Tragedi Pengantin Baru (Part 2)

Diposting: Senin, 08 Februari 2010 / 19:34:15 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen Interaktif

Halaman ini diakses sebanyak: 251 kali | Status Posting: Publish | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Penulis: Zuni Indana Zulfa

Aku kaget setengah mendengar bentakan suamiku. Selama ini dia tak pernah membentak aku sekeras itu. Rasanya air mataku mulai mengalir ke pipi, melihat ibu pingsan dan suamiku marah seperti ini. Ya Allah, cobaan apa lagi ini?

Kami berdua langsung mengangkat ibu menuju kamar. Aku mengambil segelas air minum dan minyak kayu dari dapur. Suamiku begitu khawatir melihat ibunya yang selalu kuat tiba-tiba limbung karena mencuci, tugas yang seharusnya aku kerjakan. Suamiku tak bicara sepatah kata pun pada diriku. Aku pun meninggalkan dia bersama ibu yang masih pingsan untuk sholat dulu.

”Ya Allah, cobaan seperti apa lagi ini?”

***

Setelah beberapa saat, Bunda akhirnya sadar. Aku memijit kakinya. Matanya melihatku dengan tajam, aku menunduk di tatap seperti itu.

”Ini semua salah kamu, makanya kalau punya kerjaan di kerjakan sendiri. Jangan bunda terus. Kasihan Bunda, pasti kecapean!” kata suamiku di dalam kamar Bunda.

Bunda mendesah, ”Sudahlah, memang Bunda yang kelewat capek. Kamu juga, sebagai mantu harusnya sadar. Bangun pagi, sholat, terus mengerjakan pekerjaan rumah. Nanti kalau kamu sudah punya rumah sendiri, siapa yang mau mengerjakan? Pembantu semua?”

Deg....

Hatiku sakit sekali. Meskipun selama ini omongan bunda selalu ketus, tapi kali omongan itu juga ditambahi oleh orang yang paling aku cintai yang aku harap mampu memahami keadaanku. Suamiku.

”Maafkan aku Bunda....” hanya itu saja yang bisa aku ungkakan kepada bunda yang masih lemas.

Hari sudah mulai siang. Karena bunda sakit, aku yang harus menggantikan semua pekerjaan rumah. Mencuci, menyapu, mengepel dan memasak. Semua pekerjaan bunda aku kerjakan dengan senang hati. Suamiku hari ini juga ijin kerja, demi menjaga bunda.

Ternyata memang melelahkan mengerjakan semua pekerjaan bunda. Pantas saja bunda pingsan, pasti beliau belum makan.

***

Siang ini aku memasak sayur asam kesukaan suamiku, dengan tempe goreng dan sambal terasi. Baunya menggoda selera. Aku memasaknya dengan sepenuh hati, berharap suamiku bisa memaafkan aku.

”Bunda kan sakit, jangan makan yang asem-asem dulu. Kamu gimana sih!” kata suamiku keras saat di dapur. Lagi-lagi aku terdiam. Apa yang harus aku lakukan?

Suamiku membelikan bunda makanan dari luar. Sakit sekali rasanya melihat suami membeli makanan padahal istrinya telah menyiapkan makanan spesial untuknya. Tapi aku tetap berusaha sabar, karena secara tidak langsung aku memang bersalah. Semua salahku, coba kalau aku bangun lebih awal, coba kalau tugas mencuci itu aku yang kerjakan, coba kalau semua ini tidak terjadi. MasyaAllah, aku kenapa?

***

Setelah kejadian itu, aku mulai bangun lebih awal dari biasanya. Bunda hanya diam kalau aku membantu mengerjakan tugas rumah. Tapi aku berusaha untuk tetap mengajaknya ngobrol agar wajahnya tidak cemberut terus.

”Sudahlah, sana kamu istirahat. Temenin suami kamu!”

Kembali ucapan bunda membuatku sedih, “Bunda, biar saya saja yang mengerjakan. Nanti Bunda sakit lagi, kecapean.....”

”Sudahlah, kamu nggak usah suka bantah. Bunda sudah terbiasa kerja seperti ini. Tidak seperti anak muda zaman sekarang, tahunya Cuma seneng-seneng, makan, menghabiskan uang!”

Aku tak mau mendengar omongan bunda lebih lama lagi. Karena pasti akan menyakitkan. Aku pergi ke kamar menemui suamiku yang sedang menghadapi komputernya. Melihatku aku masuk, dia hanya melirik saja lalu kembali ke layar komputer.

”Mas, lagi sibuk apa?”

”Ini mengerjakan tugas kantir. Kamu nggak bantuin bunda masak?”

”Disuruh nemenin mas kok. Tadi udah bantu Cuma dikit.”

“Kamu itu harus belajar dari bunda, bunda orang yang sangat berjasa buat Mas. Beliau membesarkan Mas sampai seperti ini. Ini semua karena bunda. Kamu tahu kan, Mas sudah nggak ada ayah sejak kecil. Jadi aku nggak mau mengecewakan bunda dengan wanita pilihan Mas.”

”Maksud Mas? Mas kecewa menikah denganku?” Bersambung

Woro-woro! Buat kamu yang tertarik mengakhiri cerpen Tragedi Penganti Baru ini (part 3), buruan kirim naskah lanjutannya ke email majalah_annida@yahoo.com boleh juga via pos, selambat-lambatnya 10 hari setelah tanggal pemuatan sudah sampai di meja redaksi. Nggak perlu panjang-panjang kok, cukup 2-3 halaman 1,5 spasi, di-attach dengan subject: TPB part3. sertakan alamat lengkapmu! Bagi naskah yang dimuat akan mendapat bingkisan menarik loh, ditunggu ya...
   













Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

resensi_back.jpg

iklan-arrina.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :