PECANDU KEGELAPAN (Part 2)
Diposting: Rabu, 26 Agustus 2009 / 16:30:06 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen Interaktif
Halaman ini diakses sebanyak: 276 kali | Status Posting: Publish |
Rating: 0
Qurrotu Ayunin
Seluruh dunia gempar. City Hotel, yang
merupakan salah satu hotel mewah di New York telah porak poranda oleh
bom berdaya ledak tinggi. "Hingga saat ini telah dilakukan penyidikan
oleh agen CIA dan FBI. Hasil sementara menunjukkan bahwa bom tersebut
merupakan bom bunuh diri yang sengaja diledakkan di loby hotel. Dari
hasil rekaman CCTV dan catatan petugas resepsionis hotel, diduga bahwa
pelaku pengeboman melibatkan beberapa orang. Salah seorang yang diduga
sebagai pelaku bom yang berhasil diidentifikasi adalah penyewa kamar
1019 bernama Ahmed Al Rasyid, seorang muslim berkebangsaan Palestina."
Penyiar VOA memaparkan beritanya dengan penuh semangat.
Aku
tersenyum dengan bangga. Mataku tak lepas dari gambar ilustrasi di
televisi. Korban-korban berlumuran darah merintih kesakitan, tidak
sedikit di antara mereka yang menangis histeris.
"Terpaksa aku
mengorbankan kalian. Demi tegaknya agamaku. Tidak-tidak. Demi dunia
yang ada dalam genggamanku. Hahaha," kuteguk brendy yang berwarna
kuning keemasan.
Telepon genggamku berdering.
"Ya, ada apa John? Oh begitu, baiklah. Berikan setengah dari upah yang telah kita janjikan." Kataku.
"Ada satu lagi Tuan," kata John di seberang sana.
"What is that?" Tanyaku.
"Tampaknya Mr. Gabriel curiga dengan kejadian ini," kata John datar.
"Heh, dasar burung pipit kecil. Tenang saja John." Aku berkata dengan santai.
"Apa Tuan tidak khawatir?"
"Heh. Kamu lupa, uang bisa membeli segalanya, hahaha," kututup telepon itu dengan puas.
Lima detik kemudian telepon dalam ruanganku berdering.
"Yes," kataku mengangkat telepon.
"Mr Gabriel ingin bertemu dengan Anda, Tuan," kata suara sekretarisku.
"Suruh dia masuk, Elizabeth," jawabku.
Tak berapa lama kemudian pintu ruanganku diketuk seseorang.
"Come in," kataku tegas.
Elizabeth masuk mengantarkan lelaki berkulit putih berpostur tinggi besar ke dalam ruangan.
"Please,
sit down," kataku mempersilakan laki-laki itu masuk. Dia menurut. Tidak
ada senyum di wajahnya. Untuk beberapa saat lamanya laki-laki itu
terdiam.
"Kau ke sini tentu bukan untuk menjadi orang bisu, hah?" Tanyaku.
"George, sebenarnya skenario apa ini? Saya yakin sekali, tidak ada tamu bernama Ahmed Al Rasyid itu," katanya.
"You right, Gabriel. Of course, there is not Ahmed Al Rasyid. The room is empty." Kataku datar.
"What?" Gabriel tidak percaya.
"Kau tahu. Kamar itu kosong. Tidak sulit meminta pegawaiku sendiri untuk mengatur semuanya."
"Jadi, semua ini rencanamu?" Gabriel tidak percaya.
"Ehem."
Aku mengangguk ringan. "Kau tahu, City Hotel dikenal dengan sistem
pengamanan yang sangat ketat. Orang akan berpikir bahwa pelaku
pengeboman pasti sudah merencanakan kejadian ini sejak lama. Mereka
pasti berpikir bahwa teroris muslim-lah yang melakukannya. Hahaha." Aku
memutar gelas brandyku.
"Hmm, aku masih bisa membangun hotel yang
lebih mewah dari pada hotel yang sekarang ini. Lagi pula aku sudah
bosan dengan desainnya." Kali ini aku menyulutkan cerutu tanpa melihat
pada wajah Gabriel.
"Dengar, aku juga merupakan salah satu pemilik
hotel itu. Kamu tidak bisa bertindak semaumu. Aku akan melaporkan fakta
ini pada FBI," Gabriel menggertak.
"Persetan. Aku tidak takut.
Ingat, enam puluh persen saham hotel itu aku yang memiliki. Akulah yang
membuatmu kaya. Lagi pula, FBI, CIA, sudah dalam genggamanku. Aku
menyalurkan sebagian danaku untuk melengkapi persenjataan mereka."
Aku melanjutkan ucapanku, "Kau tahu, aku cuma sedikit bosan. Aku ingin bersenang-senang."
"Biadab. Kamu tega membunuh bangsamu sendiri." Gabriel menggemeretakkan giginya.
"Bangsa?
Yang kamu maksud naked dull? Aku benci dengan mereka. Tapi aku juga
tidak suka dengan moslem. Aku ingin moslem identik dengan teroris yang
kejam," aku menghisap cerutuku dengan penuh kenikmatan.
Gabriel
kembang kempis menahan amarahnya. "You! A cursed man. Hati-hatilah.
Kamu harus menyelesaikan permainan yang kau buat." Gabriel keluar
ruangan sambil membanting pintu.
Aku hanya tersenyum. Menatap
pantulan cahaya pada gelas brandy. Cahayanya memantulkan kemilau
keemasan. Samar-samar terlihat bayangan bocah kecil yang merana.
Bocah
itu terperangkap dalam gelimang harta tanpa sentuhan kasih sayang. Dia
bahkan tidak kenal dengan orang tuanya. Ayahnya terlalu sibuk mengurus
bisnis yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Minyak, susu, gandum,
kosmetik, dan bisnis lainnya. Dia jarang pulang. Sementara sang ibu
entah kemana. Dia sering pulang bersama lelaki yang tidak dikenal.
Kesedihan
merayapi hati bocah itu. Dia merasa kesepian. Tangisannya justru tumpah
pada seorang negro yang menjadi pengasuhnya. Hatinya menjadi tenang.
Terlebih ketika negro itu menyenandungkan kalimat-kalimat yang tidak
dimengertinya. Kalimat-kalimat itu sungguh syahdu hingga kadang air
mata tumpah dari mata si negro.
Namun entah apa yang terjadi.
Ketika bocah itu mendapat naungan yang teduh, saat itu pula harapannya
terenggut. Ibunya tiba-tiba berbuat sangat kasar pada si negro. Ibunya
kerap menyiksa si negro. Cacian, pukulan hingga siraman air panas tidak
segan-segan dilakukan ibunya pada si negro tanpa alasan yang jelas.
Bocah itu hanya menangis tersedu-sedu, mengintip tindakan ibunya dari
balik pintu. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Suatu ketika, si
bocah mencari si negro. Tapi di setiap sudut rumah dan halaman, tidak
ditemukan juga orang yang dicarinya. Dia telah pergi.
Dia telah
pergi meninggalkanku dalam sangkar terkutuk ini. Prang! Gelas brandy
yang kugenggam pecah. Darah mengalir membasahi tanganku. Kutatap darah
itu dengan nanar.
Selintas mirip dengan cairan yang keluar dari
dada wanita itu, ibuku, setelah tertikam timah panas dari tangan ayah.
Aku ingat, sesudah itu, ayah ditemukan tidak bernyawa lagi dengan
lubang peluru di kepalanya. (Bersambung).
***
Woro-woro! Buat kamu-kamu yang
tertarik menulis lanjutan cerita dari Cerpen interaktif Pecandu
Kegelapan Part 3, catat persyaratannya: tulis di Ms.Word 2-3 halaman
1,5 spasi, Times New Roman 12pt, naskah HARUS SUDAH selesai ditulis.
Kirim
ke Nida bisa via pos atau email ke majalah_annida@yahoo.com dengan
subject: Cerpen Pecandu Kegelapan. Buruan kirim sebelum Ahad, 6
September 2009. naskah terbaik yang Nida muat berhak mendapat
bingkisan. So, jangan lupa cantumkan alamat lengkap dan no hp-mu! Nida
tungguh looh...
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.





