Belenggu Kasih Sayang (Bagian 4)
Diposting: Selasa, 09 Februari 2010 / 13:08:41 | Oleh: annida | Kategori: Cerbung
Halaman ini diakses sebanyak: 289 kali
Rating: 0
Malam makin merayap secara perlahan. Satu per satu bintang mulai menghilang dari angkasa. Bulan separuh yang tadi juga ikut meramaikan suasana angkasa juga telah hilang. Kalah bersaing dengan segerombolan awan hitam yang tiba-tiba datang. Langit menjadi gelap. Angin dingin berhembus, jangkrik-jangkrik pun tak lagi memperdengarkan nyanyiannya. Gerimis mulai turun. Lalu kemudian hujan datang seperti dicurahkan dari langit.
“Jadi Uni mau berhenti?” untuk kedua kalinya Andika menanyakan itu pada Selasih, sebab pertanyaan pertama tadi hanya dijawab anggukan oleh Selasih, sedang Dika butuh lebih dari itu, tak hanya sebuah anggukan, tapi penjelasan.
Tapi Andika masih mendapatkan jawaban yang sama. Sebuah anggukan kecil dari kepala Selasih.
“Apa Dika sanggup melihat Uni berjalan hanya mamakai celana dalam dan penutup dada?”
Andika menggeleng, bingung, kakaknya bicara apa?
"Memangnya itu yang Uni pakai?"
Selasih mengangguk “Itu yang mereka ajarkan di sana.”
“Tapi Paman pasti kecewa. Dia sangat ingin Uni jadi model.”
“Uni akan jelaskan,” ujar Selasih, lemah.
“Ni, kok Mak tidak membalas surat kita?” Andika mengalihkan pembicaraan. Sepertinya kakaknya tidak semangat jika terus membahas keinginannya untuk berhenti. Selasih yang tadi tampak kurang bersemangat, tampak bergairah mendengar Andika menyinggung tentang ibu mereka.
“Uni juga tidak tahu. Eh, bagaimana kalau kita tulis surat lagi? Cepatlah, ambil pena dan kertas.” Buru-buru Andika melaksanakan perintah itu.
Inilah surat keempat yang mereka tulis selama tiga bulan meninggalkan kampung halaman. Di surat pertama dulu, Asih menceritakan tentang sambutan hangat paman pada mereka. Ia menceritakan bahwa pamannya ternyata sangat kaya, punya dua buah rumah dan salah satunya diberikan pada mereka.
Di surat yang kedua, Selasih menceritakan tentang pamannya yang memarahi Andika karena tak sengaja sampai ke rumahnya, Selasih juga menceritakan dendam bibinya terhadap Mak dan Abak, sehingga hal itu membuat paman mereka tak menceritakan pada istrinya tentang kedatangan mereka.
Lalu disurat ketiga, Selasih menceritakan bahwa Paman Sabri telah memasukkannya ke sekolah model, Selasih juga mengatakan pada ibunya bahwa tak lama lagi dia akan menjadi orang terkenal. Tapi tidak satu pun dari surat-surat itu dibalas Mak mereka.
Apakah surat itu tidak sampai? Tapi bukankah alamatnya sudah jelas? Memang mereka mengirimkan surat itu ke alamat kantor kepala desa, karena memang rumah-rumah belum ada nomornya. Tapi tak mungkin orang-orang di kantor desa tak memberi tahu Mak akan hal itu. Selasih bingung. Kini dia dan adiknya akan membuat surat keempat.
Tengah asyik menulis tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari depan. Keduanya menoleh. Hanya Paman Sabri yang selalu datang membawa mobil ke rumah ini. Andika melangkah menuju pintu depan. Di luar hujan sangat deras. Andika melihat pamannya turun dari mobil. Buru-buru Andika membuka pintu rumah.
“Kok tumben Paman malam-malam ke sini?” tanya Andika, sambil menutup kembali pintu rumah.
Paman Sabri duduk di sofa, sementara itu, Selasih melipat lembaran kertas surat yang baru saja selesai ditulisnya.
“Paman dengar Sungai Deli meluap, jalan menuju rumah Paman biasanya kena banjir. Daripada terkurung di jalan, lebih baik Paman ke sini.”
“Maksudnya Paman mau tidur di sini?” tanya Andika lagi.
Pamannya tersenyum, “Apa nggak boleh nginap di sini?”
Andika tertawa, “Ini kan rumah Paman, masa tidak boleh. Maksud Dika apa Paman sudah memberitahu Bibi?” begitu Andika selesai bicara, handpone dalam saku celana pamannya berbunyi.
“Hallo…” ujarnya sambil berjalan menjauh dari hadapan Selasih dan Andika.
“Mengapa belum pulang?” terdengar suara dari seberang.
“Ti, di luar hujan sangat deras.”
“Papa-kan pulang naik mobil, bukan jalan kaki.”
“Tapi bagaimana kalau nanti Sungai Deli meluap lagi? Aku bisa terjebak macet di tengah jalan.”
“Jadi mau tidur di restoran lagi? Akhir-akhir ini Papa sudah jarang pulang.”
“Ya, aku tidur di sini. Kamu nggak usah khawatir, ada beberapa orang karyawan yang juga nginap di sini.” Setelah mengecupkan bibirnya ke handpone-nya, lelaki itu mengakhiri pembicaraannya. Kemudian kembali ke ruangan tempat Andika dan selasih sedang berbicara.
“Kalian sedang apa? Mengapa belum pada tidur? Dika, kamu besok sekolah kan?” dia duduk di samping Dika.
“Buat surat, Paman. Kami heran, mengapa Mak tak pernah membalas surat-surat yang kami kirimkan dulu?” usai Selasih berkata, roman wajah pamannya kelihatan sedikit berubah, tapi sayangnya Selasih dan Andika tidak begitu memperhatikan.
“Mana suratnya? Biar besok Paman yang mengantar ke kantor pos.”
“Nggak usah, Paman, biar Asih saja. Kantor pos nggak jauh kok dari Star School.” Selasih menyebutkan tempat dia belajar menjadi model. Dia masih takut mengatakan pada pamannya bahwa sudah hampir seminggu dia tidak masuk.
“Ya sudah. Oh ya, Paman mau tidur dulu. Dika, besok kamu biar Paman yang antar ke sekolah.” Kemudian dia naik ke lantai atas, menuju sebuah kamar yang memang tidak ada yang menempati. Selasih dan Andika menyusul tak lama kemudian.
Malam semakin beranjak, di luar hujan tinggal menyisakan gerimis. Andika yang memang sudah sangat mengantuk langsung pulas begitu tubuhnya rebah di atas kasurnya. Sementara itu Selasih sibuk dengan pikirannya. Sudah seminggu dia tidak masuk, dia takut pamannya tahu sebelum dia sempat memberitahu padanya. Dia masih takut kalau nanti pamannya marah kalau tahu dia mau berhenti, atau malah boleh dibilang sudah berhenti. Jika pamannya marah, akibatnya bisa fatal, bisa-bisa dia dan Andika disuruh pulang.
Sementara itu di kamar sebelah, pamannya rupanya juga belum tidur. Lelaki itu dari tadi asyik mondar-mandir tak tentu arah, kadang-kadang duduk di pinggiran ranjang, lalu berdiri dan mondar-mandir lagi. Asbak rokok di meja di sudut kamar, sudah penuh dengan puntung rokok.
Kekhawatiran jelas tampak dari raut wajah lelaki itu, juga kecemasan. Dari tadi pikirannya dihantui berbagai macam pertanyaan. Apakah Selasih dan adiknya sudah mencurigainya? Tapi sepertinya tidak, kalau memang iya, pasti mereka sudah lari dari rumah ini. Tapi walaupun begitu dia sepertinya harus segera mengakhiri permainan ini. Jangan sampai Selasih nanti benar-benar curiga.
Selasih memang kampungan, tapi dia tahu, gadis itu pintar. Tujuannya memasukkan Selasih ke sekolah model sebenarnya juga bukan agar gadis itu menjadi model, tidak. Hanya agar gaya kekampung-kampungan gadis itu berubah menjadi sedikit lebih berkelas, dan itu akan menambah daya jualnya. Secepatnya dia akan menyudahi semua ini. Lalu lelaki itu beranjak ke tempat tidur.
***
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.



