Take Me Out, Pliis (part 2)
Diposting: Jumat, 06 Nopember 2009 / 13:01:40 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen Interaktif
Halaman ini diakses sebanyak: 723 kali | Status Posting: Publish |
Rating: 0
Penulis : Hilal Ahmad
Hari yang bikin deg-degan itu tiba. Pagi-pagi banget Cici dan Mas Paino udah standby aja di depan pintu rumah. Secara semaleman udah kutatar, mulai dari cara jalan sampe berbicara. Haloo, nggak mungkin kan kalau si Cici itu kubiarin pake logat sunda dengan wajahnya yang polos, trus nyambut 4 calon pasangan hidup yang dicari sama Olga Marolga itu. Mas Paino juga sama kutatar, semaleman sampai jam 2 pagi. Untungnya jam lima mereka udah langsung ready aja mendengar instruksiku.
Cici yang emang nggak norak-norak amat, kupinjami batik nyokap begitu pula Mas Paino. Jadilah mereka dadakan sepasang pecinta batik…hehehe. Ya hitung-hitung menghargai pemerintah Idnonesia yang memperjuangkan batik bisa diakui dunia.
“Ting tong ting tong,” bel depan berbunyi heboh. Juleha Ambarwati alias Juju, anak Cici yang masih 10 tahun bukain pintu. Aku melirik jam di ponsel. Masyaallah masih jam 7, tapi kok udah ada yang bertamu yah. Tak lama, si Juju nongol dari balik daun pintu kamarku.
“Non ada cowok, kayaknya korban pertama dehh,” Juju berkata riang sambil mengedip-ngedipkan mata nggak jelas.
Aku bangkit, tapi duduk lagi. Luna Maya nyanyi Suara di Blackberry Jeveline-ku. “O emje Luna, satu cowok udah akika kirim ya cin,” hmm itu pasti suara Olga.
“Pagi banget kale ciiin. Kenapa nggak sekalian aja lu suruh jam 2 abis tahajudan geto.”
Lalu suara Olga terdengar lagi. “Yang ini cucok mantebs abisawati deh ciiin.”
“Oya…” klik. Komunikasi lewat Blackberry terputus. Aku merapikan diri. Untung udah mandi pagi-pagi sekali. Aku berjalan keluar kamar dengan mengendap kayak buaya, eh salah kayak cicak, ups kayak komodo ding, ih apaan sih emang aku reptil. Maksudku sambil berjingkat, menuju ruang tamu.
Ada satu cowok duduk memunggungiku. Aku melirik ke kanan kiri, ada Cici sama Mas Paino yang berdiri aja di pojokan ruang deket kulkas. Kulambaikan tangan pada mereka, dan menunjuk ke arah ruang tamu.
Syukurlah keduanya mengerti. Lalu mendatangi sang tamu, yang kalau dilihat dari belakang sih kayaknya keren. Rambutnya klimis, pake jas, dan wangi sepanjang hari, tapi bikin enek. Kayaknya tuh cowok pake minyak si nyongyong yang biasa dipakai buat melayat gitu.
Terdengar keduanya memberikan salam pada tamu.
“Waah mau pada kondangan kemana ibu dan bapak,” tanya sang tamu.
Aku membekap mulut. Gila, berani banget tuh tamu, langsung ngeledekin sepasang bonyok palsu yang berbatik ria. Percakapan selanjutnya terdengar sayup-sayup, tapi aku masih penasaran dengan wajah itu tamu yang kalau dari belakang mirip Christian Sugiono. Ahh nggak apa-apa kali, nggak dapet cowok mirip Ariel, sekali-kali Luna cinta Christian Sugiono pasti heboh tuh infotainment. Lagian aku kan bukan artis.
Belum sempat khayalanku menerawang lebih jauh, o em ji, si tamu nengok ke arahku, dan ya ampun, masyaallah, innalillahi, astaghfirullah, kok mirip Tukul. Aku langsung kasih kode sama si Juju, buat bilang ke Cici dan Mas Paino mengusir segera itu tamu. Hehehe. Bukanya aku sok cantik, gini-gini kan aku jaga gengsi, apa kata dunia dan Olga kalau aku, si Luna, cewek tercantik di gang komplek, dapet cowok mirip Tukul.
Sejam kemudian cowok kedua muncul. Sebelumnya Olga emang udah kasih tau. Tapi sebelum cowok kedua itu masuk ke dalam beranda rumah, aku udah kasih kode si Juju supaya nggak perbolehin itu tamu masuk rumah.
“Olga lu gila ya, gue nggak butuh tukang salon, gue butuh calon suami. Kok yang nomor dua ini jadi serba ngepink, pake ngondek lagi.”
Olga tertawa di seberang sana. “Sori cin, itu selera akika. Tuh lekong emang cool abis.”
Sejam kemudian seorang lelaki parlente memakai jas dan kacamata berdiri di depan gerbang rumah. Juju yang kutugaskan jaga pintu kayak algojo itu cukup lama berdiskusi dengan sang tamu, kemudian masuk rumah menemuiku. “Siapa Ju,” aku penasaran.
“Non eta mah ngan sales parfum.” (Non, tamu itu cuma sales parfum).
Oke. Cukup lama menunggu tamu yang kedua, sampai akhirnya cowok kece mampir ke rumahku. Potongan badannya porposional, potongan rambutnya ala artis Korea serupa Kim Bum atau Kim Hyuun Jun yang lagi happening banget lewat Boys Before Flowers. Kulitnya putih dan bersih. Tuh cowok keren yang berdiri di depan gerbang sambil celingak-celinguk melepas kacamatanya. O my god, kok cowok itu jadi kayak vokalis band yang lagunya familiar abis….ya Tuhan mimpi apa aku semalam…. (Bersambung)
Woro-woro! Buat kamu yang tertarik mengakhiri cerpen TAKE ME OUT, PLIS ini (part 3), buruan kirim naskah lanjutannya ke email majalah_annida@yahoo.com boleh juga via pos, selambat-lambatnya 10 hari setelah tanggal pemuatan sudah sampai di meja redaksi. Nggak perlu panjang-panjang kok, cukup 2-3 halaman 1,5 spasi, di-attach dengan subject: TMOP part3. sertakan alamat lengkapmu! Bagi naskah yang dimuat akan mendapat bingkisan menarik loh, ditunggu ya...
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




