PESANTREN IDOL (Part 1)

Diposting: Minggu, 26 Juli 2009 / 16:22:49 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen Interaktif

Halaman ini diakses sebanyak: 430 kali | Status Posting: Publish | Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Maryam Diyah

Bintang mengedarkan pandang ke sekeliling. Dahinya berkerut, hidungnya mengernyit, wajahnya benar-benar tak keruan. Ekspresi hasil mix and match dari rasa malas, jijik, serta putus asa melihat keadaan di sekitarnya. Bintang mengekor tepat di belakang seorang wanita semampai berjilbab putih lebar sambil terseok menyeret kopernya.

   Mereka  tiba di sebuah bangunan kumuh berbentuk leter U bertingkat dua dengan pintu berderet. Bermacam jenis jemuran terentang pada pagar di tingkat dua. Spontan ia berjengit. Tak pernah sekalipun ia membayangkan akan tinggal di tempat seperti ini. Ah, sial benar, batinnya.

   "Jaga dirimu baik-baik. Papa telah menitipkanmu pada Kyai Furqan, pemilik pondok ini. Jangan permalukan kami dengan kelakuan nakalmu. Oke?" Itulah kata-kata papanya sebagai salam perpisahan untuk Bintang. Sedangkan sang mama hanya mengusap-usap kepala Bintang yang terbalut jilbab merah muda seraya menyusut butiran bening di sudut matanya diam-diam.

Tak bisa berbuat lain, Bintang hanya mengangguk, meski dalam hatinya merutuk. Mengapa buntut dari permintaannya seminggu lalu malah berbuah pengasingan seperti ini? Bintang memang ingin tinggal di asrama. Tapi yang dimaksud bukan asrama seperti ini! Yang Bintang maksud adalah asrama karantina bagi para calon penyanyi idola Indonesia! Bintang mendengus. Rasa gondok dalam hatinya dihempaskan dalam satu hentakan napas jengkel.

    Mereka telah sampai di pintu paling ujung.

    "Ini kamar kamu." Ujar wanita berjilbab putih yang mengantarnya, dan kemudian membuka pintu kamar lebar-lebar...

   Apa yang terpampang di hadapan Bintang kini membuatnya melongo tak percaya.

   Pandangannya menjelajah tiap sudut kamar. Sementara ketakutan nampak semakin membayang di mata bulatnya.

   Ini kamarnya? Yang benar saja! Lihat, dinding yang kusam itu, catnya telah mengelupas di sana-sini dan penuh dengan coretan! Dan atapnya... atapnya yang Bintang yakini semula berwarna putih itu telah cokelat dan aus karena gurat-gurat usia dan air hujan yang nampaknya sering merembes. Pasti sering bocor di kala hujan. Oh no! It is a big no no! Papa bilang, ini pesantren terbaik di Jawa Barat! Mengapa papa tega berbohong?

    "Nama saya Wati, panggil saja Teh Wati. Saya ketua kamar di sini. Kamar ini berisi lima orang termasuk kamu. Yang lainya sedang mengaji."

   Lima orang?! Oh... apa kabarnya privasi? Ratap Bintang dalam hati. Lagi.

   "Dan kamu boleh pakai kasur itu, kecuali kamu membawa kasur sendiri dari rumah." Wanita itu menunjuk sebuah kasur lipat tipis yang tergulung dan tersandar di pojok kamar.

   Hah? Kasur bekas siapa itu? Bagaimana kalau banyak kutunya? Bagaimana kalau orang yang sebelumnya menidurinya punya penyakit menular seperti virus H1N1 yang kini sedang naik daun? Bintang terserang panik seketika.

    "Jangan khawatir. Kasurnya bersih kok. Kami jemur seminggu sekali. Dan kamu bisa pasang seprai kan. Kalau tidak punya, nanti saya pinjamkan." Usul Teh Wati seraya tersenyum menenangkan begitu membaca kekhawatiran di wajah Bintang.

   Oh... betapa ia merindukan kamarnya di Jakarta...

                                  ****

    "Mencintaimu... seumur hidupku... selamanya... kau tetap milikku.... Hanya satu yang tak mungk..."

    "Bintang! Jangan nyanyi keras-keras! Ini waktunya mengaji. Seharusnya kamu ikut mengaji daripada nyanyi-nyanyi seperti itu..." tegur Teh Wati yang kala itu absen mengaji karena berhalangan. Maklum, pengajian biasanya diadakan di masjid. Bintang sendiri hari itu membolos. Tak mengindahkan teguran dari Teh Wati maupun teman sekamar lainnya.

    "Biarin! Bintang emang pengen jadi penyanyi! Bintang udah bilang sama Papa! Salah sendiri kenapa malah masukin Bintang ke sini!" seru Bintang jengkel nyanyiannya dipotong. Hari itu genap seminggu Bintang resmi menjadi santri Pondok Al-Ikhlas Tasikmalaya. Namun belum ada tanda-tanda ia bakal kerasan.

   "Kalau begitu, tepat sekali papamu memasukkanmu ke sini." Cetus Teh Wati mengerling Bintang sekilas, sebelum memfokuskan perhatiannya kembali pada kitab sharaf  yang tengah dibukanya.

   Tepat? Ngaco!

   Bintang tak mengindahkan perkataan Teh Wati melainkan meneruskan nyanyiannya yang terpotong.

   Bintang tak tahu, misinya untuk membuat seluruh penghuni pondok terganggu dengan suaranya itu, membuat seseorang yang diam-diam mendengarkan dari kejauhan tengah berpikir keras.

                                  ****

   Siang itu suasana lengang.  Para penghuni pondok sedang mengikuti pengajian di masjid. Bintang hanya sendiri dalam kamarnya. Hari ini ia tidak ikut pengajian dengan alasan sakit perut. Padahal, suatu rencana telah tersusun matang dalam benaknya. Bintang melirik jam dinding. Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum pengajian bubar.

   Bergegas diambilnya koper besar miliknya di sudut kamar. Diseretnya koper itu menuju lemari. Satu persatu pakaiannya dimasukkan secara terburu-buru. Tak lupa pula barang-barang lainnya seperti buku, kosmetik, tas, diary, dan lain-lain.

   Setelah selesai, Bintang membuka pintu kamarnya dan melongok keluar. Sepi. Hanya ada Resti yang tengah menjemur pakaian di depan kamarnya yang bersebrangan dengan kamar Bintang. Itupun posisinya membelakangi Bintang. Dan kebetulan kamar Bintang terletak paling ujung, berbatasan dengan gang yang tembus ke arah kamar mandi belakang yang tak jauh dari jalan raya.

   Bintang mulai melangkahkan kakinya melewati ambang pintu. Kopernya yang besar diseretnya perlahan hingga tak menimbulkan suara. Setelah yakin tak ada yang melihat, secepatnya koper itu ia lemparkan ke gang. Baru setelah itu tiba gilirannya untuk menyelinap dengan lihai dan tangkas. Namun tetap dengan gaya yang diatur sedemikian wajar.

   Senyum lebar terkembang di wajah Bintang. Oh, Jakarta, Iam coming...

   Neni, Ica, Amira, dan terutama... Dhika, betapa aku merindukan kalian! Dan Mama, Papa, meskipun kalian telah tega memasukkanku ke dalam penjara ini, namun aku juga sangat merindukan kalian. Tenang saja, Pa. Bintang memaafkan Papa.

   Bintang terus melangkah dengan penuh percaya diri namun tetap hati-hati sambil menyeret sang koper. Sementara kendaraan umum yang berlalu lalang di jalan raya mulai tampak. Bintang semakin mempercepat langkah. (Bersambung)

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

down-aim.jpg

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

iklan-lola-kecil.jpg

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :