PECANDU KEGELAPAN ( Part 1 )
Diposting: Senin, 03 Agustus 2009 / 16:27:05 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen Interaktif
Halaman ini diakses sebanyak: 284 kali | Status Posting: Publish |
Rating: 0
Mufida Inas Aulia
Hotel City, Juli 2009, jam 9 pagi
"Are you ok?"
Aku merengut. Bibirku susah untuk mengeluarkan kata. Meskipun itu hanya kata tidak. Kepalaku teramat pusing sangat. Bahkan perih. Tangan kiriku memegang keningku. Darah segar kudapat pada telapak tanganku.
Aku mengedip-ngedipkan mataku. Pandanganku masih kabur sedari tadi. Aku pun hanya bisa mendengar samar-samar. Suara-suara itu bagai dengungan lebah di corong telingaku. Wajah orang-orang di sekitarku nampak tegang saat memandang diriku. Samar kulihat John menatap iba diriku. Kugerakkan kedua kakiku untuk memindah posisi dudukku. Nihil. Syaraf-syarafku seakan tak mampu mengantarkan keinginanku kepada kedua kakiku. Jantungku terpompa semakin keras.
Tiba-tiba sekelabat bayangan muncul. Satu. Sepuluh. Seratus. Semakin banyak. Wajah-wajah yang tak kukenal. Mereka datang menghampiriku. Perlahan. Perlahan. Semakin dekat. Dekat. Tanpa kusangka wajah mereka berubah. Mereka kini berlumuran darah. Sebagian dari mereka tak memiliki anggota tubuh yang utuh.
Mataku mendapati sepasang kaki berjalan menghampiriku. Sang empunya berjongkok untuk memandang wajahku. Ada genangan air mata di pelupuk matanya. Aku menatapnya lembut. Berharap ia membasuh darah di keningku. Mengembalikan kedua kakiku. Aku menunduk. Berharap keajaiban itu benar adanya. Kutatap matanya kembali. Aku tertegun. Genangan air mata itu berangsur-angsur menjelma menjadi kobaran api. Aku ingin berlari. Tapi tenaga tanganku tak kuat menopang tubuhku dalam ketakutan ini. Dia terus menatapku. Bibirnya meringis seakan mengejek keadaanku. Aku menunduk menghindari tatapannya.
Wwwwuusss... Kurasakan hembusan angin. Dan saat aku mendongak. Orang-orang aneh itu telah lenyap. Aku pun mendesah lega. Darah di kepalaku terus mengalir. Kuangkat tanganku untuk menyekanya. Namun terasa berat. Jantungku kembali terpompa.
Mungkinkah tanganku..... Aku menunduk memeriksa. BOM ! Nafasku semakin susah dihembuskan. Tik...Tik... Waktu ter-set 30 detik. Terus berjalan. Berjalan. Aku makin panik. 4...3...2...
"Aaarrrrrgggghhhh !!!!"
***
Enam tahun sebelumnya...
City, Juli 2003, jam 8.55 pagi.
"Tuan, semua perlengkapan telah siap." John, asisten pribadiku, melaporkan informasi yang ia terima dari lapangan. Tangannya masih mengenggam phone pribadi, sebagai alat komunikasinya dengan anak buahku di lapangan.
Aku mengangguk.
"Lima menit lagi misi akan terlaksana."
Aku menatapnya, "Tidakkah itu terlalu lama?"
John menatapku, "Maksud Tuan?"
Aku menatap arlojiku. John mengangguk. Ia memencet tombol redial. "Laksanakan misi sekarang juga!"
Ada desir bangga merayapi diriku. Aku menatap diriku melalui pantulan kaca jendela. Nampak sesosok pria tegap berdiri angkuh. Di atas ladang uang. Aku tersenyum. Kuhirup udara dalam-dalam.
Aku menyeringai.
"Nyalakan tv!"
John mengambil remote dari atas tv.
Telah terjadi ledakkan dahsyat di lobi City hotel, sepuluh menit yang lalu, atau tepatnya jam 9 pagi. Belum dipastikan berapa korban yang berjatuhan. Namun menurut saksi mata yang selamat korban mencapai ratusan, ..."
Layar tv menampilkan korban-korban yang berjatuhan. Baik itu yang hanya sekedar luka ringan. Berat. Maupun tak berbentuk lagi. Darah menggenang. Seakan Lobi City Hotel menjelma menjadi Sungai darah.
"Hahhahhahhaahh." Aku terbahak. Kutatap John yang hanya menunduk. Tak menyaksikan hasil dari jerih payahku.
"Kenapa kau John.? Tidakkah kau melihat betapa indahnya kreasi yang telah kita buat?" Aku mengangkat kakiku ke atas meja.
John mengangguk. Dia berbalik pergi meninggalkanku. Dan aku kembali terbahak menatap hasil kreasiku. Tinggal mencari kambing hitam yang cocok untuk menutupi jejakku. (bersambung)
***
Woro-woro! Buat kamu-kamu yang tertarik menulis lanjutan cerita dari Cerpen interaktif Pecandu Kegelapan ini, catat persyaratannya: tulis di Ms.Word 2-3 halaman 1,5 spasi, Times New Roman 12pt, naskah belum boleh selesai ditulis. Naskah baru selesai di part ke-3.
Kirim ke Nida bisa via pos atau email ke majalah_annida@yahoo.com dengan subject: Cerpen Pecandu Kegelapan. Buruan kirim sebelum Ahad, 16 Agustus 2009. naskah terbaik yang Nida muat berhak mendapat bingkisan. So, jangan lupa cantumkan alamat lengkap dan no hp-mu! Nida tungguh looh...
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.





