Aku sayang mamaku, dan juga papaku !

Diposting: Sabtu, 27 Februari 2010 / 18:45:21 | Oleh: Aqrom | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 263 kali | Status Posting: Pending | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

<font Calibri 42 12 12>Apa kau lihat yang baru saja terjadi di hadapku. Tidak, kau tidak melihatnya. Karenanya biarkan aku yang menceritakannya padamu.

                Saat itu ma--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------sih pukul 9.30 pagi. Semuanya berawal disaat seorang lelaki disana memasuki kamarnya. Disusul oleh seorang wanita yang terpancing emosinya demi melihat sikap lelaki itu. Blaarr, pintu kamar itu dibanting sekeras-kerasnya. Kau akan bisa mendengar seberapa kasar dan kerasnya teriakan sepasang kekasih itu. Sumpah serapah dan caci-maki bertubi-tubi dilontarkan oleh keduanya. Mereka berusaha membela diri masing-masing. Sebisa mungkin saling beradu dalam melegalkan tindakan dan perbuatannya selama ini. Teriakan dan cacian teru----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------s saja terlontar tanpa ada yang mau mengalah agar persoalan bisa dibicarakan dengan tenang. Teriakan keduanya terdengar sampai keluar rumah. Entah tetangga merasa terganggu atau tidak dengan apa yang mereka berdua lakukan sampai disaat matahari mulai menggelincir tepat diatas kepala semua warga kota itu.

Teriakan sepasang kekasih itu menghancurkan semua harapan seorang bocah lelaki berusia 9 tahun yang baru saja pulang dari sekolahnya sambil membawa raport yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang juara di kelasnya. Bocah itu hanya berdiri di depan pintu rumah itu. Ia terkejut sejadi-jadinya demi mendengar kedua orang tuanya saling memaki di dalam kamar mereka yang kini hanya terpisah oleh ruang tamu dengan tempat ia berdiri. Bocah itu tak mengerti sama sekali apa yang memicu konflik yang terjadi di antara kedua orang tuanya.

Dia tidak membayangkan hari yang dipikirnya akan menjadi indah ini berakhir seperti ini. Tadi pagi tepat jam tujuh, ia bersama mama dan papanya sarapan bersama di ruang makan dalam keadaan yang sangat akrab dan begitu hangat. Lalu ia berpamitan pada mamanya untuk berangkat ke sekolah bersama papanya. Hari itu adalah hari pembagian raport. Dan seminggu yang lalu ia sudah memberitahukan hal ini kepada mama dan papanya sembari menyerahkan undangan kepada wali murid yang diberikan oleh pihak sekolah. Dan saat itu mama dan papanya telah berunding, lalu memutuskan agar sang mama lah yang akan mengambil raport sang bocah itu.

Dalam undangan itu tertulis bahwa acara pembagian raport dimulai pada pukul 10.00 untuk kelas tiga. Dan bocah itu sengaja berangkat sepagi mungkin agar dapat bermain-main dengan teman-temannya di sekolah sebelum acara itu dimulai. Namun setelah dua setengah jam berlalu, mamanya tak kunjung datang. Sedangkan setengah jam lagi pembagian raport untuk siswa kelas tiga akan dimulai.

Harapan anak itu sedikit terusik karena hingga lima menit menjelang acara dimulai, mamanya belum juga datang untuk mengambil raportnya. Dan akhirnya anak itu hanya pasrah berjongkok diluar ruang kelas tiga yang menjadi tempat pembagian raport itu. Ia hanya menatap kosong kepada para wali murid yang datang untuk mengambil raport anak mereka. Sedangkan ia sendiri tak tahu apakah mamanya akan datang untuk mengambil raportnya.

Dua minggu yang lalu hasil ujian akhir semester genap dikelas tiga ini sudah dibagikan semua. Dan anak itu merahasiakan hasil ujiannya pada mama dan papanya. Ia sudah tahu bahwa mama dan papanya pasti akan senang dan memberikannya hadiah karena ia yakin bahwa dialah yang akan menduduki peringkat pertama di kelasnya. Karena ia bukanlah anak yang bodoh, ia tahu nilai sepuluh yang dia dapat dalam semua mata pelajaran yang diujikan itu akan mengantarnya menjadi juara kelas. Seperti yang sering dikatakan papanya “Kalau semua nilainya bagus, pasti dapat juara di kelas.”. Walaupun ia mendapat satu angka tujuh dalam mata pelajaran olah raga, tapi ia sudah yakin dengan rata-rata nilainya, dialah juara kelas.

Satu persatu wali murid mulai menuju ke meja guru itu untuk mengambil raport anak mereka. Wali kelas kelas tiga itu memanggil nama siswa mulai dari peringkat terendah di kelas itu, baru kemudian dilanjutkan sampai peringkat tertinggi. Dan kini hanya tinggal lima orang wali murid yang terlihat cukup tegang dan penuh harap di dalam ruang kelas tiga itu. Lalu wali kelas itu mulai memanggil nama siswa yang menduduki peringkat enam. Dilanjutkan dengan siswa yang menduduki peringkat kelima, peringkat keempat , dan begitu seterusnya sampai wali murid yang anaknya menduduki peringkat kedua maju ke meja guru itu untuk mengambil raport anaknya dan segera pulang.

Wali kelas itu heran melihat mengapa wali murid dari siswa kesayangannya tidak ada pagi ini. Ia pasrah saja me-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------manggil nama bocah yang sedari tadi itu hanya berjongkok di luar ruang kelas itu. Dan demi mendengar namanya disebut oleh wali kelasnya, bocah itu langsung berdiri dan tersenyum riang walau sesaat saja. Lalu ia segera masuk ke kelas, dan berjalan dengan menunduk ke meja guru itu. Wali kelasnya hanya terdiam bingung melihat siswa kesayangannya itu. Anak itu segera mengambil raportnya dan tersenyum manis kepada ibu gurunya yang merangkap sebagai wali kelasnya itu.

Disaat wali kelas itu bertanya perihal mamanya yang katanya akan datang mengambil raport bocah itu. Bocah itu hanya menggaruk kepalanya sambil memandang tanpa harapan ke raportnya. Ia terus saja memandang raport itu tanpa mempedulikan pertanyaan wali kelasnya. Karena baginya seharusnya mamanya yang memegang raport ini dengan senyuman bangga padanya. Baru beberapa saat kemudian, bocah itu langsung meraih tangan wali kelasnya dan menciumnya dengan takjim. Lalu ia menatap wali kelasnya yang juga jadi ikut terdiam karena pertanyaannya tak dijawab.

“Mungkin mama nggak dapet ojek buat berangkat ke sini Bu”!” katanya dengan santai kepada wali kelasnya.

 “Oh, ya ya, sekarang mau pulang sama siapa ?” jawab sang wali kelas menimpali.

“Ntar naik ojek aja deh, uangnya ada kok Bu’.” Kata anak itu.-------------------------

Lalu ia mengucapkan salam pada gurunya dan segera berlari keluar dari ruang kelas tiga itu. Wali kelas itu hanya menatapnya dengan perasaan sedikit haru.

                Sesampai di gerbang sekolah, anak itu kembali menyapu jalan raya di depannya dengan matanya yang kini agak berkaca-kaca, berharap mamanya akan datang menjemputnya. Karena uangnya sudah tidak ada untuk naik ojek. Ia sudah membelanjakan semua uang sakunya hari ini, karena ia berpikir akan pulang bersama mamanya dengan naik ojek.

                Setelah beberapa menit melihat kiri dan kanan. Akhirnya anak itu memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki. Menyusuri trotoar jalan raya dari sekolahnya hingga rumahnya itu yang berjarak tak kurang dari lima kilometer. Tidak ada yang dipikirkannya selama perjalanan kerumahnya, kecuali mama dan papanya akan menyambutnya dengan hadiah yang diimpikannya saat ia tiba dirumah nanti. Ia benar-benar merasa telah menjadi anak hebat seperti yang sering dikatakan papanya “Juara Kelas”, apalagi baru kali ini ia berjalan kaki untuk pulang kerumahnya yang sejauh lima kilometer dari sekolahnya itu. Ia yakin papanya akan bangga padanya, dan mamanya akan memasak enak untuknya.

 

                Bocah itu masih berdiri di depan pintu rumahnya. Ia mengusap dahinya yang berkeringat karena capek setelah berjalan sejauh lima kilometer.  Semua badannya terlihat berlumur keringat. Ia masih terpaku di depan pintu itu. Entah berapa lama ia berdiri mematung disitu. Hingga seseorang dari dalam rumah memutar pegangan pintu. Dan saat itu bocah itu sadar bahwa pertengkaran kedua orang tuanya telah selesai.

                Namun belum sempat ia menikmati kelegaan karena tak ia dengar lagi caci-maki orang tuanya. Tiba-tiba saja seseorang yang membuka pintu dari dalam menghambur dengan langkah kasar keluar rumah. Lelaki itu menabrak sang bocah hingga raport yang ada di tangannya terlepas dari genggamannya. Dan bocah itu tersungkur beberapa meter dari arah pintu itu. Lalu bocah itu segera berdiri untuk melihat siapa yang menabraknya. Dan ternyata ia melihat papanya sudah keluar halaman rumah dengan mengendarai motornya. Ia bingung mengapa papanya begitu saja menabraknya dan pergi dengan entengnya meninggalkan rumah dengan wajah penuh amarah tanpa mau menyapanya sedikit pun.

___________________________________-

                Barulah setelah dua minggu dari kejadian dihari Sabtu saat anak itu menerima raportnya itu, ia belajar mengenal dan mengakrabkan diri dengan sebuah kosa kata baru dalam hidupnya. Yaitu perceraian. Ya, dua minggu setelah pembagian raport itu mama dan papanya resmi bercerai. Dan iapun tinggal bersama ibunya dirumah kakeknya yang kini membentangkan jarak hingga empat belas kilometer dengan sekolahnya.

                Dan semenjak saat itulah bocah itu belajar untuk melawan semua pahit getir kehidupan. Ia tak ingin lagi mengingat papanya yang begitu saja tak peduli dengan prestasinya di sekolah, padahal dulu papanya lah yang menjadi semangatnya untuk berprestasi di sekolah. Tapi kini papanya adalah satu-satunya kenangan pahit dalam hidupnya.

                Lalu hari-hari ia lewati dengan perasaan hampa karena melihat kesedihan yang cukup sering terpancar dari mata mamanya. Kesedihan yang ia lihat dimata sang mama lah yang membuat semangatnya untuk menjadi orang berprestasi di sekolahnya melejit setinggi-tingginya.

                Dengan sepeda butut yang diberikan kakeknya, ia terus berusaha meraih lembar demi lembar ilmu dari sekolahnya. Tak peduli jarak dua puluh delapan kilo yang harus ia tempuh untuk bolak-balik dari sekolah dan rumahnya. Ia tetap saja bertekad menjadi anak yang suatu hari nanti mampu membahagiakan mamanya, serta kakeknya yang kini mulai sakit-sakitan.

 

                Hari-hari sang bocah itu berlalu dengan penuh keikhlasan dan kerja keras. Kini ia sudah duduk di kelas tiga SMA. Ia tidak lagi memakai sepeda butut yang diberikan oleh almarhum kakeknya. Kini ia sudah mampu membeli sebuah motor bekas yang masih cukup bagus untuk digunakan. Sejak tiga tahun lalu, saat sang kakek meninggal dunia. Ia jadi benar-benar kehilangan sosok lelaki teladan dalam keluarganya. Dan sudah cukup lama ia tidak bertemu dengan papanya. Ia benar-benar tidak pernah lagi ingin menemui papanya. Ia tidak mau tahu sedikit pun tentang papanya. Terlebih disaat ia mulai bisa mengerti arti dari kata selingkuh, yang telah membuat papanya tega meninggalkan dia dan mamanya untuk menjalani hari-hari berdua.

                Bocah itu tumbuh menjadi pribadi yang matang dan mandiri. Semua itu karena mama dan kakeknya selalu menanamkan nilai-nilai agama kepadanya sejak orang tuanya bercerai dulu. Dan mamanya sering mengajarkannya bagaimana cara bersikap ikhlas dan menjadi seorang pekerja keras dalam hidup. Dan hasilnya kini ia sedikit banyak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dari gajinya. Gajinya ia peroleh sejak dua tahun lalu bekerja sebagai agen pengantar sebuah majalah remaja terkenal di negeri ini. Sejak itulah mamanya mulai percaya bahwa bocah yang dulu minta diambilkan raportnya itu kini sudah mampu untuk seutuhnya menjalani lika-liku kehidupan ini.

                Dan disaat-saat menentukan seperti ini, yaitu di saat semester genap di kelas tiga SMA. Ia mulai mengurangi jadwal kerjanya sebagai pengantar majalah untuk para langganannya. Ia meminta cuti selama tiga bulan untuk mempersiapkan ujian akhir dan tes masuk perguruan tinggi. Ia pun belajar dengan giat sambil tetap membagi waktunya untuk mengantarkan pesanan jahitan kepada pelanggan-pelanggan mamanya.

                Dan hasilnya ia lulus SMA dengan hasil yang sangat memuaskan. Sekaligus membanggakan dan membahagiakan mamanya, karena ia mendapat sewdikit beasiswa untuk menuntut ilmu dalam jenjang perguruan tinggi pada salah satu universitas terkemuka di negeri ini. Namun hal itu sedikit mengusik hatinya, karena itu berarti ia harus berpisah sementara dengan mamanya dan kota kelahirannya yang sangat dicintainya karena kedamaiannya itu.

                Dan keputusan telah diambil. Dia berjanji pada mamanya untuk secepatnya menyelesaikan kuliahnya. Walaupun sedih membayangkan mamanya akan sendiri tanpanya, tetapi ia bisa sedikit tenang karena mamanya sepenuhnya meridhoi kepergiannya untuk menuntut ilmu. Karena ia benar-benar yakin bahwa surga ada ditelapak kaki ibu, serta ridho dan murka Allah juga bergantung pada ridho dan murka orang tua.

                Namun beberapa minggu disaat menjelang keberangkatannya. Ia tiba-tiba merasa rindu pada papanya. Tapi sayang sudah hampir sepuluh tahun ia dan mamanya tak pernah mengetahui kabar papanya, apalagi tentang dimana papanya tinggal saat ini. Ia dan mamanya sama sekali tak tahu.

                                                                                                                                                                                               

                Hari-hari kuliahnya ia jalani dengan serius dan semangat, serta sambil bekerja sebagai penulis dalam beberapa kolom pada sebuah koran dan majalah remaja. Dan honor menulisnya itu ia gunakan untuk menambah uang saku dan pembayaran uang kuliah.

                Begitulah ia menjalaninya. Walau terkadang ia tak jarang patah semangat karena mendapat suatu masalah, namun ia segera bangkit demi mengingat janjinya pada mamanya untuk menjadi orang sukses dan membahagiakannya.

                Dan tak jarang pula ia teringat dengan kisah asmaranya disaat SMA dulu yang kandas karena fitnah temannya sendiri. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuk menolak fitnah yang dilancarkan oleh orang yang selama ini selalu ia bantu dan ia anggap sebagai teman setia. Ternyata temannya itu hanya berusaha menghisap manfaat darinya dan perlahan menusuknya dari belakang. Tapi pikiran itu hanya sesaat saja mendatanginya, karena untuk saat ini ia tak mempunyai banyak waktu untuk berkhayal tentang gadis manisnya ataupun fitnah yang menyakitkan itu. Lagi pula janjinya kepada mamanya adalah apa yang kini lebih penting baginya untuk ia wujudkan.

 

________________________________

                Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun-tahun itu pun berlalu dengan goresan kerja keras dan harapan-harapan untuk hari esok. Kini bocah itu sudah menyelesaikan kuliahnya. Ia resmi menyandang gelar Sarjana jurusan ilmu komunikasi di universitas itu. Dan ia mendapat pekerjaan sebagai editor sebuah majalah remaja bulanan yang sangat terkenal di negeri ini. Hidupnyapun perlahan semakin baik dan terus membaik. Sungguh Maha Adil Sang Pemilik Kehidupan ini. Di balik kesusahan selalu ada kemudahan. Dan dimana ada kemauan dan pengorbanan, disitulah akan kita temukan jalan dan kebahagiaan.

                Beberapa tahun kemudian ia membiayai mamanya untuk naik haji. Karena selain sebagai editor majalah remaja, ia juga memberanikan diri membuka sebuah toko buku dan usaha percetakan kecil-kecilan, yang alhamdulillah sudah memiliki beberapa cabang di luar kota.

                Dan disaat semua kebahagiannya dirasa sempurna. Disaat itulah Yang Maha Berkehendak memanggil sang mama. Dan ia merasa benar-benar kehilangan sosok yang dicintainya. Air mata tak akan pernah tertahan untuk tertumpah dalam keadaan seperti itu. Dan ia tak mau menyalahkan kehendek-Nya yang mengutus malaikat-Nya untuk menjemput sang mama. Dia hanya bisa berdo’a dan tidak ingin menjadi anak durhaka hanya karena tidak mengindahkan semua nasihat sang mama. Yaitu disaat sang mamanya selalu mengingatkannya bahwa sesudah pertemuan pasti akan ada perpisahan yang mengirinya.

 

Disaat hidupnya mulai merasa diselimuti sepi dan sepi. Disaat itulah ia mulai teringat akan semua hari-hari yang dilaluinya bersama sang mama. Disaat ia melihat mamanya menangis dalam sendu dihari perceraian itu. Disaat papanya mengusir mereka dan menjual rumah itu. Disaat mamanya bergadang hingga larut malam untuk menyelesaikan jahitan yang tertunda karena sibuk mencuci pakaian tetangga di pagi hari. Disaat mamanya tak pernah lagi absen untuk mengambil raportnya yang selalu membuatnya tersenyum itu. Disaat mamanya hanya tersenyum menanggapi gunjingan tetangga tentang status jandanya. Disaat ia terharu melihat sang mama berdo’a dalam tangis di penghujung malam untuk memohonkan kebaikan bagi kehidupannya. Disaat sang mama tak sengaja tertidur di atas sajadahnya setelah shalat malam yang panjang dan indah itu. Disaat sang mama tergopoh-gopoh berhutang kiri dan kanan untuk menambah uang agar ia dapat membeli buku sekolah. Dan disaat sang mama selalu berpesan agar ia memaafkan papanya, dan mengikhlaskan semuanya.

___________________________

 

                Disaat semua kenangan membaur menjadi satu. Disaat itulah ketukan di pintu itu membuyarkan semua lamunannya tentang kebaikan mamanya. Ia pun segera bangkit dan merapikan sajadahnya. Ia segera berjalan menuju pintu untuk menyambut siapa gerangan yang mengunjunginya selepas Isya’ di hari minggu malam seperti ini.

                Perlahan ia membuka pintu itu. Ia tergagap melihat apa yang berdiri dihadapannya saat itu. Lelaki setengah baya dengan kepala botak yang dihiasi uban di sekitarnya. Sungguh ia tak menyangka semua ini akan kembali menghampirinya. Tatapan mata yang sangat ia kenal itu, senyuman penuh penyesalan dan kata maaf itu. Sungguh ia sudah lama sekali tak berjumpa dengan papanya yang kini sudah tak setegap dulu itu. Dan sungguh sudah sangat lama ia menganggap papanya sebagai satu-satunya kenangan terpahit dalam hidupnya. Semua kenangan itu, semua duka di hari itu kini serasa berputar kembali dihadapnya pada malam itu. Pesan mamanya untuk memaafkan papanya begitu saja berbisik dalam dadanya. Begitu pula dengan amarahnya yang juga tak kalah dengan buncah rindunya kepada sang papa. Dendam itu mulai memercikkan bara api. Kebencian dan kerinduannya kini beradu dalam dadanya. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa. Dan untungnya setan di dalam dadanya kalah beradu dengan sedikit kebeningan hati yang selama ini berusaha ia pupuk dan pelihara bersama sang mama. Akhirnya ia memutuskan mencium tangan papanya, walau masih terasa ada yang mengganjal di hatinya. Dan ia segera memberi isyarat untuk mempersilahkan papanya untuk duduk, lalu ia kembali lagi ke kamarnya. Ia sama sekali tak mengucap sepatah katapun saat itu. Ia berusaha tenang dan segera mengambil air wudhu untuk melakukan shalat sunat dua rakaat untuk memohon ketenangan. Karena itulah yang selalu diajarkan sang mama untuk melawan godaan setan dan menenangkan hati yang membara.

                Setelah shalat dan berdo’a, ia menuju ruang tamu untuk menghampiri papanya.

“Aku sudah tak mau disesaki oleh amarah dan dendam pada papa. Aku tak ingin berbuat gila dalam membalas semuanya...” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Dan sang papa hanya duduk terharu mendengar kata-kata anak yang dulu sempat dilupakannya.

“Aku bukanlah bocah kecil yang tak mengerti semuanya, namun aku tak mau durhaka kepada mama. Aku sudah memaafkan papa sebagaimana mama telah mengikhlaskan semua kelakuan papa kepada kami. Aku akan belajar mengubur semuanya, dan aku akan belajar lagi untuk mencintai papa.” Begitulah kata-kata itu terucap. Dan sambil mengusap air mata yang mulai menetes dipipinya, pemuda itu perlahan berjalan mendekati papanya dan memeluknya dengan erat.

                Ia sadar bahwa hubungan anak dan orang tuanya tak akan dapat terhapuskan. Dan mengerti benar bahwa manusia tercipta dengan banyak kekurangan dan keterbatasan. Ia sadar bahwa sebenarnya mama dan papanya benar-benar mendapat tempat yang sangat besar dalam hatinya. Walaupun beberapa tahun lalu ia sempat sangat membenci papanya. Namun mamanya selalu melatihnya untuk memaafkan dan mengikhlaskan semuanya. Ia sadar akan semua ketulusan hati mamanya. Ia tak ingin mamanya kecewa jika  ia akhirnya tumbuh sebagai seorang pendendam.

_______________________

                Malam itu juga ia mendengarkan banyak cerita dari papanya. Ia baru mengetahui bahwa wanita yang dinikahi papanya itu sudah lama meninggalkan papanya untuk hidup dengan laki-laki lain, karena ia tak tahan hidup sederhana dengan papanya. Sungguh Engkau Maha Adil.

                Papanya sadar akan salahnya selama ini. Namun ia masih takut tidak mendapatkan maaf dari anak dan mantan istrinya yang dulu ia sakiti dengan menelantarkannya begitu saja untuk mengecap asmara buta dengan wanita lain yang terbukti tak kan pernah sebagus dan sebaik yang ia temukan dalam mantan istrinya.

                Pemuda itu sebenarnya tidak ingin membalas apapun kepada papanya, begitu pula dengan almarhummah mamanya yang sudah jauh-jauh hari merelakan kejadian itu. Namun sesungguhnya Allah tidaklah buta, Dia akan selalu menunjukkan kekuasaan dan keadilan-Nya, baik didunia maupun di akhirat kelak.

                Dan begitulah cerita ini berakhir. Disaat bocah kecil yang sudah tumbuh menjadi seorang pemuda itu kini mulai belajar untuk lebih mencintai dan menyayangi papanya. Ia sudah tak peduli dengan masa lalunya. Ia hanya ingin hidup bahagia bersama papanya yang sebenarnya tak mempunyai siapun lagi untuk berbagi di dunia ini selain dirinya. Ia ingin baktinya kepada mamanya selama ini juga akan berbuah bakti dan cinta pada papanya.

                Dan begitulah semuanya berakhir. Dan siapa aku ? Aku adalah bocah kecil umur sembilan tahun yang kini sudah menemukan kembali semua bahagia dalam hidupku. Alhamdulillah. Akulah pemuda yang diceritakan besar dan tumbuh bersama mamanya itu. Akulah pemuda beruntung yang diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengecap indahnya bahagia dalam kata maaf dan ikhlas, serta manisnya bahagia dalam berbakti dan membuang dendam yang sempat singgah di hati. Aku hanya berharap Allah berkenan memberikanku kenikmatan untuk reuni bersama mama dan papaku di akhirat nanti. Aku ingin bahagia hingga di alam nan abadi itu. Amiin.

                Sungguh aku masih ingat ayat yang sering dibacakan oleh mama sebelum tidurku di masa kecil dulu. Sungguh aku yakin dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an :

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka ( di dalam surga ), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” ( Q.S. Ath-Thuur : 21 )

 

Lampiran movie tidak tersedia.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :