Akhwat Minyak Telon

Diposting: Rabu, 24 Februari 2010 / 13:13:58 | Oleh: raifa amun | Kategori: Cerpen

Halaman ini diakses sebanyak: 114 kali | Status Posting: Pending | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Cerpen

AKHWAT MINYAK TELON

Oleh: Rif’atul Muna

 

Angkutan umum yang membawaku semakin padat isi perutnya. Aku duduk terjepit di antara seorang ibu berbadan besar, tinggi dan seorang nenek kurus.  Di sisi kananku, kedua tangan ibu itu melingkar perhiasan yang saling bergesekan satu sama lain. Memenuhi pergelangan tangan hingga siku kanan kirinya.  Sesekali menimbulkan bunyi serupa genjring apabila si ibu menggerakkan tangannya. Kulit tangannya yang putih bersih nyaris tidak terlihat karena begitu rapatnya gelang-gelang emas itu melingkari tangannya yang berisi. Parfumnya menyengat hidungku. Kepalaku terasa berputar-putar. Perpaduan aroma parfum dengan keringat para kuli panggul yang hendak pulang itu menusuk hidung. Aku hampir tak bisa bernafas. Kuli-kuli itu berjejalan memenuhi mulut angkot. Berdiri bergelantungan pada pintu masuk karena tak ada sela kosong untuk diduduki.  Satu-satunya harapanku adalah jendela kaca yang ada di belakang ibu setengah umur itu. Kacanya tertutup rapat. Aku berusaha menggeser kacanya namun susahnya minta ampun. Macet. Mungkin tidak pernah dibuka. Aku baru mau minta tolong si ibu di sebelah kananku itu saat kondektur menegurku.

 

“Jangan kau geser-geser kacanya, nanti rusak dan pecah. Apa kau bisa menggantinya anak kecil.” Ketus kondektur yang kuterka berumur seperempat abad itu. Sebelum mata kami sempat beradu si kernet buru-buru mengailkan sebuah topi ke kepalanya. Membuang muka.

 

“Anak kecil. Huh! Apa nggak salah tuh.” Gumamku. Dengan reflek tanganku melepas kaca bertirai debu itu.  Dalam hati aku berusaha menelan semua makian kondektur. Aku memang paling tidak suka dipanggil anak kecil. Perlu aku tekankan di sini. Umurku sekarang dua puluh tahun dua bulan dua puluh hari. Postur tubuhku juga standar dengan teman-teman seumuranku. Mungkinkah hanya karena aku kini memakai parfum......ahhh!

Di depanku empat anak SMA, tiga laki-laki dan satu perempuan bisik-bisik melihatku.

 

“Eh ada adik bayi nih bau minyak telon... duh imutnya.” Celetuk salah satu dari mereka yang laki-laki. Aku berusaha tabah mendengarnya.

 

 “Sabar, sabar, Niya!” Bisik hatiku.

 

Mungkin aku tidak merasa sepayah ini jika saja aku berada di dalam Crown Majesta-nya Papa. Mobil mewah yang dipakai oleh para menteri kabinet Indonesia bersatu jilid II itu hanya dipasarkan di Jepang. Harganya sekitar  700 juta rupiah, bila dibawa ke Indonesia harganya bisa berlipat hingga di atas 1 miliaran. Sebab, produsen tidak menanggung ongkos kirim dan pajak. Meski megap-megap aku berusaha setenang mungkin. Mungkin keadaanku yang sekarang lebih mendingan dibanding dengan kondisi seorang nenek kurus berkerudung yang terduduk lemas tepat di sebelah kiriku. Nenek yang kutaksir usianya mencapai tujuh puluh lebih itu mabuk darat. Kasihan. Mukanya pucat sekali. Kulihat isi tas tanganku. Kusodori nenek tersebut dengan sebungkus tissue dan air minum. Tidak lupa minyak telon. Salah satu barang yang tidak pernah absen di tasku selain dompet.  Pada waktu yang sama, sang kernet meminta uang pada para penumpang. Aku mencomot selembar uang lima ribuan. Ruangan di dalam angkot begitu sesak. Uang yang akan kuserahkan pada kondektur itu terjatuh. Tersenggol oleh tangan yang penuh dengan perhiasan di sisi kananku. Si ibu itu hendak memberikan uangnya juga. Dengan susah payah aku berhasil memungutnya kembali. Walaupun tanpa sadar dompetku masih terbuka. Lalu sesuatu terjatuh dari sakunya. Kuulurkan uangku pada kondektur itu. Sekilas aku merasa tidak asing dengannya. Namun, siapakah gerangan. Memori otakku tak mampu mengingatnya. Si kernet buru-buru melengos. Astaghfirullah. Aku langsung menundukkan wajah.

~~~

Malam yang basah. Langit hitam tak bertabur gemintang. Atap bumi itu tak henti-hentinya mencurahkan berjuta baris gerimis ke bumi. Bak jarum-jarum panjang menusuk-nusuk perut bumi. Mengguyur tubuh kami berdua yang dikejar-kejar dua pemuda bertato hingga kuyup. Aku dan teman SMA-ku, Sarah. Seorang gadis berjilbab, cantik, berkulit putih, dengan tubuh tinggi semampai. Kami sama-sama penggila parfum mahal nan terkenal. Pemuja botol-botol luks itu. Biang sebuah malapetaka besar yang membuat hubungan persahabatan kami hancur. Masih terekam jelas dalam benakku malam jahanam itu. Saat itu kami baru saja usai belajar bersama di rumah Sarah. Kedua orangtua Sarah sedang tidak di rumah. Sarah anak tunggal sepertiku. Pembantunya juga sedang pulang kampung. Semula aku berniat menginap di rumah Sarah untuk menemaninya. Namun, tiba-tiba aku dikejutkan dengan telepon dari Mama yang mengabarkan bahwa Papa kecelakaan. Kendati tengah malam, aku nekad menuju rumah sakit ditemani Sarah yang ngotot sekali ingin ikut. Sopir Sarah ada, tapi mobilnya  lagi di bengkel. Kami terpaksa naik taksi. Di tengah jalan yang lengang tiba-tiba taksi mogok.  Kami terpaksa turun. Malangnya kami turun di tempat yang sepi. Tidak ada taksi atau tumpangan lain buat kami. Sialnya lagi, handphone-ku ketinggalan di rumah Sarah. Kami terburu-buru. Demikian juga Sarah. Saking paniknya kami sama-sama lupa. Tapi anehnya Sarah tidak pernah lupa dengan botol apelnya itu. Benar saja, masih sempat-sempatnya ia memercikkan botol itu ke tubuhnya. Aku tak habis pikir. Akhirnya kami berjalan mencari-cari tumpangan. Baru beberapa langkah, kami merasa ada derap kaki yang mengikuti jalan kami. Saat kami menoleh ke belakang, kami tidak melihat siapa-siapa. Kami bergidik. Kami setengah berlari. Sekonyong-konyong kami dihadang oleh dua pemuda bertato di lengan kanan-kirinya. Kami mencoba berbalik arah, ternyata telah berdiri tiga orang pemuda yang juga siap menangkap kami. Kami dikepung oleh lima pemuda yang sama sekali tidak kami kenal. Langkah tiga pemuda di belakang kami agak sempoyongan. Diterangi oleh lampu jalan aku berusaha melihat sosok mereka. Mata mereka melotot mengerikan. Hidung mereka mengendus-endus. Mulut mereka ternganga seakan ingin melahap kami. Kami ketakutan. Mata mereka memandang kami dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Waktu itu aku belum berjilbab. Dalam hati aku berdoa mohon perlindungan kepada Allah. Kami sama sekali tak berkutik.

Dua pemuda dari arah yang berlawanan masih menutup jalan kami. Sedangkan salah seorang pemuda yang agak mabuk itu maju ke arah kami. Tinggal dua langkah lagi ia akan menjangkau kami. Tiba-tiba ia ambruk ke aspal. Pingsan. Aku bersyukur dalam hati.  Kedua pemuda sempoyongan itu hampir menyentuh tubuh kami. Mendadak dua pemuda bertato itu masing-masing berusaha mencengkeram tubuh kedua pemuda tak berdaya itu kemudian terlibat pergumulan hebat. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kami berlari secepat mungkin. Menerobos gerimis yang turun. Aku berlari mendahului Sarah. Sarah di belakangku berusaha  menjajariku. Namun sesuatu terjatuh dari tasnya. Sebuah botol apel. Botol itu bergelindingan di belakangnya. Aku berteriak mengingatkan Sarah agar terus berlari karena kedua pemuda itu masih mengejar kami. Namun ia bersikeras untuk mengambil botol itu. Dengan berat hati aku terpaksa terus berlari meninggalkannya. Mencari bantuan atau lapor polisi. Tekadku.

 Menjelang pagi polisi berhasil meringkus satu pemuda bertato dan tiga pemuda yang mabuk. Seorang lagi melarikan diri. Tidak hanya merampas barang berharga Sarah. Mereka juga mengaku telah merenggut kehormatan Sarah dengan dalih terbius parfum Sarah yang begitu memabukkan. Sarah syok berat dan depresi. Ia tidak mau bertemu dan berbicara dengan siapapun. Orangtuanya memintaku agar tidak menemuinya lagi.

~~~

Mulai detik ini aku harus merelakan Boss In Motion-nya Hugo Boss, yang terhirup dari kehijauan daun, jeruk bergamot, rempah dari pala dan kapulaga serta aroma akar wangi yang sangat kusukai. So energizing! Sebenarnya ini parfum khusus laki-laki. Parfum maskulin yang kuketahui banyak dipakai oleh smokers. Entah mengapa. Mungkin untuk menyembunyikan aroma tembakau yang begitu menyengat. Selanjutnya, Ralph Laurent Blue, Happy Heart Clinique dengan nuansa feminin, romantis dan klasiknya. Ada juga Nina Ricci Apple parfum kesukaan Sarah dengan botol apelnya yang menggiurkan. Deseo-nya J-Lo alias Jennifer Lopez yang menyuguhkan aroma yang lebih fresh dari grapefruit dan citrus. Selain itu, wangi bunga-bungaan dan unsur kayu juga kental terasa. Viva La Juice, Chance Chanel, Dior Pure Poison. Body Musk The Body Shop, Win Flower,  Bvlgari Rose Essentielle, Hilary Duff Parfume, Escada Moon Sparkle, Dior Cherie, Miracle Lancome  dan berbagai merk parfum  terkenal lainnya meringkuk di tempat sampah. Sebagian parfum-parfum itu dulu kupakai namun sebagian besar aku koleksi. Parfum dengan harga ratusan ribu rupiah itu dulu memang seringkali kupuja-puja, kubanggakan, kini sama sekali tidak ada artinya di hadapanku. Aku memutuskan untuk memakai minyak telon untuk parfumku. Tidak salah lagi. Minyak telon. Aku benar-benar akan menukar parfum yang harganya selangit itu dengan minyak telon yang sering dipakai bayi. Kedengarannya gila memang. Namun itulah keputusanku. Bismillah.

“Haniya, apa-apaan ini. Kenapa bau badanmu jadi bau minyak telon begini Niya?” Komentar Mama dengan hidung kembang kempis menciumi gamis dan jilbab yang kukenakan. Semuanya bau minyak telon. Aku terdiam mendengar teriakan Mama.

 “Kamu masuk angin, Niya? Perutmu mules, atau kembung? Niya, ayo jawab. Jangan bikin Mama panik. Atau kita ke rumah sakit aja? ” celetuk Mama ketakutan.

 

“Niya bisa jelasin semuanya, Ma.” Imbuhku. “Mm... kemarin di pengajian, Niya mendengar taushiyah Ustadah ‘Aini. Ternyata perempuan itu tidak dianjurkan memakai wewangian yang harumnya menjelajahi segala ruang. Terlebih saat keluar rumah. Apalagi jika sampai tercium oleh lawan jenis. Sehingga yang demikian itu akan menjadikan laki-laki tergoda kepadanya karena umpan wewangian yang menghampirinya. Boleh memakai wewangian asalkan tidak dengan niat supaya tercium oleh lelaki ataupun semua yang dianggap bukan muhrimnya yang lewat di depan perempuan itu. Bahkan muhrimnya sendiri pun yang apabila mencium wewangian perempuan itu lalu menimbulkan syahwat bagi si muhrim, perempuan itu tidak dianjurkan untuk memakai wangi-wangian. Kecuali di hadapan suami perempuan itu sendiri.” Mama terlihat mendengarkan uraianku dengan serius. Kedua alisnya terangkat ke atas. Seperti berpikir keras. Aku menghela nafas sebelum melanjutkan. “Fenomena ini jamak ditemui di mana-mana. Dengan sengaja dan bangganya para wanita berjalan di antara para lelaki agar mereka mencium semerbak harum percikan maupun semprotan parfum-parfum memabukkan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Dari ujung rambut hingga kaki. Percikan-percikan  iblis yang melahirkan berahi dan syahwat. Benih-benih yang menelurkan  perzinaan. Na’udzubillah min dzalik. Niya sadar selama ini Niya telah salah.”

 

“Intinya, Niya tidak ingin menjadi umpan dalam segala bentuk kemaksiatan yang dibenci Allah itu. Niya tidak ingin terjerumus dan menjerumuskan orang. Makanya Niya sengaja memutuskan untuk tidak memakai wewangian yang aromanya mampu menjerumuskan orang lain dalam perbuatan keji. Niya hanya ingin lebih berhati-hati saja Ma. Niya selalu  ingat kejadian Sarah.” Paparku panjang lebar.

 

“Apa tidak salah Niya? Kenapa harus pakai minyak telon?” protes Mama.


”Niya rasa minyak telon adalah solusi terbaik, pilihan terbijak yang Niya temui. Tidak lucu kan kalau Niya harus memakai balsem atau sejenisnya. Mama tidak keberatan kan?”

 

 “Kalau itu memang sebuah kebenaran yang kamu yakini, Mama sama sekali tidak keberatan. Tapi apa kamu sudah benar-benar siap dengan konsekuensinya. Apa tidak dipikir-pikir lagi Niya?” lirih suara Mama.

 

“Insya Allah Ma, Niya yakin dan bahagia dengan keputusan Niya.” Jawabku mantap diikuti lengkingan klakson mobil papa. Saatnya kembali ke asrama. Libur semester telah berlalu.

~~~

Perkiraan Mama tepat. Aku memang jadi bulan-bulanan orang. Aku jadi pusat perhatian sekarang. Perempuan, laki-laki, tua, muda, kondektur, penumpang angkot, semua orang yang pernah bertemu denganku melihat dengan tatapan aneh. Di kampus, kantin, perpustakaan, pasar, mal, halte, bus, angkot, asrama dan masih banyak lagi. Teman-teman juga banyak yang mulai menjauhiku. Katanya mereka malu berteman dengan “adik bayi”, begitulah julukan namaku sekarang. Malah ada yang sampai nekad menjawil pipiku gemas. Tapi tunggu, jangan salah tafsir dulu. Yang mencolek itu temen-temen akhwat. Tapi aku tidak ingin berkecil hati. Setidaknya mereka mendukungku. Menyokongku agar tetap teguh dan istiqamah. Mereka adalah teman-teman sepengajian.

 

“Ukhti, akhwat minyak telon itu harus tetap semangat.” Seloroh mereka memanggilku dengan sebutan akhwat minyak telon. Aku jadi tergelitik mendengarnya.   

  

“Hemm... akhwat minyak telon? Ada-ada saja kalian.” Tukasku menahan tawa yang nyaris lepas.

 

“Ukh, tanda terima infaq kelompok kita untuk anak yatim mana? Anti kan yang bawa? Ustadzah ‘Aini tanya? Kata beliau mau disetorin.” Seru ukhti Nana.

 

“Iya sebentar.” Aku segera mengambilnya di saku dompet. Kalau tidak salah bukti tanda terimanya  itu kuselipkan di bawah KTP sama seperti kartu nama... Hah! Aku tertegun. Tanda terimanya ada tapi, kartu namanya...  hilang.

~~~

Setahun kemudian...

Tidak ada yang berubah. Aku masih setia dengan minyak telonku. Hanya saja sekarang aku punya saingan. Kini aku bukan satu-satunya lagi yang memakai minyak telon di rumah mungil kado pernikahan dari Papa. Hanania, buah cintaku yang baru berumur dua bulan dua hari juga memakai  minyak telon. Oh ya,  aku menikah dengan Hanif, kondektur sekaligus tetangga dan sahabat kecilku dulu. Lebih dari sepuluh tahun kami tak pernah sekalipun sua. Hingga hari itu, tanpa kusadari aku bertatap muka dengan Hanif di angkot. Aku sama sekali tidak mengenalinya. Tapi sebaliknya, Hanif begitu mengenaliku. Hanif  marah, karena aku melupakan dirinya. Lalu dengan spontan memaki-maki diriku. Ia kian yakin ketika kartu nama yang kucari-cari itu jatuh di angkotnya. Kartu nama Hanif yang kutulis dengan tanganku dulu tempo kecil. Aku memang sengaja menyimpannya di saku dompet. Kuselipkan di belakang KTP-ku. Entah kenapa aku melakukannya? aku merasa sulit untuk melupakan atau membuangnya. Inikah cinta. Entahlah. Sebaliknya Hanif ternyata juga masih menyimpan kartu namaku yang ditulis tangan oleh Hanif sendiri. Tadinya kartu nama itu menjadi milik kami masing-masing sesuai dengan namanya. Namun suatu hari Hanif meminta kepadaku untuk menukarnya sebelum kami berpisah. Keluarga Hanif akan pindah ke Jogja. Jadi, akhirnya kartu namaku itu berpindah ke tangan Hanif. Sedang kartu nama Hanif di tanganku. Alasannya klise. Supaya  kami tidak saling melupakan. Akhirnya pertemuan itu berujung dengan pernikahan kami yang sama sekali tidak pernah kuduga sebelumnya. Sehari setelah pertemuan di angkot Hanif mengkhitbahku. Malamnya akad nikah langsung dilaksanakan. Ternyata, Hanif bukan seorang kondektur beneran. Ia seorang penulis. Menjadi kernet cuma sekedar untuk observasi karyanya. Ia juga menjadi editor di sebuah penerbitan ternama di ibukota. Malam ini ulang tahun pernikahan kami yang pertama.

 

“Sayang, apa tidak menyesal menikah dengan akhwat minyak telon?” tanyaku padanya.

 

“Mmm... sekarang sih... menyesaaaal.” Jawabnya membuatku ketakutan. “Soalnya aku sudah dapat penggantinya.” Sahutnya sambil mengedipkan sebelah mata.

 

“Siapa dia?” kataku penasaran.

 

“Benar, mau tahu? Ehm... dia itu adalah Hanania putri kita, hehehe. Makanya parfumnya sekarang diganti aja ya biar nggak saingan. Ini buat kamu sayang!” jawabnya seraya memberiku sebuah kado. Aku langsung membuka kado itu dengan membayangkan isi kado itu adalah  botol-botol Viva La Juice, Boss In Motion-nya Hugo Boss, Bvlgari Rose Essentielle atau sederet merk parfum-parfumku dulu. Namun ternyata buah kado itu mengejutkanku. Mataku terbelalak melihat selusin botol minyak kayu putih.

 

“Kok minyak kayu putih sayang? Apa bedanya dengan minyak telon?” tanyaku disambut cekikikan suamiku.

 

“Biar nggak dibilang adik bayi lagi.” Godanya membuat wajahku bersemu merah.

 

“Jadi, sekarang julukanku diganti dengan akhwat minyak kayu putih dong.” Timpalku.

 

“Lantas, akhwat minyak telonnya sekarang adalah... Hanania.” Bisik suamiku sambil mengecup kening Hanania. Kami berdua pun terpingkal-pingkal.

~~~

Bekasi, Tue  230210 04:35 pm

To: Para wanita  pemuja  parfum mahal di atas segala-galanya.

Salam rindu buat teman2 Q-Ta [Ari, Hani’, Hilya, Ika, Jumi, Lilis, Lily, Susi,Ully] “Semangat ya!”

BIODATA

Nama              : Rif’atul Muna

TTL                 : Pati, 8 September 1987

Alamat             : YAPIDH Jl. Wibawa Mukti II gang H. Awi Pedurenan Jatiluhur Jatiasih Bekasi 17425

Handphone     : 081326129395

Email               : rifatalmuna@yahoo.com

Rekening         : Bank Muamalat Share a/n: Rif’atul Muna No. Rek. 601923-919-5309599   

Lampiran movie tidak tersedia.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :