Balada Pengemis
Diposting: Rabu, 20 Januari 2010 / 19:00:20 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen
Halaman ini diakses sebanyak: 1963 kali | Status Posting: Publish |
Rating:
(8.5 / 10) 2 rater
Dia masih berkutat di dapur sebagai tukang masak di sebuah restoran padang yang cukup besar di salah satu sudut kota Jakarta. Hawa panas yang keluar mengitari setiap sudut dapur tanpa ampun. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Sungguh! Hawa panas yang dirasakannya ini tak seberapa dengan rasa panas yang menjalar di dalam tubuhnya, hingga membuat hatinya menggelegak bila mengingat kelakuan saudara saudaranya yang begitu rendah di matanya.
Rasa gerah yang terpancar karena antusiasnya yang tinggi dalam mengolah aneka lauk padang di rumah makan ini, mampu mengeluarkan beribu-ribu keringat kemarahannya, yang bersumber pada sebuah nama.
“Uda Aznan benar-benar sudah kelewatan!”
Dia mengeluhkan nama itu seirama dengan ayunan pisaunya yang tajam. Yang tanpa perasaan memotong-motong berkilo-kilo daging yang teronggok pasrah diatas meja pembantaian.
“Mengapa Udanya itu tak pernah berhenti membuat masalah?”
Dia pun semakin bekerja dengan kerasnya, agar kemarahannya tersalurkan dengan baik. Meski badannya sudah basah penuh keringat, yang bila tak dikeluarkan lewat kerja kerasnya ini, akan menyumbat pori-pori kesabarannya, hingga mampu merasuki otaknya yang akan membuatnya semakin gila karena emosinya. Emosi marah, benci, sedih, juga rasa prihatin yang dalam. Pelampiasan jiwanya yang sempurna.
“Jadi, kapan kamu bisa pulang, Rusli? Abak sekarang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung. Dia terus menyebut-nyebut namamu,” ujar Mande tadi malam sambil terisak-isak lewat telepon.
Kalimat tanya itulah yang kini mendesak kuat dalam otaknya, seolah-olah ingin memecahkan tempurung kepalanya. Bagaikan bom waktu yang menolak untuk tak diledakkan. Memicu adrenalinnya agar segera bereaksi terhadap serangan rasa kesal yang memuncak.
“Kau benar-benar membuatku muak, Da!”
Dia meremas-remas kelapa dengan sepenuh rasa gemes, agar menghasilkan santan kental yang sempurna.
Lampiran movie tidak tersedia.
Berikan rating penilaian Anda pada posting ini:
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.





