AKU DAN ELYAS vs WAKTU

Diposting: Kamis, 04 Februari 2010 / 11:03:38 | Oleh: pharu | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 104 kali | Status Posting: Pending | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

AKU DAN ELYAS vs WAKTU
(Ketika Waktu Tak Dapat Terkejar)
Hidup ini emang terkadang gak sejalan dengan yang kita inginkan. Tapi kalau aku boleh ambil kesimpulan tentang hidupku ini. Dunia ini emang bener – bener gak adil dan gak sesuai dengan yang aku harapkan. Aku emang gak punya hak buat mengeluh ke siapa pun. Awal semester yang aku lalui dengan hasil akhir nilai IPK dibawah 3,00 mungkin bisa aku terima. Itu suatu hal yang masih bisa aku perjuangkan.
Semua kejadian ini runtut dan aku gak punya kesempatan hanya untuk sekedar merecovery dari setiap luka yang datang. Setelah ibuku yang sekarang terbaring koma setelah operasi kanker otak. Dua hari yang lalu ayahku mengalami kecelakaan sesaat setelah pulang dari kantor karena diserempet oleh pengendara sepeda motor yang gila. Dari perkiraanku pemuda itu masih SMA. Yang lebih mengenaskan lagi adalah ayahku terpaksa tidak dirawat di rumah sakit. Lagi – lagi keluarga kami tersandung masalah biaya. Ibuku yang sekarang koma di rumah sakit saja sudah menghabiskan dana jutaan. Itu pun kami harus pinjam sana – sini. Karena kecelakaan itu, tangan dan kaki ayahku patah. Ini berimbas pada ayahku akhirnya mengambil cuti kerja.
Dan……disinilah aku. Terasing di kota lain, menuntut ilmu demi kehidupan yang lebih baik. Demi memenuhi keinginan orang tuaku untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Tapi di mana – mana yang namanya sekolah itu hanya menghabiskan biaya. Aku hingga saat ini masih merasa bingung kenapa aku berada di sini di kota ini. In this fuckin’ Surabaya city??
Di saat keluargaku sedang didera musibah yang bertubi – tubi aku tidak bisa menemani mereka. Aku hanya anak tunggal dan setunggal – tunggalnya yang paling diharapkan untuk sukses oleh kedua orang tuaku untuk sedikit mengangkat derajat orang tuaku. Ayahku yang paling aku hormati karena wataknya yang keras itu bekerja di pemda bagian humas, pekerjaan ini gak jauh beda dengan pembantu umum. Gaji yang diterima hanya cukup untuk sekolah dan uang sakuku ke Surabaya. Sedang ibuku sendiri demi membantu kebutuhan keluarga, akhirnya ibuku bekerja di pasar di daerah Pare. Tapi tetap saja itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mencekik.
Sekarang ayahku dirawat oleh Budhe Ikhsan tetanggaku.
“Hahh,,,,gimana kalo’ putus kuliah aja yak?”….
Aku sedang melamun di kantin bersama dua sahabatku yang paling baik sedunia. Setidaknya untuk saat ini. Mereka berdua terkejut mendengar pernyataanku ini.
“Serius??!! Lha wong kamu tahu sendiri kalo’ sekolah itu udah susah…kog malah mau putus kuliah…to??”. Temanku yang bernama Icha ini menanggapi pernyataanku dengan logat Banyuwanginya yang khas.
“Tapi…kembali ke masalah hidupku yang aku rasa ini makin berat, aku rasanya udah gak kuat…mending aku sekarang balik pulang dan ngrawat ayah ibuku yang lagi sakit. Kami juga gak punya biaya buat ngobatin orang tuaku,,,untung masih ada Budhe Ikhsan yang mau bantu,,,”.
Selain hidupku di desa yang berat, hidup perkuliahanku di sini juga berat. Lantaran aku diterima di jurusan Fisika ini. Kalau bukan karena motivasi dari kedua orang tuaku mungkin aku sudah medhot dari dulu kuliah di sini.
Temanku yang bernama Ana, yang sedari tadi makan Nasi Pecel ikut memberikan komentarnya.
“Orangtuamu itu udah susah – susah cari biaya buat nguliahin kamu, kog kamu malah mau medhot kuliah. Opo gak kasian bapak ma ibu kamu tho,,,,”
Aku semakin merasa terombang – ambing setelah mendenagr pendapat dari kedua sahabatku ini. Gimana caranya aku dapat uang!!!! Aku hanya dapat menjerit dalam hati. Benar – benar gak tau apa yang harus aku lakukan.
Hari ini aku pulang kuliah dengan hutang keluarga yang harus aku tanggung. Jika sampai kos maka kepalaku akan semakin pusing karena ibu kos sudah menunggum uang bulan ini yang belum aku bayar. Akh....kenapa semua musibah ini harus menimpa keluarga aku....!! Mau gadai barang juga gak tau apa lagi yang bisa digadai. Bahkan dalam kamar kos – kosanku hanya ada baju dan perlengkapan kuliah, sama sekali gak ada barang berharga yan bisa di jual atau digadai. Hanya HP satu – satunya benda berharga yang kupegang, tapi ini kan media penghubungku dengan orang tuaku di desa.
Minggu – minggu ini aku akan terjebak dengan uas, jelas aku gak bakal punya waktu untuk sekedar cari kerja atau bahkan cari kerjaan. Hidupku memang serba gak jelas. Akhir – akhir ini aku jadi semakin sering menulis, dengan berbekal laptop pinjaman teman – teman kos, aku tetap menulis, apapun yang bisa aku tulis atau lebih tepatnya bisa kujual. Tapi sejauh ini baru penolakan yang aku terima. Sudah belasan bahkan puluhan tulisan mulai dari cerpen, cerbung bahkan novel pun sudah aku kirim, tapi hasilnya tetap nihil.
Dan sekarang aku sedang berkutat dengan cerpen ke – 59 yang rencana akan aku kirim besok pagi. Setelah cerpen ini selesai aku akan melanjutkan novelku yang ke – 13. Sungguh menarik jika melihat novelku kali ini adalah novel angka sial, semoga saja tidak mempengaruhi peruntungan kali ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1.05 pagi, tapi aku tetap berkutat dengan laptop di depanku. Cerpenku sudah selesai dan siap cetak alias print (yang tentunya akan kulakukan di kampus, karena di sana ada print gratis). Well...apapun akan aku lakukan asal bisa gratis. Hehehe...tapi gak ngasal lho ya...
Aku sudah menyelesaikan hampir keseluruhan bab dalam novelku. Novel yang aku beri judul ”Time Runner” ini mungkin novel yang paling berkesan dari novel – novel yang pernah aku buat sebelumnya. Time Runner,,,sebuah novel yang bercerita tentang seorang pria yang hanya punya waktu hidup gak lebih panjang dari 25 tahun karena mengidap HIV/AIDS. Seorang pria yang hanya memiliki waktu gak lebih dari 5 tahun untuk memperbaiki semua hal dalam hidupnya.
Hufff....aku sudah menatap layar laptop ini selama 30 menit dan aku belum tau apa yang ingin aku tulis selanjutnya. Hari sudah akan terang, aku seperti dikejar oleh waktu agar segera melunasi semua hutang yang aku miliki. Kepalaku seperti dicambuk berkali – kali, aku harus berlari dan berlari. Tapi aku tidak memiliki arah, aku pun tidak memiliki kompas sebagai penunjuk arah. Aku benar – benar buta.
Pagi ini aku akhiri dengan novel tak ber – ending. Aku tak tahu bagaimana akhirnya pemeran utama dalam novel yang aku buat dapat mewujudkan keinginan terakhirnya. Aku bahkan belum memikirkan apa keinginan terakhirnya. Hari – hari yang aku lalui semakin suram. UAS pertama dimulai hari ini, hari Senin (hari paling sial di antara yang paling sial). Lebih sialnya lagi, seminggu ini aku hanya menghabiskan waktuku dengan membuat cerpen, novel, dan membaca koran. Kegiatanku hanya berputar – putar dengan tiga hal itu. Bahkan semalam aku tidak tidur untuk menyelesaikan novelku yang hampir kelar, hanya ending yang hingga detik ini aku belum tahu bagaimana dan apa.
Ujian baru dimulai pukul 10.40, sekarang masih pukul 04.44 dan aku baru saja selesai sholat shubuh. Laptop milik mbak Lika masih menyala di meja belajarku. Kuputuskan untuk berhenti melanjutkan kisah Elyas dalam novelku. Setelah kututup laptop, kuambil handout kalkulusku (aku hari ini ujian kalkulus dan aku sama sekali belum menyentuh handoutku), kulihat ada rumus – rumus integral lipat yang semakin lama kubaca semakin mirip dengan cacing. Mataku jadi semakin jereng setelah hampir 12 jam kuhabiskan di depan laptop.
Senin ini jelas tidak bisa lebih mendung dari pada hari ini. Selepas sholat shubuh pagi tadi aku hanya mampu membaca handout 10 menit, kemudian aku gak tahu lagi, yang jelas aku tiba – tiba bangun dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 10.00, setelah puas merutuki betapa bodohnya diriku, aku tiba di kampus 10 menit setelah ujian dimulai. Dan ini yang membuat hatiku gelap segelap pantat panci. Aku sama sekali gak tahu ujian apa yang lagi aku jalani, bahkan baca soal saja aku gak sanggup. Aku hanya mampu diam, diam dan diam.
Setelah 30 menit hanya memandang soal aku memutuskan untuk menulis ulang soal di lembar jawaban dan kutinggal tidur. Kupikir aku sudah tertidur selama satu jam, ada seseorang yang memukul tanganku dengan pulpen.
”Ri...Ruri...ssst...Ruri!!!”
Seperti suara temanku Yusuf yang memanggil, aku membuka mataku dan kulihat dia melempat pulpen ke....
”Adaw!! Anjrit!!”
Aku seketika mendesis, hampir saja aku berteriak.
”Heh...makanya idup itu jangan dibikin tidur aja,,,nih!!”
Yusuf melempar gumpalan kertas ke arahku, kubuka, dan itu ternyata jawaban ujian no. 1 sampai no. 5. Aku hanya melongo.
”Rur!! Cepet dikerjain,,,,”
Yusuf mendesis sambil menunjuk jam dinding. Hahh...kurang 15 menit lagi!! Aku segera menulis jawaban dari Yusuf, sebelum itu aku memandangnya dengan tatapan melas yang kuartikan sebagai tanda terimakasih.
”Kurang 10 menit lagi....”
Dosenku sudah mulai berkoar – koar di depan kelas. Masih kurang dua nomor lagi. Ujian kali ini membutuhkan jawaban yang lumayan panjang. Hingga akhirnya waktu ujian habis aku sudah selesai menyalin semua jawaban, hah...thank God aku punya teman yang baik hati seperti Yusuf. Dari lubuk hati yang paling dalam aku mengucapkan terima ksaih padanya.
”Yusuf!!!!Makasih ya....kamu emang teman yang paling baik deh....”
Serta merta aku mengucapkan terimakasih pada Yusuf. Inilah yang aku sebut dengan dunia masih berpihak padaku, bahwa hidupku memang belum benar – benar jatuh, there’s just a little thing that support. Although I know, IP is not a simple deal.
”Inget ya...aku ngelakuin ini tu gak gratis tau....habisnya kasian banget...tadi kek mau mati gara – gara kalkulus...emangnya napa siy kamu gak belajar ya?”
Ya iyalah aku gak belajar, jelas and definetly itu. Ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar belajar buat UAS. Tapi aku hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan itu.
”Gak...aku emang gak belajar...ngapain aku kan udah tahu kamu bakal kasi aku contekan...hehee...”
Aku dan Yusuf memang satu kelompok praktikum bersama Mela. Kami bertiga memang selalu saling membantu dalam segala hal.
”Ruri!! Ya ampun...gak sopan banget siy tadi tidur pas ujian..gila...tapi tadi malah dapet contekan....Yusuf jahat...aku gak dikasi contekan..”
Suara nyaring Mela memenuhi jalan di depan ruang ujian. Hahh...sampai kapan pun suara ini gak pernah berubah. Uppss...udah jam setengah satu...waktunya cabut ne...
”Heh...biasa ja kali..tadi lho tempat dudukmu jauh banget...mana bisa kasi contekan...nah Ruri kan duduk di sebelah aku...gampang...”. Kata si Yusuf yang disambut manyun sama Mela.
”Euhmm....guys aku dulu....”
Sebenranya siy mau pamit, tapi tiba – tiba ada suara yang paling gak pengen aku denger hari ini yang memnaggilku.
”Rur...inget, berita buat buletin paling lambat besok udah masuk di emailku. Aku gak mau buletin kita telat gara – gara kamu...”
Akh...Randis sialan. Iya iya aku inget!!
”Eh...Randis...tenang ja tar malem tak kirim (aku kirim) beritanya....”
Randis adalah Ketua Divisi Buletin Lembaga Pers Mahasiswa di Fakultas ini. Orang yang disiplin dan gak suka telat yang lebih parah lagi, dia itu super bawel. Nambah lagi deh kerjaan tar malem.
”Guys aku cabut dulu ya...mau ke rumah sakit ne...biasa”
Ada banyak suara yang gak pengen aku dengar hari ini, yang pertama adalah Randis dan yang kedua adalah....
”Ruri!! Gimana acara pemabanya? Udah fix?”
Hadohh....sial banget, tadi ketemu ma Randis, sekarang ketemu ma Abhi dan Ridho. Abhi adalah ketua panitia Ospek dan Ridho adalah Koordinator Lapangan acara ospek. Dan aku adalah penanggung jawab acara penerimaan mahasiswa baru tahun ini. Seminggu ini aku sama sekali gak ngurusi ospek karena berbagai masalah yang membelit.
”Ruri, gimana ada sesuatu yang perlu dibahas gak?”. Ridho hampir tiap hari selalu tanya kek gitu dan jawabanku selalu sama.
”Umm...belum tenang aja....kalau ada yang perlu dibahas aku bakal hubungin kamu...”
”Inget Rur...acara ospeknya tinggal dua bulan lagi...jangan sampe tar kita kelabakan ngurusinya gara – gara gak ada persiapan....bla...bla....bla...”
Aku bener – bener lagi gak pengen denger kuliah tentang ospek sekarang. Udah lima menit Abhi ceramah tentang ospek.
”Jadi, saat nanti MABA udah masuk...gak ada lagi kejadian – kejadian gak penting yang menghambat jalannya acara...”
”Iya...iya...aku ngerti. Sekarang aku cabut dulu ya...bye!!!”
Secepat kilat aku berlari menjauh dari mereka berdua. Masih kudengar suara mereka memanggilku tapi sebodo amat. Aku punya banyak urusan yang harus aku selesaikan hari ini. Hari ini memang bukan waktunya aku jaga di rumah sakit, aku memang tidak setiap hari menjaga ibuku, terkadang ibuku dijaga oleh suster di sini, hari ini pun begitu. Hanya saja hari ini waktunya check up. Jadi aku ingin tahu sejauh mana perkembangan kondisi ibuku.
”Assalamu’alaikum....”
Aku masuk dalam kamar tempat ibuku dirawat. Tidak ada yang berubah. Ibuku juga tetap terbaring takk berdaya di tempat tidur. Aku duduk di sisi ibuku. Kubuka buku sihirku alias Alquranku dan mulai mengaji di sebelah ibuku. Kata orang – orang siy ini bagus buat ibuku, katanya orang koma itu sebenarnya masih bisa mendengar ucapan kita, hanya saja dia tidak berdaya. Entah sekarang ibuku ada di dunia apa dan apa yang sedang dilakukannya. Aku masih tetap mengaji di sebelahnya saat dokter masuk ke ruangan kami. Dia mulai mengecek ibuku, detak jantungnya tekanan darahnya, dia juga berkali – kali melihat jam di tangannya. Kemudian aku mengantar dokter itu kelur ruangan setelah memeriksa ibuku. Dokter itu hanya menggeleng kepala dan mengatakan hal yang sama kepadaku seperti sebelumnya.
”Hingga saat ini ibu kamu sama sekali tidak memberikan respon, teruslah berusaha mungkin Dia akan mendengar doamu dan mengembalikan ibumu seperti dulu.”
Ibu...dimanapun dirimu sekarang kembalilah dan bangunlah. Lagi – lagi aku menangis, aku tidak sanggup menanggung beban ini sendiri. Tapi aku punya keyakinan, ibuku pasti akan terbangun kembali dari koma. Dan keluarga kami kembali utuh seperti dulu. Aku kembali duduk di sisi ibuku.
”Ibu,,,bagaimana kabar ibu hari ini? Hari ini aku ada UAS, karena aku tidak belajar aku sama sekali gak bisa ngerjain soal daro dosenku, tapi untungnya ada Yususf yang kasi contekan, jadi aku bisa ngerjin deh....oh ya ibu sekarang sedang musim buah mangga lho...ibu suka banget sama buah mangga kan..........”
Aku yakin ibu masih bisa mendengarku.
*****
Aku masih hidup!!
Elyas menyentuh kedua pipi dan memandangi kedua tangannya, berharap ini bukanlah mimpi. Dia memegang kepalanya dengan meringis, masih terasa sakit. Dalam hati dia bertanya – tanya hari apakah sekarang, sudah berapa lamakah dia tidak sadarkan diri. Elyas memandang sekelilingnya, bau khas rumah sakit menusuk hidungnya. Akh...sejak dulu dia memang tak pernah suka dengan rumah sakit. Dia memandang kalender yang bertengger di dinding, di situ tertulis bulan Agustus 2009. Ada perasaan aneh yang dia rasakan.
Berapa lama aku tidak sadarkan diri?? Pertanyaan itu sangat mengganggunya, entah mengapa dia sangat ingin tahu. Seseorang membuka pintu kamar yang dia tempati.
Oh...dokter, mungkin ini sudah waktunya pemeriksaan. Hanya itu yang terlintas di kepalanya. Mungkin dia juga bisa menanyakan berapa lama dia pingsan. Pemeriksaan itu berlangsung singkat. Bahkan dokter pun tidak banyak bicara pada Elyas. Dia hanya berkata bahwa Elyas tidak sadarkan diri hampir selama 1 bulan.
Elyas merasa linglung. Hidupnya begitu gemerlap sebelum dia akhirnya dirawat di rumah sakit. Pergaulan bebas, pesta seks, minuman keras, dan narkoba pernah dijamahnya. Bahkan dugem tidak pernah dilewatkannya. Sebelum tidak sadarkan diri, Elyas dan teman – temannya masih melakukan pesta narkoba setelah dugem di salah satu club malam di Jakarta.
Mungkin aku overdosis. Pikirnya. Pikirannya mengambang entah ke mana. Pandangannya nanar ke arah jendela yang ada di sampingnya. Ada sebuah perasaan aneh yang daritadi mengganggunya.
Seperti perasaan mau mati.
......................................................................................................................................................
Aku berhenti pada titik itu. Heahh...ternyata tidak segampang yang aku pikirkan. Aku masih berada di depan layar laptop. Sepulang menjenguk ibuku di rumah sakit, aku langsung menghadap laptop teman kosku yang dari kemarin memang aku pinjam.
Apa yang ingin aku lakukan terhadap Elyas???? Kuputuskan untuk istirahat sejenak. Kupanaskan air untuk membuat kopi, mungkin bisa sedikit mengurangi kesuntukanku. Ibuku sama sekali tidak memberikan perkembangan yang berarti. Ayahku tadi mengirimiku SMS dengan HP milik budhe Ikhsan yang berisi :
”Bapak sudah sembuh, tapi bapak belum bisa kirim uang. Mungkin bulan depan, bapak mau coba jualan kembang, buat nambah biaya pengobatan ibu kamu. Kamu usaha dulu di sana.”
Aku tahu bapak belum sepenuhnya sembuh, tapi bapak sangat keras kepala sehingga memaksakan dirinya kembali bekerja. Aku kembali menghela napas, kuhirup aroma kopi yang aku buat dalam – dalam. Maafkan anakmu ini Pak, belum bisa jadi anak yang bisa diandalkan, hutangku di sini sudah tersebar ke mana – mana. Hanya tangan dan otakku yang aku andalkan utnuk tetap membuat cerpen serta novel. Selebihnya aku tak tahu harus melakukan apa lagi, selain tetap menjadi warga yang terpuji di dunia dan akhirat.
*****
Sudah dua bulan berlalu, sejak aku mengirim naskah cerpen dan novel. Bapak tetap belum bisa mengirim uang untukku, tapi untungnya hasil jualan kembang Bapak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Aku masih memegang amplop yang kubuka 15 menit yang lalu. Berisi surat pemberitahuan bahwa novelku yang berjudul ”Time Runner” akan segera diterbitkan. Aku tidak tahu harus sedih atau bahagia. Hari ini tepat satu bulan ibuku yg tersayang meninggal dunia. Andaikan saja ibuku masih punya waktu satu bulan lagi. Mungkin ibu bisa membaca namaku tertulis di depan cover sebuah novel. Bahwa aku berhasil menjadi novelis, ibuku tidak pernah mendukung impianku ini.
Kupandangi langit hari ini, dan masih bertanya – tanya, adilkah semua yang aku dapatkan ini?
*****
Aku tidak menyangka aku akan mati muda. Elyas berdiri di sebuah jembatan tua dan memandang air sungai yang keruh. Sekeruh hati dan pikirannya saat ini. Tapi air itu tidak sekeruh dosa yang dia lakukan dulu. Sebelum dia tahu bahwa dia mengidap HIV/AIDS, suatu jenis penyakit yang sangat tidak diharapkan dia dapatkan dalam hidupnya.
Aku bahkan tidak bisa berumur lebih panjang dari 25 tahun. Semakin lama Elyas memandang air sungai itu, kemarahannya semakin memuncak.
”Aaaarrrgggghhhh.............!!!!!!!”
Dia kerahkan semua tenaganya untuk berteriak, sekencang – kencangnya.
”Brengsek!! Kenapa siy Loe gak pernah bikin hidup gua seneng!! Sialan!! Tai loe!! Loe pikir Loe yang mengatur segalanya!! Taiiii!!! Anjrit!!”
Elyas tidak peduli orang - orang memnadanginya dan mengiranya gila. Dia berteriak sambil meninju tangannya ke atas, dan menunjuk – nunjuk ke langit. Sudah sejak 6 bulan Elyas tahu dirinya mengidap penyakit mematikan itu, tapi dia belum bisa menerima bahwa dirinya akan mati dalam waktu kurang dari 5 tahun lagi. Setiap hari dia selalu mendatangi jembatan itu, kemudian berteriak – teriak sambil meninju – ninju ke udara. Orang – orang sudah menganggap dia gila, tapi Elyas seolah tak peduli, dia hanya ingin melampiaskan kemarahannya.
”Aaaargghhh........!!!!”
Dia kembali berteriak dan menggoyang – goyangkan jembatan, tak peduli bahwa tali jembatan bisa putus.
*****
Di 40 hari kematian ibuku, aku dan Bapak memutuskan untuk tidak menggelar tahlilan. Kami berdua pergi nyekar ke makam ibu, dan menghabiskan beberapa jam di sana. Ada banyak hal yang ingin aku tunjukka ke ibuku. Bahwa sekarang keluarga kami bisa tenang karena hutang keluargaku sudah berhasil kami lunasi berkat royalty yang aku terima dan juga dari hasil ayahku jualan kembang, yeahh...di samping pekerjaan wajibnya sebagai pegawai negeri. Bahwa penerbit novelku menyukai tulisanku dan mengontrakku untuk beberapa novel untuk waktu yang tidak terbatas. Ibuku begitu lama terlelap, hingga pada akhirnya benar – benar gak pernah bangun lagi. Aku tidak menyesal dengan prestasiku ini, hanya sedikit kecewa, karena aku tidak punya waktu untuk menunjukkannya pada ibuku. Hanya sedikit kecewa karena aku sedikit terlambat.
*****
Elyas berjalan tak tentu arah, berkali – kali dia hampir ditabrak kendaraan bermotor. Berbagai sumpah serapah dilontarkan padanya. Tapi dia tidak menghiraukan itu. Dia berjalan dengan linglung. Menyusuri jalan – jalan di kota jakarta.
Gelap mulai merayap di kota Jalarta dan suasana yang semakin gelap menjadi gemerlap karena kota ini seperti kota yang tak pernah mati.
Elyas berhenti di sebuah perempatan, matanya memandang kosong pada mobil yang terbalik di depan, Elyas menduga baru saja terjadi kecelakaan di jalan ini. Dia mengamati orang – orang dalam mobil itu yang diselamatkan, tapi tak seorang pun yang masih bertahan hidup. Tiba – tiba terlintas dalam pikiran Elyas, bagaimana jika ternyata aku tidak mati 5 tahun lagi tapi hari ini atau besok. Wajah ibunya berkelebat – kelebat dalam benaknya. Seorang ibu yang selama lebih dari setahun ini tak pernah disambanginya, bahkan untuk sekedar mencium tangannya pun dia tak pernah. Lalu pikirannya beralih ke ayahnya yang 2 tahun lalu meninggal dan dia sama sekali tidak pulang untuk sekedar menjenguk atau nyekar ke makam ayahnya. Kemudian adik perempuannya Alyas yang sekarang mungkin sudah kelas 3 SMA. Elyas berlari seperti orang ketakutan. Wajahnya pucat dan dia berteriak seperti orang gila.
Tanpa dia sadari langkahnya terhenti di depan sebuah masjid. Entah apa yang membuatnya berlari ke tempat yang selama bertahun – tahun ini tidak terjamah olehnya. Ada sebuah dorongan halus yang membuat dia terus berjalan memasuki halaman masjid itu. Kakinya hanya beberapa sentimeter menuju teras masjid. Elyas seperti mematung. Dia mendengar suara adzan berkumandang, ada sesuatu bergetar dalam hatinya. Kaki kanannya seolah terangkat dengan sendirinya, saat telapak kakinya menyentuh lantai masjid. Dia merasa seperti ada sesuatu yang besar memeluknya. Dan membawanya untuk masuk ke dalam. Dia merasakan hidupnya sangat tenang dan nyaman. Suara hingar – bingar kota jakarta yang memanggilnya seolah tidak terdengar sama sekali. Elyas membiarkan perasaan ini membawanya. Membawanya kembali menjadi manusia seutuhnya. (pharu)
*****
Nama : Fatimatuzzahroh
 Alamat : Parimono Selatan V/52 Jombang, Jawa Timur 61451
 No. Telp : 085655453304
 E – mail : aoi.pharu@yahoo.com
 No. Rek : Bank BRI 3648 – 01 – 003937 – 53 – 0

Lampiran movie tidak tersedia.

Iklan

resensi_back.jpg

iklan-arrina.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :