Tragedi Pengantin Baru (Part 1)

Diposting: Rabu, 27 Januari 2010 / 11:56:03 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen Interaktif

Halaman ini diakses sebanyak: 862 kali | Status Posting: Publish | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Penulis: Maryam Hanifa

“Hati-hati loh tinggal sama mertua!”

Itu yang sering kudengar sebelum menikah tiga bulan yang lalu. Wajarlah kalau teman-temanku pada berbisik seperti itu, karena mereka tahu aku akan menikah dengan seorang anak tunggal, dengan orang tua tunggal pula.

Singkat kata, tiga bulan yang lalu aku menikah dengan suamiku dan tinggal di rumah ibunya. Dan terjadilah kejadian itu.

“Jadi mau kamu apa?” Suara ibu mertuaku menggelegar. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 10 pagi. Hari minggu yang cerah. Terdengar suara anak-anak tetangga bermain di halaman rumah.

Hatiku ciut mendengarnya. Aku hanya bisa bersuara pelan mencoba meredam amarah ibu mertua yang datang tiba-tiba ini.

“Maksud Bunda bagaimana?”

“Iya, sekarang mau kamu apa? Kerja ini nggak bisa, itu nggak bisa, maumu apa sekarang?” Suaranya kembali menggelegar.

Aku terdiam. Sungguh aku bingung menjawabnya. Selama ini sudah kucoba membantu ibu mertua sebisaku, namun ternyata pekerjaan yang ku maksudkan untuk membantunya sama sekali tidak bernilai di matanya. Aku tak tahu harus berkata apa. Sementara suamiku hanya berjalan hilir mudik, tidak mengatakan apa-apa untuk membantuku keluar dari situasi yang sangat tidak menyenangkan ini.

“Begini bunda, dari awal kan Ina sudah pernah mengatakan bahwa Ina tidak bisa kerja rumahan, tapi Ina mau belajar asal bunda juga sabar mengajari Ina.”

“Akh! Saya itu hanya mau mengajar orang yang mau belajar saja!” kata-kata ibu mertua membuatku semakin terdiam, kepalaku tertunduk. Ya Allah, terasa berat nian persoalan yang sedang kuhadapi ini.

“Bunda, selama ini, bunda kan tidak pernah menegur atau menasehati pekerjaan Ina apabila ada yang tidak berkenan di hati bunda, baru kali ini bunda bicara secara langsung...”

“Betul, baru kali ini saya bicara, baru pertama kali saja sudah begini meremehkan!” Bunda memotong pejelasanku.

Aku kembali tergugu. Entah harus bagaimana aku berucap, aku sudah tak tahu lagi.

“Sejak ada kamu semua pengeluaran naik. Cobalah untuk berhemat!”

Aku tercenung mendengar kata-katanya. Maksud bunda aku boros? Aku cuma ada di rumah ini 3 hari dalam seminggu, tak banyak listrik maupun air yang sepertinya kupakai, hanya dalam kadar sewajarnya saja, teganya bunda menuduhku seperti itu. Aku mulai tidak terima, hatiku mendidih mendengarnya.

Aku memang tidak pandai bersih-bersih rumah, aku pun tidak bisa memasak, namun selama ini, jika suasana kurasa sedang tidak tegang, aku coba membantu pekerjaan di rumah semampuku.

Lima hari dalam seminggu aku kuliah di luar kota. Pulang hanya di akhir pekan. Jadi tidak banyak waktu yang bisa kugunakan dengan suamiku. Sebagai pasangan yang baru saja menikah, menurutku wajarlah kalau kami senang menghabiskan waktu berdua saja, apalagi kami memang jarang bertemu.

Menyesuaikan diri dengan pekerjaan rumah tangga menjadi hal yang terberat untukku. Karena aku yang anak kost ini, terbiasa membeli makanan jadi di luar, ataupun membereskan kamar sendiri saja, itu pun kulakukan kapan kusuka, tidak ada jadwal tetapnya.

Berbeda dengan ibu mertuaku. Beliau orang yang sangat disiplin. Ia bangun pukul 3 shubuh atau lebih pagi lagi, dan langsung mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tanpa peduli bahwa aku merasa tak enak tidak bisa membantunya karena aku selalu telat bangun ketika ia sudah selesai membereskan semuanya.

Sebenarnya kalau dia meninggalkan saja pekerjaan itu, akupun akan mengerjakannya, tidak mungkin aku tidak membantunya. Tapi yah begitulah ibu mertuaku, jadwalnya tidak bisa diganggu gugat. Kalau aku tidak bisa mengikutinya yah dia akan mengerjakan semuanya sendiri. Seperti yang dia katakan padaku dan suami di awal dia marah tadi, “Saya bisa hidup tanpa bantuan kalian!”

Yang lebih mengerikan, pernah seorang tetangga datang ke rumah sambil mencibirku.

“Kasihan sekali mertuamu itu, jadi pembantu di rumah sendiri!”

Seluruh saudara bunda yang datang ke rumah pun ikut memakiku dengan tatapan mereka yang menghunus tajam. Membuatku makin tak tahan.

***

Itu kejadian 3 minggu yang lalu. Sejak hari minggu naas itu, hubunganku dengan bunda yang memang tidak terlalu akrab bertambah renggang saja.

Suatu pagi, hari masih gelap. Aku terbangun ketika mendengar air di depan kamar mengucur. Kubuka tirai jendela dan kulihat bunda sedang mencuci pakaian. Aku terkesiap. Kaget bukan kepalang, karena selama ini mencuci adalah tugasku, mengapa bunda yang mengerjakan, sepagi ini pula! Aneh, batinku.

Kubuka pintu, dan kusapa bunda. “Biar Ina saja yang mencuci bunda, tapi Ina harus mandi dan shalat dulu.”

Tanpa menengok ke arahku, bunda menjawab, “Biar bunda saja, sudah tanggung!”

Aku jadi tidak enak hati. Mau mencoba membantu menyuci tapi dari gelagatnya bunda seperti tidak mau kubantu. Ah, mana tugas kuliahku sedang menumpuk, bunda ngambek dan memasang muka manyun begitu, aku jadi tidak enak hati. Rasanya otakku jadi keram dan sesak. Kalau begini terus, bisa-bisa rambutku beruban dalam sehari!

Secara mengejutkan tubuh bunda limbung. Untungnya refleksku masih cukup cepat, dan tubuh bunda tidak terlalu berat untuk kusangga. Kedua tanganku menopang tubah ringkih bunda itu.

“Bundaa... bundaa!”

Tiba-tiba suamiku keluar dari kamar dengan berteriak memanggil nama bunda, dan dengan ucapan sangat kasar, ia mulai berteriak menyalahkanku. Aku tertegun.

(Bersambung)

ATTENTION PLEASE!
Buat kamu yang tertarik melanjutkan cerpen TRAGEDI PENGANTIN BARU ini (part 2), buruan kirim naskah lanjutannya ke email majalah_annida@yahoo.com, selambat-lambatnya 2 minggu setelah pemuatan part 1 ini.

Nggak perlu panjang-panjang kok, cukup 2-3 halaman 1,5 spasi, di-attach dengan subject: TPB part2. Cerita belum boleh selesai! Sertakan alamat lengkapmu! Bagi naskah yang dimuat akan mendapat bingkisan menarik loh, ditunggu ya...


Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :