumput dan air untuk disantap. Mau tak mau aku beranjak dari dudukku.

“Dan sekarang aku, aku telah menemukannya, Na..”

Benar-benar samar dan tak jelas apa yang digumamkan Mbak Rena, karena saat itu aku sedang kepayahan membantu ibu kosku mengusung sekarung rumput lalu menggotong seember air besar sebagai santapan lezat sapi tak tahu diri itu.

Wonosari, Januari 2010

 

 

 

 

Lampiran movie tidak tersedia.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :