Belenggu Kasih Sayang (Bagian 3)
Diposting: Kamis, 04 Februari 2010 / 15:14:18 | Oleh: annida | Kategori: Cerbung
Halaman ini diakses sebanyak: 808 kali
Rating: 0
“Tapi saya benar-benar keponakannya.”
Lelaki itu kemudian menyeret Andika keluar. Andika berontak, tak senang diperlakukan demikian. Tapi dia sama sekali tak berdaya, lelaki itu terlalu kuat. Begitu sampai di pagar, lelaki itu mendorong Andika ke jalan dan mengunci pintu pagar, lalu masuk kembali ke dalam.
Dengan penuh kemarahan Andika meninggalkan rumah itu. Siapa lelaki itu? Katanya adik pamannya. Dasar pembohong, bukankah pamannya tak punya adik?
Masih dalam kebingungan, tiba-tiba sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di dekat Andika.
“Dika, mengapa kamu ada di sini?” Andika menoleh, ternyata itu pamannya.
“Dika baru saja dari rumah teman, terus kata mamanya rumah paman di dekat sini. Jadi Dika berniat mampir. Tapi malah diusir. Paman, siapa lelaki itu? Mengapa dia marah-marah dan mengusir Dika?”
Andika melihat muka pamannya tampak terkejut. Lalu pamannya menyuruhnya masuk ke mobil dan melarikan mobil pulang, bukan ke rumah yang tadi. Andika heran, pamannya sepertinya sangat marah, apakah dia tak senang Andika telah mengetahui rumahnya? Lalu kenapa rupanya? Sepanjang perjalanan mereka hanya diam.
Begitu memasuki halaman rumah, Selasih yang sedang duduk-duduk di teras depan tampak kaget. Baru saja pamannya dari sini, kenapa balik lagi? Tapi dia paham begitu melihat Dika turun dari mobil.
“Dika, ngapain kamu ke sana, hah?” tepat sekali apa yang tadi Andika pikirkan. Pamannya pasti akan memarahinya begitu sampai di rumah.
“Ada apa?” Selasih yang kelihatan bingung bertanya. “Apa yang kau lakukan, Dika?”
“Bilang sama adikmu, lain kali jangan sok tahu begini. Sudah berapa kali Paman katakan, jangan pernah datang ke rumah Paman.”
“Tapi, Paman…”
“Sudah, pokoknya jangan diulangi lagi!”
Ketiganya diam.
“Paman, Asih juga heran, kenapa kami tak boleh ke sana?” dengan suara pelan Selasih memecah keheningan. Mengapa pamannya tak pernah mau mengenalkannya dengan keluarganya? Bukankah ini aneh?
Selasih melihat pamannya menghembuskan nafas. Kerut di dahi pamannya menunjukkan kalau pamannya sedang berpikir keras.
“Asih, kalian tidak tahu seperti apa bibimu, kalau dia tahu bahwa paman telah membantu kalian, maka dia pasti akan sangat marah dan murka. Mungkin juga berniat…… membunuh kalian.”
Membunuh? Selasih dan Andika kaget bukan main.
"Tapi dengan alasan apa?" tanya Selasih.
“Itu jugalah yang menyebabkan selama ini Paman tidak pernah mengunjungi kalian di kampung. Kalau Paman melakukannya, keluarga Paman akan hancur. Istri Paman sangat membenci bapak kalian.”
“Tapi kenapa, Paman?”
Kembali pamannya menghembuskan nafas, sepertinya berat untuk mengatakannya.
“Baiklah, Paman akan cerita. Sudah seharusnya kalian mengetahuinya.” Selasih dan Andika memperbaiki posisi duduk mereka. “Dulu bapak dan bibimu berteman dekat saat masih sama-sama di Payakumbuh.”
“Jadi Bibi juga berasal dari Payakumbuh?” Pamannya mengangguk mendengar pertanyaan Selasih. Padahal selama ini Selasih mengira bibinya orang Medan, asli berdarah Batak.
“Mereka sudah sepakat akan mempertahankan hubungan itu selamanya. Tapi entah kenapa, bapakmu malah akhirnya menikah dengan makmu. Bibi kalian lari meninggalkan Payakumbuh, hatinya sakit, sangat kecewa dengan sikap bapakmu.”
“Tapi mengapa Mak tak cerita? Dan mengapa Bibi juga bisa menikah dengan Paman?” Cerita yang sangat membingungkan bagi Selasih.
“Mak dan bapakmu tidak tahu kalau bibimu menyimpan dendam pada mereka. Sebab di hari pernikahan dia tetap datang, mengucapkan selamat, sedikit pun tak ada nada kecewa. Tapi siapa sangka, ternyata setelah dia pergi, barulah dendam itu muncul. Paman tak lama setelah itu merantau ke Medan, mencari kerja. Singkatnya, Paman berkenalan dengan bibi kalian, tapi dia sama sekali tak tahu siapa Paman, begitu juga paman tak tahu siapa dia. Semuanya diketahui saat kami menikah, orang tua kalian datang di hari pernikahan kami. Sejak itulah bibi kalian mengeluarkan ultimatumnya, mulai detik itu Paman tak boleh lagi berhubungan dengan bapak kalian. Kalau Paman melanggar, dia akan minta cerai, dan Paman terpaksa memenuhinya, sebab Paman memang mencintainya.” Di akhir ceritanya Selasih melihat pamannya meneteskan air mata.
Sebuah cerita yang mengharukan. Selasih yakin, pamannya pasti sangat rindu untuk pulang, tapi demi mempertahankan keutuhan rumah tangganya, dia menahan keinginan itu. Selasih yakin, itulah sebabnya pamannya sangat menyayanginya dan Andika, untuk menebus kesalahannya selama ini. Itu jugalah sebabnya pamannya tak mengizinkan mereka ke rumahnya, sebab pamannya takut istrinya akan berbuat yang macam-macam pada mereka. Tapi walau bagaimanapun pintarnya mereka menyimpan semua ini, suatu saat Selasih yakin bibinya akan mengetahui juga. Apa tak sebaiknya masalah ini diselesaikan dengan baik-baik? Apa betul sampai detik ini bibinya masih menyimpan dendam itu?
“Paman, maafkan Dika ya?”
Pamannya mengangguk.
“Paman, nama paman sebenarnya siapa?” Andika berkata lagi.
“Gunawan.” Pamannya menjawab sambil tersenyum.
“Tapi…” Andika dan Selasih saling pandang, mengerutkan dahinya.
“Hanya orang-orang dekat yang memanggil Paman dengan Sabri, itu adalah nama kecil paman, dan itu semua ada ceritanya.” Selasih dan Andika mendengarkan dengan seksama.
“Waktu kecil dulu paman sangat pendiam, bahkan ketika dijahili teman-teman pun paman hanya diam, tidak membalas, tidak marah. Lalu kakek kalian memberi julukan Sabri pada Paman, artinya sabar, dan hanya kerabat dekat yang memanggil paman dengan sebutan itu.
Andika dan Selasih tersenyum, begitu juga dengan pamannya. Seribu tanda tanya itu kini terjawab sudah. Tapi sama sekali tak mereka sadari, ada sesuatu tersirat di balik senyuman paman mereka, sirat kemenangan.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




