Belenggu Kasih Sayang (Bagian 6)
Diposting: Selasa, 23 Februari 2010 / 12:03:00 | Oleh: annida | Kategori: Cerbung
Halaman ini diakses sebanyak: 795 kali
Rating: 0
Sudah dua kali Danil bolak-balik ke rumah itu untuk menemui Selasih, tapi Bik Nah mengatakan bahwa Selasih belum pulang. Danil mulai cemas. Selasih sudah pergi dari tadi malam, kenapa sampai sekarang belum kembali?
“Bik, kalau Selasih sudah kembali, suruh dia kabari saya ya?” Danil meninggalkan pesan pada Bik Nah. Lalu dia pergi. Hotel Asia. Ke sanalah Selasih pergi tadi malam. Sebenarnya Danil sudah berkali-kali membujuk Selasih agar mengizinkannya menemani ke sana. Tapi Selasilh menolak.
“Mereka ingin aku ke sana sendirian. Mereka pasti mengawasi dari jauh. Begitu tahu kau menemaniku, maka semuanya bisa kacau, bisa-bisa Andika tak akan mereka lepaskan.” Itulah alasan Selasilh mengapa dia tidak mau ditemani.
Danil memacu sepeda motornya menuju ke tempat itu. Begitu memarkir sepeda motornya, Danil masuk ke dalam dan terus menuju lift. Selasih mengatakan bahwa dia akan menemui penghuni kamar 415. Begitu sampai Danil langsung menggedor. Seorang petugas hotel menghampirinya.
“Maaf, Bang. Mau cari siapa?”
“Teman saya. Dia semalam di sini.”
“Tapi kamar ini sudah kosong sejak tadi pagi.”
Bergegas Danil kembali turun. Dia menuju meja resepsionis.
“Mbak, semalam kamar 415 atas nama siapa?” tanyanya pada sang resepsionis.
Resepsionis itu membalik buku di hadapannya.
“Pak Gunawan. Tapi dia sudah keluar tadi pagi.”
“Apakah dia sendirian?”
“Aduh, maaf Bang, saya kurang ingat.”
Danil akhirnya melangkah pergi. Mengapa kamar itu atas nama Pak Gunawan? Berarti Pak Gunawan menyuruh Selasih mengantarkan uang itu untuk dirinya sendiri, dan bukannya kepada Anita? Danil sangat bingung, teka-teki apakah ini?
***
Selasih menatap tajam ke arah lelaki gemuk di hadapannya. Sayang sekali kedua tangannya terikat, kalau tidak, dia pasti sudah menghajar orang itu. Gunawan, yang selama empat bulan ini mengaku sebagai pamannya. Dia memang berhasil, Selasih berhasil dikelabui.
“Sudahlah, Asih, jangan menatap pamanmu ini seperti itu.” Pak Gunawan tersenyum.
“Paman? Apa benar kau Pamanku? Kau tak lebih dari seorang bajingan.”
“Hahaha... Kau benar, Sayang, aku memang bajingan! Tapi walau begitu, bajingan ini tetap yang memenangkan permainan.”
“Apa yang kau inginkan dariku?”
“Kau sekarang sepenuhnya milikku, Asih. Apapun yang kuinginkan kau tak akan bisa menolak. Tapi yang jelas, malam ini kita bersenang-senang dulu, dan besok kau akan mengikuti perjalanan yang panjang ke luar negeri.”
Selasih mengerutkan keningnya. Sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud oleh Gunawan.
“Kau bingung, Asih? Itu wajar. Kau akan kujual, Asih, dan wanita itu akan membawamu ke luar negeri. Mungkin di sana hidupmu akan lebih menyenangkan. Kau juga akan punya banyak uang.” Gunawan menunjuk pada seorang wanita di pojok yang sedang mengisap dalam-dalam asap rokoknya. Wanita itu tengah mengobrol dengan dua orang laki-laki berbadan besar. Wanita itulah tadi malam yang memukul Selasih hingga pingsan di dalam Hotel Asia.
Selasih mulai mengerti ke mana arah pembicaraan lelaki itu. Besok pagi. Itu berarti sekitar 15 jam lagi. Ya Tuhan, tolonglah hamba-Mu. Selasih hanya bisa berdoa.
Gunawan kemudian bangkit dari duduknya.
“Tunggu!” Asih memanggil. Gunawan menoleh. “Di mana Paman Sabri sekarang?”
Gunawan kembali duduk di pinggir tempat tidur.
“Baiklah, Asih. Sepertinya tak ada lagi yang harus kusembunyikan darimu. Kau berhak tahu sekarang. Pamanmu yang bernama Sabri itu telah menjual rumah makan itu padaku sekitar enam bulan yang lalu. Istrinya sakit keras, dan ia butuh biaya pengobatan. Terakhir kudengar dia pergi ke Singapura untuk mengobati istrinya. Sejak itu aku tak tahu lagi kabarnya. Lalu di saat kau datang, kau langsung memanggilku dengan Paman Sabri, lalu sejak itu akupun memainkan sandiwara ini. Sudah jelaskan? Masih ada yang ingin kau tanyakan? Kalau tidak, sebaiknya sekarang kau beristirahat, sebab nanti malam kau harus menemaniku bersenang-senang. Bodoh sekali aku menjualmu sebelum bermain-main denganmu.” Gunawan bangkit, berjalan ke arah wanita di pojok. Mereka kemudian pergi.
“Kalian jaga dia,” pesan Gunawan pada kedua orang berbadan besar itu sebelum ia dan wanita itu meninggalkan kamar tersebut.
***
Doni melepaskan ikatan di tangan dan kaki Andika. Dua orang temannya memperhatikan dengan tak percaya.
“Jadi kau akan membebaskannya?” tanya salah seorang.
“Memang kenapa? Ada yang keberatan?” Doni menjawab.
“Tapi Anita menyuruh kita menghabisinya?”
“Apa untungnya kalian membunuhnya? Hanya akan menambah deretan dosa kalian.”
Begitu seluruh ikatan di tangan dan kakinya terlepas, Andika berdiri dibantu Doni. Andika tak tahu harus berbuat apa. Dia sempat berpikir kalau hidupnya tak akan lama lagi. Anita telah menyuruh anak buahnya untuk membunuhnya. Dengan tangan dan kaki terikat, tak akan ada yang bisa diperbuatnya untuk membela diri. Andika hanya bisa berdoa dalam hati. Semoga saja kematiannya berjalan dengan cepat, dan semoga kakaknya berada dalam keadaan jauh lebih baik dari dia. Tapi tiba-tiba Doni malah membebaskannya.
Kedua orang lelaki yang tampaknya tidak sependapat dengan apa yang dilakukan Doni saling pandang. Keduanya saling mengangguk. Lalu menghampiri Doni.
“Kau tidak takut kalau dia akan melaporkan kita ke polisi?” tanya salah seorang.
“Atas tuduhan penculikan? Tentu saja tidak, bukankah aku telah membebaskannya?”
“Maafkan kami Don, tapi kami masih membutuhkan anak itu.”
“Untuk apa?”
“Terserah mau kami apakan.”
Kedua orang itu makin mendekat, tapi Doni menghalangi.
“Jika ada yang berani macam-macam, maka kalian hadapi aku dulu.”
Perkelahianpun tak terelakkan lagi. Keduanya langsung mengeroyok Doni. Andika yang melihat tak bisa tinggal diam. Dia sendiri tak tahu apa yang membuat Doni membebaskannya, tapi yang jelas dia harus membantunya sekarang.
Sama sekali tak ada yang menyangka, kalau Andika yang bertubuh kecil ternyata punya ilmu beladiri. Berdua dengan Doni, Andika menghajar kedua orang itu sampai mereka menyerah. Lalu Doni membawa Andika pergi.
“Kamu mau memaafkan Abang?” tanya Doni begitu mereka telah berada dalam perjalanan.
“Dika malah mengucapkan terima kasih karena Abang sudah menyelamatkan Dika.”
“Sekali lagi Abang minta maaf. Entah kenapa, Abang mau saja mengikuti kemauan Anita itu. Dari dulu Abang memang mengejar-ngejar dia, melakukan apapun yang dia mau. Tapi apa yang Abang dapat? Tak ada.”
“Maukah Abang membantu Dika mencari Kak Asih? Entah di mana dia sekarang.”
Doni mengangguk. “Tapi besok saja ya? Ini sudah malam. Kamu pasti sangat capek. Sekarang kita ke rumah Abang dulu. Istirahat di sana.”
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




