Belenggu Kasih Sayang (Bagian 2)
Diposting: Senin, 25 Januari 2010 / 08:02:10 | Oleh: annida | Kategori: Cerbung
Halaman ini diakses sebanyak: 872 kali
Rating: 0
Adzan magrib
menggema begitu Selasih dan Andika turun dari mobil itu.
Rumah
Makan Salero Bundo, Selasih membaca plang besar di hadapannya. Memang
benar, rumah makan itu besar, lebih cocok di sebut restoran memang daripada
rumah makan. Tak hanya itu,
kelihatannya juga mewah, ada tiga tingkat.
“Terima
kasih, Bu,” ujar Selasih pada ibu itu. Anak ibu itu masih memandangnya penuh
arti. Terang saja, dia sangat mengagumi kecantikan gadis itu.
“Oh
ya, ini alamat kami. Kalau nanti butuh bantuan atau sekedar main-main, kami
akan menerima dengan senang hati.”
Selasih
menerima sebuah kartu nama yang disodorkan ibu itu, kemudian ibu itu pergi.
***
Ruangan itu berukuran lima kali enam meter. Begitu masuk, yang pertama kali terlihat adalah sebuah meja yang di atasnya tersusun rapi beberapa buah buku, dua buah telepon berwarna putih dan merah. Di sudut kanan terdapat sofa, tempat menerima tamu. Sebuah dispenser tampak nangkring di sudut ruangan. Sementara itu di dinding belakang sofa, sebuah lukisan jam gadang dengan latar belakang Gunung Singgalang tergantung dengan manisnya.
Di balik meja tadi, di atas sebuah kursi roda empuk, seorang laki-laki berusia sekitar 40-an tampak sedang membolak-balik sebuah album di hadapannya. Lelaki itu berbadan gemuk, memakai kacamata, berkumis tebal dan rambutnya licin mengkilat, disisir rapi ke arah belakang. Lelaki itu memakai kemeja putih lengan panjang, dasi berwarna merah hati juga melilit lehernya, dan sebuah jas yang sewarna dengan warna celananya tergantung di sandaran kursi yang sedang didudukinya.
Sesekali dahinya mengerut, berpikir, tak lama kemudian membalik lagi halaman-halaman album itu, yang ternyata berisi foto-foto wanita muda. Saat itulah telepon yang berwarna putih berdering, tapi sama sekali tak dihiraukannya. Jika telepon putih yang berdering, itu artinya telepon dari para karyawan, jika telepon merah yang berdering, itu berarti telepon dari luar. Telepon putih berdering lagi, dan pada deringan ketiga telepon itu diangkatnya.
“Ya…” suaranya terdengar rendah, kurang bersemangat.
Lalu entah apa yang dikatakan orang di seberang, lelaki itu langsung mengubah posisi duduknya.
“Apa? Dua orang mengaku keponakanku?” Lelaki itu
mengerutkan keningnya. “Coba kamu sebutkan ciri-ciri mereka.”
Dengan
saksama lelaki itu mendengarkan.
“Baik,
segera antarkan mereka ke ruanganku.” Dia meletakkan gagang telepon.
Keponakan?
Keponakan yang mana? Lelaki itu mondar-mandir. Sebenarnya tadi dia sudah mau
menyuruh pelayan yang meneleponnya agar segera mengusir kedua orang itu,
mungkin pengemis yang mau minta-minta, pikirnya. Tapi saat mendengar
karyawannya menyebutkan kata cantik sebagai salah satu ciri orang yang
mencarinya itu, lelaki itu langsung berubah pikiran.
Tok… tok… tok…
“Masuk!” ujarnya. Lalu buru-buru memasukkan album yang sedang terbuka di mejanya ke dalam laci.
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




